Cynthia, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, pernah bertanya kepada ayahnya di suatu sore yang lengang.
“Bapak, apa akan terus menemani saya dan Mama selamanya?”
Ayahnya menatap langit yang berwarna jingga, lalu tersenyum kecil.
“Ya… tapi tidak selamanya, Nak.”
Cynthia mengerutkan kening.
“Jadi jawabannya itu ya atau tidak, Pak?”
Ayahnya tertawa, tidak menjawab.
Tak ada yang menyangka, tujuh tahun kemudian justru Cynthia yang lebih dulu pergi, mendahului ayahnya.
Itu menjadi bahan perbincangan di antara para pelayat. Bukan hanya karena usia Cynthia yang masih belia, tetapi karena satu momen yang sulit dilupakan: Bapak sempat tertawa terbahak-bahak di pemakaman anaknya sendiri—sebelum kemudian menangis sesenggukan sampai suara napasnya tersendat-sendat. Mungkin teringat percakapan tujuh tahun lalu itu.
“Rupanya manusia itu benar-benar sendirian di dunia ini ya, Bu,” ucap Bapak pelan.
Saya menatap langit gelap yang lengang.
“Saya pikir juga begitu, Pak,” jawab saya.
“Lantas, Ibu kenapa masih temani saya?”
“Lho, saya kira Bapak yang selama ini sedang temani saya.”
Bapak tersenyum kecut.
“Gusti Allah sayang sama Cynthia ya, Bu?”
“Gusti Allah kan memang sayang sama semua orang tho, Pak.”
“Termasuk sama bajingan yang bunuh dan perkosa Cynthia itu?”
Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi saya bisa merasakan getir yang mengendap dalam setiap katanya. Dendam itu terasa seperti udara yang menebal di antara kami.
Saya tidak menjawab.
Pembunuh Cynthia sudah ditangkap, diadili, dan kini mendekam di penjara. Ia teman sebaya Cynthia—teman sekolahnya. Di ruang sidang, pemuda itu mengaku semua terjadi “tidak sengaja”. Ia bahkan menolak disebut memperkosa. Katanya, mereka melakukannya suka sama suka.
Kalimat itu membuat Bapak hampir melempar kursi di ruang sidang.
Hakim akhirnya menjatuhkan vonis lima tahun penjara—dipotong separuh dari tuntutan jaksa. Banyak orang tidak terima. Banyak yang menuntut hukuman setimpal. Tapi saya tidak tahu seperti apa hukuman yang setimpal.
Oke, kalau masalah nyawa tinggal ganti nyawa. Hukuman mati jawabannya. Tapi tidak ada hal yang bisa sepadan dengan kejahatan pemerkosaan. Juga tidak ada yang bisa setimpal dengan sakitnya kehilangan.
Bapak tak pernah benar-benar pulih. Bapak tidak legowo, tapi juga tidak tahu harus berbuat apa. Hari-harinya berjalan seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya sendiri.
“Cynthia lagi apa ya, Bu?” tanyanya suatu sore sambil menatap cangkir teh melati di tangannya.
Sejak Cynthia pergi, Bapak berhenti minum kopi dan beralih ke teh melati — minuman kesukaan anaknya.
“Mungkin lagi ngerjain tugas,” jawab saya.
Itu sudah menjadi percakapan yang berulang. Ia bertanya, saya menjawab, dan kami sama-sama berpura-pura bahwa percakapan itu masih masuk akal. Tidak ada yang protes. Kami hanya mencari cara untuk tetap merasa dekat dengan Cynthia—walau dunia sudah menjauhkan kami darinya.
Saya menenangkan diri dengan membereskan kamar Cynthia setiap hari: merapikan sprei, menata ulang meja riasnya, melipat baju sekolahnya yang sudah tak akan pernah dipakai lagi. Sementara Bapak sering saya dapati menangis terisak di atas kasur Cynthia, memeluk baju-baju Cynthia. Saya biarkan saja. Tidak saya tepuk-tepuk punggungnya.
Bukan berarti saya tidak berduka. Saya masih sering ingin menangis tiap kali melihat anak SMA berjalan berseragam putih abu-abu, seperti Cynthia dulu. Maka belakangan, saya sengaja berangkat ke pasar lebih siang, menunggu sampai jam masuk sekolah lewat.
Kadang saya berpikir, mungkin benar kata Bapak: manusia memang sendirian di dunia ini. Tapi mungkin tidak sepenuhnya benar. Mungkin kita hanya bergantian saling menemani sebentar—sampai akhirnya tiba giliran kita untuk pergi duluan, seperti Cynthia.
Dan mungkin, kalau nanti kami bisa bertemu lagi di alam sana, Cynthia akan bertanya lagi seperti dulu.
“Jadi, Bapak, jawabannya itu ya atau tidak?”
Tinggalkan komentar