“Bukannya pintar, malah jadi bodoh kau kusekolahkan. Untuk apa kuliah sampai S3 kalau begini ujungnya?”
“Justru karena pintarnya aku, makanya begini. Aku tahu terlalu banyak hal, Mak.”
“Macam sudah jadi Tuhan saja tahu segala hal.”
“Nggak usah bawa-bawa dia lah. Masih lama. Kalau sekarang nggak ada urusan dia sama kita.”
“Bijimu nggak ada urusan! Kau pikir yang bikin dunia acak-adut ini siapa?”
“Manusia.”
Si Ibu sedikit terperangah. Ada sedikit senyumnya merekah. “Lumayan.”
“Sudah final keputusanku ini, Mak.”
“Omong kosong. Nggak ada apapun yang final di dunia ini, Bujang. Semuanya bergerak. Kau pikir urusan beres setelah kita keluar dari sini?”
“Memangnya kalau ngantri bakal selama itu, Mak?”
“Ya kau pikir aja pakai otak S3 kau itu, berapa banyak utangmu sudah kau buat?”
“Justru itu yang bikin rencanaku ini hebat betul.”
“Cih. Dapat nyontek saja bangga.”
“Well, nothing new under the sun.”
Si Ibu tiba-tiba mendapat panggilan telepon. Ia pun bercakap-cakap melalui ponselnya. Setelah selesai, ia menempeleng kepala si anak.
“Aduh! Apaan sih, Mak?!”
“Apaan. Apaan. Yang di Swedia nih barusan telpon. Lupa kan kau.”
Si Anak terperanjat. “Astaga! Kok bisa kelewat ya aku.”
“Dasar noob.”
“Terus gimana, Mak? Masih bisa nggak?”
“Kusuruh mereka hubungi Lik Tom.”
“Memangnya mau dia?”
“Ya mau lah dia kalau tahu apa kita mau buat.”
“Terus Mak ngasih tahunya gimana?”
Si Ibu geleng-geleng. “Hadeh. Kadang nggak yakin aku kau ini punya gelar doktor. Jangan-jangan ijazah kau dapat nembak.”
“Studiku kan nggak nyambung sama begituan.”
“Alasan. Studi doktoral itu bukan soal bidang kau, tapi udah seberapa jago kau meraba realitas pakai metodologimu sendiri. Masa hal sepele begitu saja perlu kuulangi terus.”
Si Anak tak menjawab dan memasang raut muka cemberut.
“Sudah beres belum punya kau?”
“Begini saja kan?”
Si Ibu terkekeh. “Ya. Bagus itu sudah.”
Si Ibu lalu mengeluarkan sebuah pistol dari dalam jaketnya. Ia menodongkan pistol itu ke kepala anaknya.
“Siap?” Tanya si Ibu pada anaknya.
Si Anak menatap moncong pistol itu, berpikir keras, seperti berusaha mengingat sesuatu.
“Bah! Masih wujud rupanya pistol itu. Kukira sudah nggak ada di mana-mana.”
“Ada lah, kusimpan. Memangnya kau.”
Ditariknya pelatuk pistol itu.
“Aduh! Mak! Kok masih ada isinya?”
Si Ibu tertawa puas. “Kau kira kosong kan?! Hahahahaha. Susah dulu aku dapat isinya. Sampai kolong-kolong lemari kucari. Itu pun cuma dapat satu.”
“Terus ngapain dibawa sekarang? Buat apa?”
Si Ibu terkekeh. “Buat lucu-lucuan aja. Biar polisi tambah kerjaan.”
Kali ini giliran si Anak yang geleng-geleng.
“Ya udah. Clear kan semua?”
“Aku sih udah. Coba kau ingat-ingat lagi yang bagianmu.”
“Udah aku juga.”
“Yakin kau?”
“Yakin, Mak.”
“Jangan asal bilang kau. Tadi aja kalau kelewat yang di Swedia itu, nggak bersih kita.”
“Iya…. Iya… Itu soalnya jarang kupake juga kan mereka itu, makanya kelewat sama aku. Kalau yang lain tiap hari kucek.”
Ibu dan Anak itu saling tatap. Si Ibu nyengir, si Anak balas nyengir juga. Kemudian keduanya berpelukan.
Beberapa menit kemudian, para pejalan kaki di area sebuah pertokoan dikejutkan dengan jatuhnya dua tubuh ke atas kap sebuah mobil. Suara tumbukannya cukup keras untuk terdengar hingga 10 meter. Beberapa orang berteriak tertahan.
Di dua jasad itu, ada kertas karton berisi tulisan. Kertas karton itu diikat pakai tali ke tubuh mereka.
Tulisan pertama: ‘NGGAK SUDI BAYAR UTANG. SEMUA ASET SUDAH KAMI JUAL. MAMAM NIH JASAD RUSAK.’ Di tubuh si Ibu.
Tulisan kedua: ‘WGB BITCH!’ Di tubuh si Anak.
***
“Eh! Lapet…! Lapet…! Typo aku, Mak.”
Tinggalkan komentar