Kak Mischa selalu bilang kepadaku bahwa dia tidak mau jadi orang dewasa. Melihat dua orang tua kami sebagai contoh orang dewasa terdekat, wajar Kak Mischa berpikiran seperti itu.
Ayah tidak lagi bekerja semenjak pensiun. Dia sering marah-marah kalau aku atau Kak Mischa meminta uang untuk jajan atau untuk keperluan sekolah.
Ibu bekerja sebagai buruh cuci, setrika, terkadang juru masak. Ibu lebih baik dari Ayah—hanya menurutku—karena dia yang memberiku dan Kak Mischa uang jajan sekolah. Tapi Ibu juga suka sekali marah-marah kepadaku dan Kak Mischa. Dulu waktu Kak Mischa masih kecil, dia sering dipukul oleh Ibu karena tidak mau disuruh beli minyak goreng, atau karena tak mau mengaji di tempat Pak RW.
“Tapi kalau dewasa ‘kan punya uang.” Sanggahku suatu ketika.
“Kamu nggak lihat Ayah?” Jawab Kak Mischa.
“Ibu punya uang.” Aku masih berusaha menyanggah.
“Aku juga bisa cari kalau cuma segitu. Asal nggak sekolah.”
“Kalau nggak sekolah nanti dimarahin Pak Guru.”
“Ibu juga nggak sekolah, kamu nggak tahu?”
Aku tertegun. Tak pernah kupikirkan soal itu sebelumnya. Kuanggap semua orang dewasa itu pastilah mereka dulunya bersekolah. Bukankah memang begitu aturan dasarnya?
Semakin hari semakin sering kulihat Kak Mischa bolos sekolah. Aku tak kuasa melarangnya. Tidak juga aku bernyali untuk melaporkannya kepada Ibu. Walau bagaimanapun, Kak Mischa adalah sekutu satu-satunya yang kupunya di dunia ini.
Entah ke mana dia pergi kalau bolos. Setiap jam pulang sekolah dia sudah kembali di rumah, jadi Ibu tidak curiga. Setiap pulang dari bolos, Kak Mischa pasti membelikanku jajan. Pernah dia bawa martabak manis kesukaanku, disembunyikannya di dalam tas supaya bisa kami makan berdua saja di dalam kamar, diam-diam. Makanya, bodoh di aku kalau aku melaporkan bolosnya Kak Mischa kepada Ibu.
Namun, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga, selihai-lihai Kak Mischa menyembunyikan kelakuannya, pada akhirnya ketahuan juga. Jumlah bolosnya begitu parah. Ketika bagi rapor dia disemprot habis-habisan oleh Ibu, di depan wali kelasnya, sampai terdengar oleh semua teman-teman kelasnya yang lain.
“Anak setan! Capek-capek gue kerja siang-malem, buat siapa kalau bukan buat elu, hah? Gini balesan lu? Dasar gak tahu diuntung!”
Kejadian itu tentu saja langsung menjadi buah bibir di sekolah, lalu menyebar juga di kampung. Aku sendiri pertama mendengarnya dari teman kelas Kak Mischa. Dia menirukan kata per kata bagaimana Ibu membentak-bentak dan mempermalukan Kak Mischa di depan semua orang.
Pada hari itu Kak Mischa pulang sangat malam. Mungkin hampir tengah malam karena aku sendiri sudah mati-matian menahan kantuk demi menunggu Kak Mischa pulang.
Ekspresi wajahnya ketika masuk rumah adalah marah. Untungnya aku mengerti bahwa amarah itu bukan ditujukannya kepadaku. Meskipun sambil marah, Kak Mischa tetap mengeluarkan sebuah bungkusan. Sate ayam rupanya. Aku yang lapar langsung lupa segala sesuatu dan segera menyikat sate itu.
Selesai makan, sambil aku menjilati bumbu kacang yang tersisa, Kak Mischa bertanya padaku.
“Dek, kamu masih mau sekolah?”
“Hah?” Tak masuk pertanyaan itu di otakku.
“Kakak tanya, kamu masih mau sekolah?”
Aku berusaha sangat keras untuk memahami maksud pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah itu.
Ragu-ragu, aku mengangguk pelan.
“Memangnya buat apa kamu sekolah?”
Astaga, kenapa malah tambah sulit pertanyaannya?
“Biar pinter—kali.”
Bukankah harusnya jelas alasan kita sekolah, ya? Yaitu karena semua orang juga sekolah.
“Emangnya kalau udah pinter, buat apa?”
“Cari duit!” Jawabku cepat. Aku merasa bangga dengan jawabanku sendiri yang kuanggap lumayan cerdas untuk ukuran anak seusiaku.
Kak Mischa nyengir lebar.
“Cari duit itu nggak usah sekolah dan nggak perlu pinter.” Kak Mischa menatapku serius. “Yang penting kamu serius, mau capek, dan tahan malu.” Lanjutnya.
Aku yang tidak mengerti sedikitpun kata-katanya cuma bisa bengong.
“Kalau disuruh milih antara duit atau sekolah, kamu pilih mana?”
Hah? Tolong! Pertanyaan macam apa ini? Otak mungilku tak sanggup mencernanya. Dalam benakku, duit itu satu paket dengan sekolah. Kalau sekolah, dapat duit jajan. Kalau tidak sekolah, tidak dapat duit jajan. Logika sederhana.
“Gini aja deh, kamu lebih pilih Kakak atau Ibu?”
Demi otak Patrick!
Karena tak mampu menjawab pertanyaan itu, aku tidur dengan pikiran yang gelisah.
Pagi hari ketika aku bangun, aku tak melihat Kak Mischa. Aku berpikir dia pasti langsung pergi ke sekolah atau ke manapun tempat dia selalu pergi kalau membolos sekolah. Aku tak banyak pikir karena harus segera mandi dan bersiap-siap pergi sekolah.
Ketika di sekolah pun tak ada hal aneh yang terjadi. Seperti biasa kulalui dengan memikirkan mau jajan apa, nanti mau main ke mana sepulang sekolah, dan tak lupa menebak-nebak nanti malam Kak Mischa akan pulang membawa apa.
Hari berganti malam dan yang tersisa di pikiranku tinggal Kak Mischa. Mungkin dia akan pulang selarut kemarin, pikirku. Maka aku sekuat tenaga menahan kantuk. Bisa jadi semakin malam dia pulang semakin enak jajanan yang dia bawa.
Tapi Kak Mischa tak kunjung pulang. Hingga aku terlelap karena tak kuasa menahan kantuk. Kak Mischa tak juga pulang bahkan ketika pagi hari aku bangun.
Juga keesokan harinya. Dan keesokan malamnya. Dan pagi lagi, malam lagi, dan seterusnya. Kak Mischa tak pulang-pulang.
Perlu waktu satu bulan penuh bagiku untuk memahami bahwa Kak Mischa memang meninggalkan rumah dalam arti yang sesungguhnya. Dia tidak akan kembali untuk tidur, makan, atau mandi. Baru kusadari juga beberapa bajunya tidak ada di dalam lemari.
Ayah dan ibuku sama sekali tidak memberikan penjelasan apapun tentang kepergian Kak Mischa. Aku pernah mendengar mereka bertengkar hebat suatu malam, saking hebatnya hingga aku terbangun dari tidur. Mereka saling menyalahkan atas perginya Kak Mischa.
Pada saat itu aku sungguh kebingungan. Apa yang harus kurasakan atas kepergian Kak Mischa? Apakah aku harus marah juga seperti kedua orang tuaku? Kepada siapa? Kepada Kak Mischa?
Semua kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan penting itu tak pernah sedikit pun mendapatkan penerangan. Sementara hidup terus berlanjut seperti biasanya. Sekolah. Main. Rumah. Sekolah. Main. Rumah. Begitu terus berulang-ulang.
Tanpa terasa—karena memang tak memahami perasaan sendiri—lima tahun berselang dan usiaku sama dengan usia saat Kak Mischa pergi. Di titik paling aneh itulah Kak Mischa tiba-tiba pulang.
Walau badannya sudah sangat berubah karena dihantam pubertas, tentu saja aku tak akan pernah lupa dengan wajahnya.
Ibu menjerit seketika. Sementara Ayah wajahnya pucat bagaikan mayat. Padahal bukan dia yang mati.
Kak Mischa pulang diantar oleh mobil ambulans dan beberapa orang polisi.
Aku senang Kak Mischa akhirnya pulang. Meskipun kali ini dia tak membawa jajanan apa-apa. Yang penting aku bisa melihatnya lagi.
Namun, aku sungguh tak menyangka Kak Mischa sungguh-sungguh ketika bilang tak ingin jadi orang dewasa. Selamat datang kembali, Kak. Mungkin aku juga tak mau jadi orang dewasa. Mungkin aku akan segera menyusulmu ke alam baka.
Tinggalkan komentar