Lunarisla


BERKAT

Orang-orang yakin bahwa Yuniar dikutuk. Bahkan, ada yang percaya bahwa Yuniar itu sendiri adalah sebuah kutukan. Kelahirannya ke dunia sudah merenggut nyawa satu orang, yaitu sang bunda. Tak lama ayahnya juga menyusul ke alam baka sebab tak kuat menderita rindu pada mendiang istri tercinta. Jadilah Yuniar yatim-piatu sejak belia. Ia dipindah-pindah di antara saudara.

Kenapa orang-orang berpikir bahwa Yuniar dikutuk? Sebab, sepanjang hidupnya yang juga tidak terlalu panjang, sudah tiga kali Yuniar menikah. Tiga-tiganya, tiga pasangan hidupnya, meninggal tak lebih dari setahun setelah menikah dengan Yuniar. 

Pasangan pertamanya meninggal karena penyakit usus buntu enam bulan setelah menikah dengan Yuniar. Dia menikah lagi tiga bulan kemudian, tapi tak lama setelahnya pasangan kedua juga meninggal. Satu tahun kemudian Yuniar menikah untuk yang ketiga kalinya. Banyak orang mengolok-olok Yuniar di pernikahan ketiganya. Tak lain alasannya karena pasangan ketiga Yuniar ini adalah seorang pasien kanker stadium akhir.

“Alah, itu mah mau nganter ke liang kubur,” komentar salah satu saudara. “Sesama pembawa sial,” komentar yang lain.

Pasangan ketiga Yuniar memang akhirnya mati juga, tetapi bukan tersebab kanker, melainkan tertimpa sebuah balok ketika melewati sebuah gedung yang sedang direnovasi. Yuniar tepat berada di sampingnya ketika kejadian. Dia sendiri terkena bongkahan balok itu hingga lecet pelipisnya.

Yuniar tidak kapok membunuh. Begitu pikir orang-orang. Mereka yang berpikiran jahat menganggap Yuniar lah yang menjadi faktor utama meninggalnya semua pasangan itu. Yuniar sendiri sama sekali tidak merasa demikian. Bahkan, Yuniar tidak sedikit pun merasa dirinya itu ditimpa sial.

Yuniar amat berduka, tentu saja. Di semua kematian pasti penuh duka. Siapapun jelas dapat melihat raut wajah Yuniar yang terluka amat dalam. Tetapi wajah itu tidak pernah mencapai titik putus asa. Hanya duka yang penuh dan megah, setelah itu Yuniar kembali seperti biasa.

Dia kembali bekerja. Tetap berbuat baik pada orang-orang baik. Dan, yang terpenting, Yuniar tetap percaya pada cinta.

Tidak sulit menyukai Yuniar. Dia bukan orang jahat. Itu sebetulnya sudah cukup. Yang sulit adalah mendapat restu dari keluarga. Begitu tahu riwayat rumah tangganya, semua sanak famili kompak melarang.

“Kamu mau jadi korban selanjutnya?” Ucap seorang paman.

Dia bukan pembunuh. Hanya terucap dalam hati.

Pernikahan mesti tetap terjadi. Kalau harus mati, biarlah mati. Sudah waktunya. Tidak buruk juga meninggalkan dunia dalam kondisi mencintai dan dicintai.

Yuniar amat bahagia, lebih bahagia dibanding pernikahan-pernikahan sebelumnya. Sebab, ternyata, siapa sangka, rasa cintanya pada pasangan keempat ini telah dia pendam begitu lama. Yuniar selalu gagal ungkapkan karena selalu tidak tepat kondisinya. Dia selalu punya pasangan. Atau, kalau tidak, Yuniar-nya yang sedang punya pasangan.

“Jadi kamu tidak mencintai mereka yang sebelum saya?”

“Tentu saya cinta mereka. Sepenuhnya.”

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu terhadap saya?”

“Itu tetap ada. Tersimpan dalam bentuk kasih sesama manusia.”

“Bisakah seperti itu?”

“Saya buktinya.”

Hidup bersama dijalani dengan begitu renyah. Tidak mempedulikan cibiran sanak saudara dari kedua belah pihak. Biarlah mereka mau bicara apa cuma tambah-tambah dosa mereka sendiri, dongkol mereka sendiri.

Yuniar berpendapat bahwa orang yang mencibirnya sedang punya masalah amat berat dalam hidup, sehingga butuh pelampiasan dengan mengomentari hidup orang lain. Tidak terlintas dalam pikirannya bahwa memang ada orang yang selalu punya pikiran buruk, khususnya pada saudara sendiri.

“Saya tidak percaya di dunia ini ada orang jahat.”

“Kalau tidak ada orang jahat, kenapa ada orang membunuh dan mencuri?”

“Orang membunuh tidak ada yang niat membunuh. Itu karena emosi sesaat. Orang mencuri juga pasti karena butuh. Tidak ada orang yang berniat menjadi jahat sejak awal.”

“Itu kata-kata paling naif yang pernah saya dengar.”

“Sama halnya dengan tidak ada orang merencanakan untuk jatuh cinta. Cinta datang begitu saja. Tiba-tiba kamu jadi segalanya bagi saya.” Ucap Yuniar penuh perasaan.

Begitu juga dengan Yuniar yang menjadi segalanya. Segala-galanya. Genggaman tangan erat seolah tak rela berpisah ketika celah perpisahan disibak selebar pintu surga.

Lalu, pada suatu tengah malam di bulan Jumadil Akhir, Yuniar menghembuskan napasnya yang terakhir. Dalam tidurnya yang tidak malam-malam amat. Bibirnya tersenyum penuh semangat seperti seorang anak kecil yang bertemu kembali dengan ibunya. Mungkin memang dia bertemu dengan ibunya.

Yuniar tampak puas telah hidup dengan sepenuh-penuhnya cinta sepanjang-panjang hayatnya.

Karena cinta adalah berkat.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai