1
“Apa bagusnya kita punya darah, Ma?”
“Supaya ada hubungan—kurasa.”
“Memang kalau tanpa darah tak bisa ada hubungan?”
“Kalau kau mau bahas itu, sebaiknya bereskan dulu pekerjaanmu.”
“Aku tak merasa ada hubungan dengan apapun hal tak berguna ini.”
“Tak berguna menurutmu tapi bisa hasilkan duit.”
“Kita memang butuh duit. Buat beli rokok Mama.”
“Juga buat beli pulsa HP-mu.”
“HP Mama juga.”
“Buat beli sepatu basketmu.”
“Ya.”
“Sebelah situ belum seimbang, coba kau tambah sedikit.”
“Mama dulu belajar dari mana urusan begini? Ada sekolahnya kah?”
“Sekarang ada sekolahnya. Tapi dulu aku belajar sendiri. Lihat-lihat aja sama yang udah lihai.”
“Emangnya banyak yang kerja begini?”
“Buat yang hidup banyak.”
“Lebih gampang mulas yang hidup atau yang mati?”
“Lebih gampang kalau kerjamu nggak banyak omong, Mil.”
“Mahal kah sekolahnya itu, Ma?”
“Mau kau sekolah?”
“Emang bisa kalau lulus SMP doang?”
“Nanti kucarikan paket C.—”
“Kok kayak pulsa ada paket-paketnya?!”
“—Yang penting harus beres nanti. Mahal pastinya.”
“Kayak Mama ada duit aja.”
“Kayak kau mau sekolah aja.”
“Emangnya kalau sekolah, enak hidup kita nanti, Ma?”
“Hidupmu. Bukan hidupku. Hidupku sudah selesai.”
“Ngarang banget. Belum mati kok bilang hidup udah selesai.”
“Mungkin sejak lahir juga nggak pernah hidup aku ini.”
“Nggak paham aku.”
“Nggak perlu juga kau paham. Penting kau pulas yang benar supaya pelanggan puas.”
“Ini orang memangnya mau ketemu siapa mesti kita dandanin?”
“Udah kubilang dandan itu nggak mesti buat orang lain.”
“Ketemu Tuhan kali ya?”
“Mana ada.”
“Mana ada Tuhan—maksud Mama?”
“Mana ada mau ketemu Tuhan mesti dandan? Kau pikir Tuhan juri IMB?”
“Mana tahu…?”
“Udah ngomongnya. Kerja.”
“Ini udah oke belum?”
“Hmmm… ya udah, kasih concealer-nya dulu.”
“Oke.”
“Awas jangan ketebelan.”
“Iya. Ngerti.”
“Nanti juga lihai kalau banyak latihan.”
“Gimana mau banyak latihan, Mama aja jarang ajak aku.”
“Nggak semuanya bisa dan boleh kau lihat.”
“Mama pikir aku bakal takut kalau lihat yang mukanya hancur?”
“Lagakmu itu. Lihat tikus kelindes aja mual.”
“Kalau itu lebih ke jijik sih.”
“Ada juga yang keluarganya pesan supaya cuma aku yang lihat. Bahkan merekanya nggak mau lihat sebelum aku beres.”
“Keren, dong. VVIP Mama ini.”
“Gigi behelmu keren. Itu karena mereka nggak kuat. Terlalu hancur.”
“Tapi sama Mama bisa disulap jadi bad-ass. Kayak karakter jahat di film-film.”
“Biar nggak gentayangan arwahnya. Biar ikhlas.”
“Emangnya betulan percaya Mama sama hantu?”
“Nanti juga kau ngalamin sendiri.”
“Nggak takut Mama?”
“Sama-sama orang. Atau pernah jadi orang. Kalau ngomongin takut, orang hidup juga sama nyereminnya. Lebih-lebih malah.”
“Aku nggak bakal takut sih—kayaknya. Kaget aja mungkin.”
“Memangnya kau betulan mau kerja begini terus?”
“Mama aneh deh pertanyaannya.”
“Mana ada. Jawab aja simpel.”
“Ya, mau-mau aja aku.”
“Kenapa ‘mau’-nya ada dua. Kenapa nggak ‘mau’ doang?”
“Ya udah. Mau. Aku mau.”
“Gampangnya kau jawab.”
“Kalau aku balik pertanyaannya, emang Mama bisa jawab?”
“Nggak cocok kalau buatku pertanyaannya. Udah nggak bisa pilih.”
“Ngarang banget.”
“Blush on-nya yang ini, ya. Awas. Jangan salah.”
“Nggak ada yang salah dengan kerjaan ini. Duitnya lumayan. Kerjanya nggak capek-capek amat. Nggak banyak tuntutan.”
“Memang cuma mulut pemula yang bisa ngomong begitu.”
“Lho, tapi bener kan… ini salah satu kerjaan paling santai di dunia.”
“Kayak pernah keliling dunia aja kau.”
“Mager… ih, mau-maunya jalan-jalan padahal kenikmatan terbesar di dunia adalah rebahan. Iya, kan?”
“Hush! Nggak sopan kau.”
“Apa sih, aku kan cuma nanya.”
“Memangnya kau kalau tiba-tiba diajak ngomong orang asing, mau?”
“Ya, tergantung. Kalau cuma nanya ya… nggak masalah.”
“Jawab terus bisamu.”
“Emangnya Mama selama ini nggak pernah ngajak ngobrol? Sepi banget dong.”
“Di awal aku minta izin. Di akhir aku kasih doa.”
“Nah, cocok. Di tengah kuajak gosip.—”
buk!
“Aduh! Sakit, Mama…”
“Sekali lagi bercanda, kutaruh kau ke dalam peti. Mau?”
“…”
2
“Rokok Mama ganti?”
“Duit kepake buat benarin kulkas kemaren.”
“Kan Mama sendiri yang betulin?”
“Iya, tapi spare part yang rusak kan mesti dibeli.”
“Kalau itu Mama belajar dari mana?”
“Betulin kulkas? Lihat-lihat juga.”
“Kirain Mama sekolah di STM dulunya.”
“Masih ngerti kau istilah STM? Zaman sekarang mana ada orang sebut begitu. Aku dulu sekolah memang SMK, tapi bukan jurusan mesin.”
“Apa dong?”
“Semacam tata boga.”
“Pantas masakan Mama enak parah. Kenapa nggak buka restoran aja?”
“Kau pikir buka restoran modal dengkul?”
“Kurang kalau dengkul doang. Mungkin tambah ginjal.”
“Muncungmu! Lagian udah muak aku sama suasana dapur.”
“Makanya Mama banting setir?”
“Mana ada setir buat dibanting? Mobil aja nggak punya.”
“Ye… ikut-ikutan.”
“Nggak ada istilah itu. Kalau banting setir itu artinya kan aku udah ada tujuan yang kumau. Ini nggak ada.”
“Untung ada aku, ya? Sekarang Mama jadi punya tujuan. Ngasih makan aku.”
“Memang beban kau ini. Dikasih makan bunyi. Nggak dikasih makan, apalagi.”
“Cuma mama beneran yang bisa ngomong gitu sama anaknya. Aku tahu maksud Mama bilang ‘I Love You’… tapi tengsin. Iya, kan…?”
“Berisik, ah!”
“Elah, itu nyengir, kan…? Nyengir, kan…? Udah, nggak usah ditahan-tahan kalau mau senyum.”
“Kulempar kau nanti pakai asbak, ya.”
“Makanya tadi kutanya, apa bagusnya hubungan darah kalau kita tetap harus berusaha sendiri-sendiri untuk nemuin keluarga yang kita mau?”
“Ya kalau nggak hubungan darah, hubungan apa? Kau kan lahir dari rahim ibumu, darah semua itu isinya. Masa mau kau ganti pake oli?”
“Kalau boleh milih, aku pengin lahir dari rahim Mama.”
“Muncungmu ini memang perlu dikasih wipol rupanya.”
“Emang kalau operasi di Thailand gitu tetep nggak bisa jadi ada rahimnya, ya?”
bltak!
“Aduh! Apa sih, Mama, anaknya kok dipukul…”
Tinggalkan komentar