Morgan bukan perempuan biasa. Dia kerja hampir setiap hari. Berjibaku dengan tak kurang dari empat pekerjaan. Siang kerja di kantor iklan. Malam berdagang online di live tiktok. Akhir pekan dia mengajar bimbel. Masih juga ada pekerjaan freelance yang diambilnya secara acak—tetapi cukup sering.
Buat apa, Morgan?
Dalam satu hari tak lebih dari empat jam saja anak ini tidur. Itu pun tidak nyenyak. Dalam mimpinya—bisa ditebak—pasti juga dia sedang bekerja. Benar-benar cara hidup yang brutal, terutama kalau dibandingkan dengan cara hidupku.
Morgan makan sesempatnya. Dengan waktu dan tempat yang serampangan. Roti dan mie instan (cup) sudah jadi barang konsumsi rutin karena sangat praktis dan mudah disimpan.
Apartemen ini punya dapur kecil yang bisa digunakan untuk memasak kecil-kecilan. Tapi hampir tidak pernah dipakai selain untuk merebus mie instan dan menggoreng telur ceplok (tidak pernah telur dadar karena dia tidak ada waktu untuk mengocok telurnya). Setiap sudah turun gaji dari kantor iklan, Morgan membeli tiga kilogram telur dan selalu dihabiskannya dalam waktu satu bulan. Patut dia dipuji karena menjaga asupan protein-nya itu. Tapi perkara lainnya sungguh memprihatinkan.
Rutinitas paginya hampir selalu kacau dan terburu-buru. Tentu saja dia bangun pagi sekali, sekitar jam empat. Langsung dia mandi dan berdandan sebab satu jam berikutnya dia harus sudah berdiri waswas di peron stasiun bersama ratusan penumpang lainnya. Bersiap-siap jadi ikan pepes di dalam KRL Bogor-Jakarta Kota yang penuh sesak.
Pernah satu kali si Morgan, saking terburu-burunya, terlupakanlah dompet dia di kamar. Padahal di dalam dompet itu ada kartu tiket. Morgan kembali dengan wajah suram. Sebab, tertinggal kereta pukul 5 berarti akan terlambat mendapatkan bus trans nomor 6D ke arah Kuningan. Terlambat naik bus berarti akan terjebak macet. Terjebak macet berpotensi terlambat masuk kantor.
Di tengah semua kesibukan itu, Morgan masih sempat menuang makanan kucing. Selalu sempat. Itu step terakhir sebelum dia keluar kamar dan mengunci pintu. Itu perlu diapresiasi tinggi.
Morgan selalu membawa-bawa botol kecil berisi dry food. Di mana dia melihat kucing, di situ dia tabur. Yang ini sebaiknya tidak diapresiasi. Sebab memberi makan stray cat hanya akan menambah masalah pada populasi kucing secara keseluruhan. Makanan enak adalah hak eksklusif kucing peliharaan.
Meski begitu, tubuh Morgan tidak super. Dia sering sakit. Maag—sudah pasti. Demam—rutin. Batuk-batuk. Encok. Migrain. Flu—langganan. Stok obat di lacinya menyaingi stok obat warung kecil. Tapi anak bebal ini terus saja bekerja selama tubuhnya masih bisa digerakkan. Kadang kasihan melihatnya, tapi tidak jarang juga yang timbul malah rasa kesal karena ini orang kenapa ngotot sekali untuk bekerja?
Apa yang kau kejar, Morgan?
Sudah jelas kehidupan cintanya suram. Dulu awal-awal bekerja di ibu kota, pernah Morgan punya pacar. Pernah pula dibawanya pacar itu menginap di apartemen (niatnya begitu). Tak lama mereka putus gara-gara pas mau bercinta si Morgan malah teringat ada deadline satu pekerjaan freelance yang tenggatnya tersisa tinggal 30 menit. Disuruh menunggu 30 menit, cowok biasa-biasa saja yang sudah di puncak nafsu itu merasa kesal dan akhirnya minggat. Padahal dia sudah buka baju dan buka celana. Sungguh makhluk yang tidak sabaran.
Morgan tidak sedih sedikit pun karena bagi dia akan lebih menyakitkan kalau terlambat submit pekerjaan. Itu bisa berpengaruh terhadap reputasi dan profesionalitasnya di dunia freelance yang keras.
Aku menyaksikan semuanya dari tempat favoritku: ujung sofa yang menghadap dapur kecil itu. Dari sana aku bisa melihat Morgan mondar-mandir seperti jarum jam rusak—cepat, gelisah, tidak pernah benar-benar berhenti.
Morgan sering berbicara sendiri. Tepatnya, berbicara kepadaku.
“Doakan aku ya, biar closing banyak malam ini.”
“Temenin aku lembur, ya.”
“Atau jangan-jangan kamu capek lihat aku kerja terus?”
Aku biasanya hanya berkedip lambat. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum. Manusia mudah sekali puas dengan kedipan.
Padahal sebenarnya aku tidak sekadar melihat.
Aku menghitung.
Aku mencatat.
Aku mengamati.
Jam berapa dia tidur. Jam berapa dia bangun. Berapa kali dia batuk dalam satu malam. Seberapa sering dia memijat pelipisnya. Seberapa banyak mie instan yang direbus dalam seminggu. Aku bahkan hafal pola langkahnya ketika sedang stres—lebih cepat, lebih berat, sedikit menyeret kaki kiri.
Morgan mengira dia yang merawatku.
Lucu sekali.
Padahal aku yang memastikan dia tetap hidup.
Kalau dia pulang terlalu malam dan hampir pingsan karena maag, aku sengaja menjatuhkan gelas plastik di meja agar dia terkejut dan sadar. Kalau dia terlalu lama menatap layar sampai lupa waktu, aku berjalan melintasi keyboard-nya. Kalau dia lupa makan, aku mengeong lebih keras dari biasanya—nada minor, sedikit mendesak.
Aku tidak pernah gagal membuatnya berhenti sejenak.
Kecuali akhir-akhir ini.
Tubuh Morgan mulai benar-benar goyah. Suatu malam, setelah live TikTok yang entah ke berapa ratus kali, dia duduk di lantai dapur sambil memegang perutnya. Telur ceplok gosong di wajan. Api kompor masih menyala.
Dia tertawa kecil.
Lalu menangis.
“Aku capek,” katanya lirih. “Tapi belum bisa berhenti.”
Aku melompat turun dari sofa dan mendekat. Menggosokkan kepala ke lengannya. Kulitnya panas. Napasnya pendek.
Dia memelukku. Erat sekali. Terlalu erat.
“Aku cuma punya kamu,” bisiknya.
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadaku—yang kecil, berbulu, dan penuh rahasia—bergetar.
Morgan memang tidak tahu. Tidak ada manusia yang tahu. Sejak awal aku datang ke apartemen ini, aku sudah memilihnya. Bukan sebaliknya. Dia pikir dia yang mengadopsiku dari tempat penampungan. Padahal aku yang menatapnya paling lama hari itu. Aku yang memastikan dia melihatku.
Manusia selalu merasa merekalah yang memilih.
Malam itu, Morgan demam tinggi. Dia tetap memaksa membuka laptop untuk mengirim revisi desain. Tangannya gemetar. Keringat dingin. Layar tampak buram di matanya.
Aku naik ke meja dan duduk tepat di depan layar.
“Minggir dong,” gumamnya lemah.
Aku tidak minggir.
Tangannya mencoba menggeserku, tapi terlalu lemah.
Morgan menghela napas panjang. “Kenapa sih kamu hari ini rese banget…”
Karena kalau aku tidak rese, kau akan tumbang, bodoh.
Dia berdiri hendak mengambil obat di laci. Namun langkahnya goyah. Dunia di sekelilingnya seperti berputar. Tubuhnya oleng.
Dan sebelum dia benar-benar jatuh menghantam lantai—
Aku tahu ini saatnya.
Sudah terlalu lama aku hanya menjadi pengawas bisu. Sudah terlalu lama aku membiarkan manusia keras kepala ini menyiksa dirinya sendiri.
“Morgan.”
Suaraku keluar jelas. Tenang. Sedikit berat. Tidak seperti suara mengeong yang biasa dia dengar.
Morgan membeku.
Perlahan, sangat perlahan, dia menoleh ke arahku.
Matanya membulat.
Aku duduk tegak di atas meja. Ekor melingkar rapi di kaki. Tatapanku lurus ke arahnya.
“Kau harus berhenti bekerja malam ini.”
Hening.
Kompor masih menyala pelan. Kipas angin berderit. Kota di luar jendela tetap sibuk seperti biasa.
Morgan berkedip sekali. Dua kali.
“Ha?”
“Kau demam 38,7 derajat. Lambungmu iritasi. Kau kurang tidur kronis. Jika kau tetap memaksakan diri, dalam dua minggu kau akan kolaps di peron stasiun. Dan kalau itu terjadi aku tidak bisa menolongmu.”
Mulut Morgan terbuka.
Tertutup.
Terbuka lagi.
Aku melompat turun dari meja dan berjalan mendekat dengan anggun, sebagaimana mestinya.
“Matikan kompor. Minum obat. Tidur.”
Morgan menatapku seolah aku baru saja berubah menjadi menteri keuangan yang membacakan APBN.
“Ka… kamu… ngomong?”
“Tentu saja. Sejak lama.”
Wajahnya memucat.
“K-kucing nggak bisa ngomong…”
Aku menghela napas. Sungguh, manusia ini.
“Kucingmu bisa.”
Dia mundur satu langkah.
Dua langkah.
Tangannya meraba udara seperti mencari dinding.
Aku memiringkan kepala. “Morgan, fokus. Dengarkan aku baik-baik. Uang bisa dicari. Reputasi bisa dibangun ulang. Tapi tubuh—”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat bijakku, kedua matanya berputar ke atas.
Dan BRAK.
Morgan tumbang.
Pingsan.
Aku berdiri di samping tubuhnya yang tergeletak di lantai dapur.
Diam.
Menghela napas panjang.
“Manusia memang dramatis,” gumamku pelan.
Lalu aku melangkah ke arah kompor dan, dengan satu gerakan terlatih, menjatuhkan kain lap ke atas kenop agar api padam.
Setelah itu aku kembali ke sisi Morgan, meringkuk di dekat kepalanya.
Tidak apa-apa.
Dia hanya perlu istirahat.
Besok pagi, saat dia bangun dan mengira semua ini hanya mimpi karena kurang tidur, aku akan kembali menjadi kucing biasa.
Setidaknya…
Sampai dia keras kepala lagi.