Bapak tahu betul ketika putrinya mulai uring-uringan, itu tanda salah satu barang miliknya mulai rusak atau habis. Biasanya Bapak langsung putar otak untuk mencari uang tambahan. Dalam waktu seminggu, setelah bekerja lebih keras dari biasanya, Bapak akan memberikan uang tambahan itu kepadanya. Tentu tanpa sepengetahuan Ibu. Bisa kena damprat kalau Ibu tahu, pikir Bapak.
Melihat senyum dan mata anaknya yang berbinar, lalu ucapan terima kasih yang meluncur begitu tulus, Bapak selalu merasa lelahnya terbayarkan. Ia tak masalah jika harus melakukan kerja tambahan lagi bulan depan. Atau bahkan minggu depan. Semua pegal-pegal itu terasa sepadan.
Beda dengan Ibu. Sebetulnya Ibu tahu bahwa Bapak diam-diam suka memberi anak mereka uang tambahan. Ibu tidak cemburu apalagi marah, dia hanya khawatir hal itu malah akan berdampak buruk bagi si anak. Ibu berpikir bahwa anak yang dimanja tidak akan bisa hidup mandiri nantinya. Ketergantungan dengan bantuan dari orang lain. Padahal orang tua tak akan selamanya ada.
Ibu ingin, jika anak punya keinginan tambahan, maka dia harus berusaha sendiri. Kerja kecil-kecilan atau usaha (berjualan) kecil-kecilan. Apa saja yang penting baik.
Lalu kapan waktu untuk belajar? Bapak khawatir.
Ya, dia bekerja juga pada hakikatnya adalah bentuk pembelajaran, menurut Ibu.
Bapak lantas menerawang dirinya sendiri yang tidak sekolah sampai tinggi. Dia merasakan betul sulitnya mendapatkan pekerjaan yang lebih laik tanpa ijazah yang lebih baik. Orang tua tak mau kesulitan yang sama menimpa anaknya.
Ibu paham. Bukan berarti dia harus meninggalkan pelajarannya dan menjadi kuli di pasar.
Mana ada perempuan menjadi kuli? Bapak tak habis pikir.
Banyak, kata Ibu. Memangnya cuma lelaki saja yang kerjanya berat? Tukang cuci dan setrika juga kuli. Babysitter juga kuli. Jualan sayur juga. Banyak perempuan mampu bekerja, tapi bukan itu maksud Ibu. Kalau dia, yakni si anak, selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, dia tidak akan mengerti betapa sulitnya hidup ini.
Ya bagus dong. Bapak ketawa. Masa ada orang tua mau anaknya sulit? Di mana-mana orang tua ingin anaknya bahagia.
Salah satu cara untuk hidup bahagia adalah dengan belajar cara menghadapi kesulitan. Itu kuncinya, kata Ibu. Soalnya, lahir ke dunia ini adalah sebuah kesusahpayahan yang niscaya.
Bapak diam sejenak karena betul yang diucapkan Ibu.
Kalau semua inginnya kita turuti, nanti dipikirnya dunia ini akan selalu memberi, jelas Ibu.
Tidak, bukan keinginannya yang Bapak turuti, melainkan kebutuhannya.
Bapak berprinsip, selama itu bukan hal yang berlebihan, maka tidak ada salahnya. Toh, hidup yang mereka jalani pun bukan hidup yang serba ada atau berlebih. Sama sekali tidak dimanja anak mereka sebab tak semua yang dia inginkan dikabulkan. Karena mungkin sejak awal tak banyak juga keinginannya sebab sudah senantiasa mengukur kemampuan orang tua.
Kalau kebutuhan terpenuhi, maka akan lebih baik hidupnya, lebih giat belajarnya, dan lebih menghargai orang tua juga. Sebaliknya, kalau kebutuhan tidak dipenuhi, maka mudah naik amarahnya, tidak fokus, dan memberontak. Betul ‘kan, begitu tabiat anak remaja?
Ibu tidak membantah. Betul juga, ucapnya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana menentukan mana yang kebutuhan, mana yang keinginan. Mana kebutuhan yang perlu didahulukan, mana kebutuhan yang boleh ditangguhkan.
Soal itu dia yang lebih tahu. Jangan kita yang mengatur, kata Bapak.
Putri mereka bukan anak yang gemilang betul. Dia tidak juara kelas, tapi tidak juga buruk nilai-nilai sekolahnya. Dia anak yang sehat dan ceria. Berteman dengan secukupnya orang, dengan dua atau tiga yang dia anggap sahabat paling dekatnya.
Apakah dia punya pacar?
Menurut Ibu tidak. Menurut Bapak mungkin saja punya. Kan dia sudah mulai berdandan.
Perempuan itu berdandan karena suka melakukannya, bukan untuk menarik perhatian lelaki, jelas Ibu. Perempuan suka melihat dirinya cantik.
Itu kan berasal dari naluriah untuk memikat laki-laki, tegas Bapak. Walau tanpa disadari.
Yang perempuan itu Bapak atau Ibu? Kok sok tahu sih jadi lelaki?
Bapak terbungkam. Dia masih yakin dengan anggapannya tetapi tak perlu ia sergah lagi perkataan Ibu karena pernyataan itu memang tak mungkin disangkal.
Kembali ke soal pacar. Menurut Ibu, putri mereka belum tertarik untuk berpacaran sebab tengah banyak sekali kesibukannya. Padat. Tak ada waktu untuk bercanda.
Pacaran kan bukan bercanda, sanggah Bapak. Pacaran itu bisa melatih kita untuk lebih memahami orang lain sekaligus diri sendiri. Pacaran melatih kita untuk menjadi lebih peka.
Itu mah berteman saja, bersahabat, sudah cukup. Tidak perlu pacaran, jelas Ibu.
Beda dong, sanggah Bapak. Orang pacaran punya hubungan emosional yang lebih dalam. Ekspektasi yang lebih tinggi.
Ibu mengangkat bahu. Itu bisa dilakukan kapan saja, tidak perlu buru-buru.
Memang tidak.
Ibu lantas bertanya apakah Bapak setuju kalau anak mereka pacaran.
Setuju, jawab Bapak, cepat. Asal dia bawa ke mari orangnya itu. Pacarnya. Kenalkan.
Ibu terkekeh sedikit.
Apakah Ibu tidak setuju?
Itu terserah anaknya, jelas Ibu. Menurut Ibu anaknya harus bisa menentukan prioritas dalam hidup. Mana yang lebih penting? Belajar atau pacaran?
Tadi katanya belajar bukan cuma belajar, bekerja juga belajar. Ya, ini juga sama, pacaran juga belajar. Bapak berkata sambil mengekeh kecil.
Ibu sedikit sebal karena kata-katanya sendiri dilempar balik.
Tiba-tiba putri mereka datang ke ruang tengah tempat Bapak dan Ibu mengobrol. Dia hendak mengambil toples keripik. Kebetulan sekali, langsung saja Ibu bertanya.
Anak itu menggeleng sebagai jawaban. Dia tidak punya pacar.
Bapak lalu bertanya apakah tidak ada anak cowok di sekolah yang dia suka?
Dia menggeleng lagi. Lalu beranjak sambil membawa toples keripik. Namun, sebelum kembali masuk ke kamarnya, dia berkata, “Aku naksir sama guru sejarahku. Namanya Pak Ruri.”
Pintu kamarnya kembali tertutup.
“Dia sudah punya istri.” Teriak si anak dari dalam kamar.
Bapak dan Ibu saling pandang, tak tahu apa yang mesti dikatakan.
Tinggalkan komentar