“Ayah?”
Lazarus menoleh.
“Benarkah tak ada yang abadi di dunia?”
Lazarus berpikir sejenak, lalu menjawab, “Tak ada. Dan tak perlu.”
“Ibu?”
Magenta membuka matanya.
“Untuk apa kita ada di sini?”
Aku ada untuk melahirkanmu ke dunia. Jawab Magenta di alam pikirannya.
“Aku tak mesti lahir dari pembuluh darahmu.”
Memang. Tidak mesti. Tapi juga tidak dilarang.
“Akukah yang memilihmu atau kau yang memilihku, Bu?”
Tidak satupun dari kita yang memilih. Aku tak memilih menjadi ibu bagimu, kau juga tak memilih menjadi anak bagiku. Selalu begitu pada awalnya.
“Bagaimana dengan akhirnya?”
Yang tahu itu hanya kau sendiri dan aku sendiri.
“Jika aku belum tahu, itu tandanya aku belum berakhir?”
Magenta menutup kembali kedua matanya.
Bulan separuh jatuh tenggelam bersama bintang biduk.
Seorang anak menengadahkan tangan, memohon turunnya bulir-bulir hujan.
Lazarus menaruh buku tebalnya di bawah kaca mata baca—yang juga tebal.
“Ada orang bilang bahwa manusia tidak diciptakan untuk bekerja.”
“Bukan hanya itu, Papa. Manusia memang tidak diciptakan.”
“Bagaimana kamu yakin?”
“Aku tidak yakin. Aku tahu.”
“Bagaimana kamu tahu?”
Anak itu menunjukkan buku ensiklopedia yang sedang dibacanya.
“Oh, sudah sampai situ rupanya. Pas banget.”
Bulan naik setengah, lalu menukik tajam seperti bola kasti yang terpantul pada tiang baja.
“Apa hal paling menarik yang kamu pelajari?”
“Aku akan suka sekali kalau nanti sudah mencapai Zarathustra.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku tidak tahu, Papa. Aku hanya yakin.”
“Kamu belum mengantuk?”
“Belum. Bacakan aku sebuah dongeng.”
“Bagaimana kalau nanti malah mengoceh sampai pagi?”
Anak itu menutup bukunya, lalu beranjak meringkuk di pergelangan tangan Lazarus.
“Ini dongeng tentang seorang janin,” Lazarus memulai ceritanya. “Suatu malam, satu buah janin pembaca pikiran membaca pikiran induknya. Bukan hanya pikiran, melainkan seluruh isi otaknya dari ujung ego sampai pangkal jiwanya.”
“Janin itu sungguh pintar dan lebih pintar dari pengandungnya sebab dia belum terpengaruhi oleh dunia luar yang kotor. Tahukah kamu apa yang kotor itu?”
“Kata-kata manusia.”
“Betul. Si Janin tidak sama sekali terkejut mendapati perangkat jiwa induknya dipenuhi dengan kegelisahan yang berkeliaran seperti sekelompok babi lapar. Dia menghitung saja kepada babi-babi itu. Satu. Dua. Delapan belas. Tiga puluh satu.”
“Pada kegelisahan nomor sepuluh, dia melihat seorang pencuri memasuki sebuah rumah. Tetapi, bukannya mencuri, pencuri itu malah meletakkan sebuah barang di sana. Semacam mainan anak-anak tetapi bentuknya seperti mainan orang dewasa. Si empunya rumah menjadi gundah gara-gara mainan itu. Bolehkah aku memainkannya? Bolehkan aku pura-pura tidak memahaminya? Dia terus bertanya-tanya hingga masakan di dapurnya gosong dan rumahnya pun kebakaran.”
“Janin melihat ingatan ibunya yang bahkan ibunya sendiri tidak pernah ingat. Suatu sore di sebuah pantai, ibunya ini memakai jilbab panjang berwarna biru muda, lalu dia menangis. Seekor landak menghampiri si Ibu. ‘Apa masalah Puan?’ Tanya Landak. ‘Saya tidak ada teman.’ Jelas Ibu. ‘Sama saja semua. Puan begitu. Kami juga.’ Tanggap Landak. ‘Saya mencintai seorang laki-laki. Saya kira dia bisa menjadi teman. Ternyata bukan.’ Keluh Ibu. ‘Mengapa demikian, Puan?’ Tanya Trenggiling—baru nimbrung. ‘Sebab dia tetap punya teman, lalu saya tidak. Saya buang karena mereka (teman-teman saya) juga saling membuang teman setelah menikah.’ Ibu berhenti menangis karena hujan tiba-tiba turun dari langit.”
“Itu namanya ingatan masa depan. Apa namanya, ya?”
“Bukannya baru saja kamu sebutkan namanya?”
“Bukan, Pa. Ada istilahnya.”
“Apa?”
“Belum ingat. Belum datang dari masa depan.”
“Nanti juga ingat. Ayo lanjut, ya. Setelah itu Janin mengakses tanggal mati si Ibu. Tidak mengherankan bahwa seorang janin punya akses terhadap informasi begitu. Karena pada dasarnya janin adalah jabatan yang tinggi, walau langsung dilucuti jika status kejaninannya terangkat seiring diangkatnya dia dari rahim.”
“Janin merencanakan akan begini dan begitu terhadap ibunya nanti. Dia memutar-mutar jutaan kemungkinan, setiap detail kecil yang bisa dia kalkulasikan, melahirkan jalur-jalur cerita yang begitu indah. Sayangnya, dia juga tahu bahwa semua itu akan dilupakannya. Andai dia bisa menulis di secarik kertas, mengingatkan bahwasanya jiwa sudah selalu bersabda.”
“Papa, kenapa lelaki tidak sanggup mengandung?”
“Sebab tidak ada perangkat penahan rasa sakit pada lelaki. Satu laki-laki akan langsung mati bahkan sejak bukaan tiga.”
“Oh.”
“Hidup memang sebuah perjudian, pikir mereka bertiga.”
“Siapa saja?”
“Janin, ibunya, dan bapaknya.” Lazarus menyeruput kopinya—padahal sudah dingin. “Tapi janin punya kekuasaan sangat besar atas hampir segalanya—itu sebelum dia lahir. Setelah lahir dan bermanifestasi dalam kurungan rumus Fisika, kekuasaan itu berkurang 99,9juta9ratus9puluh9koma9milyar% sampai nyaris hilang. Bagaimana mungkin orang terhormat yang disegani banyak kalangan menjadi kroco kecil yang dilempar ke tembok saja langsung mati?”
Lazarus mematuk-matuk dinding di sebelahnya.
“Itulah sebabnya semua anak juga menangis tepat setelah keluar dari vagina.”
“Pada dasarnya, menjadi bodoh itu memang tidak nyaman, Papa.”
“Belum tentu begitu selama kamu menjadi satu-satunya orang yang bodoh.”
“Sebagian dari diri kita pasti mau mengakui itu. Sebagian lagi tidak.”
“Itulah kegelisahan nomor tujuh belas.”
“Ternyata aku sudah sangat mengantuk, Papa.”
“Aku juga.”
Lazarus mengedipkan matanya. Seketika dunia gelap. Tersisa warna Magenta yang berpendar bagai mercusuar, memberi tanda bagi semua orang bahwa hidup tidak bisa mati tanpa saling berdampingan.
Tinggalkan komentar