-
Kembara
Aku ingin melipat bumi aku ingin bisa membakar cahaya lalu mengenang keberadaannya seperti mendiang ibuku Aku sungguh bingung kenapa setiap orang mau cepat sampai apalagi aku padahal tak ada mana-mana yang dituju inilah tujuan kita detik dan pijakan ini, semua Aku sering takut kepada waktu dia memang kejam dan tidak pandang bulu seandainya bisa kutaklukkan…
-
Langit dan Udara
“Meskipun dunia tidak terlalu peduli, aku masih kepingin menulis buku. Itu janjiku entah kepada siapa. Dan meskipun aku tidak suka dengan pantai, tapi aku percaya bahwa kita semua bakal kembali ke lautan. Sebab, kita semua memang berasal dari sana.” “Tapi kan kamu tidak bisa renang.” “Memang mestinya tenggelam kan.” “Mati dong?” “Apa bedanya mati dan…
-
Mitzi
Kiai Chalid adalah lelaki terpandang. Ia punya pondok pesantren besar—tapi tetap bersahaja. Berbeda dengan lembaga keagamaan lain yang saling berlomba untuk mempermegah bangunan dan segala sesuatunya sehingga ruh kepesantrenannya pun sudah sulit untuk dikenali lagi. Sejak awal memang Kiai Chalid hanya mementingkan kualitas pengajaran ketimbang tetek-bengek lainnya. Bagi beliau, yang penting santri bisa belajar dengan…
-
Diari Anomali
Jadi, Dewi dan Boni berteman. Mereka naik gunung berdua. Sepulang dari naik gunung Dewi berubah. Ia jadi bisa melihat hantu. Bukan cuma itu, Dewi jadi lebih pendiam. Sebelumnya Dewi memang sudah hemat berbicara, tapi kali ini benar-benar hampir tak berucap apapun. Dewi seakan memutus komunikasinya dengan semua orang–kecuali Boni. Kepada Boni, Dewi menceritakan banyak hal…
-
LAHAP
“Bukannya pintar, malah jadi bodoh kau kusekolahkan. Untuk apa kuliah sampai S3 kalau begini ujungnya?” “Justru karena pintarnya aku, makanya begini. Aku tahu terlalu banyak hal, Mak.” “Macam sudah jadi Tuhan saja tahu segala hal.” “Nggak usah bawa-bawa dia lah. Masih lama. Kalau sekarang nggak ada urusan dia sama kita.” “Bijimu nggak ada urusan! Kau…
-
AnTaRa
Engap banget rasanya. Bukannya nggak ada orang di sekitar. Bukannya nggak ada orang yang bisa diajak ngobrol. Rasanya semua kondisi fisik di sekeliling udah nggak ada artinya lagi di hadapan sepi sialan ini. Nggak tahu lagi harus lari ke mana. Dan sialnya memang saat ini justru yang paling dibenci adalah lari. Ngapain sih lari terus?…
-
Jarak dan Waktu
Seandainya kita punya mata elang melihat apa yang di hadapan dengan jernih bersih tanpa tendensi untuk memunculkan apa yang tidak ada atau meniadakan apa yang benar nyata. Seandainya jarakmu tidak sejauh itu dalam genggaman atau bahkan perjalanan lubang hitam saja jadi tampak dekat padahal ia tak tergapai. Seandainya aku tak memerlukan ingatan untuk hidup yang…
-
Ngeh
Hari selasa kemarin aku memaksakan diri datang ke Ilalang meskipun kondisi badan udah nggak fit karena kecapean pas hari seninnya. Hari itu aku bagian piket masak buat anak-anak, dan kebetulan salah satu fasilitator juga lagi gak bisa datang karena sakit. Jadi kalau aku gak masuk juga, kasihan cuma tinggal satu orang nanti yang mesti handle…
-
Arah
Aku nggak tahu aku ada di mana sekarang. Mungkin di Utara. Mungkin di Selatan. Apakah semua bagian diriku ada di satu tempat dan waktu? Hal sesederhana itu saja aku nggak bisa jawab. Atau mungkin itu memang pertanyaan yang sulit. Rasanya nggak pernah sehari pun aku nggak bertanya-tanya: setelah semua ini, ada apa lagi? Apakah selanjutnya…
-
Years
Kayaknya aku semakin kehilangan sense of time deh. Apalagi Ilalang lagi libur. Rasanya tiap hari, tiap menit, tiap detik, hampir nggak ada hal signifikan yang menandakan bahwa waktu sedang bergulir. Apa aku sudah se-nggak berminat itu sama hidup-hidupan ini? Atau memang sedang masanya semua orang merasa demikian? Dan gara-gara parno sama visi bahwa tahun depan…