Lunarisla


Ngeh

Hari selasa kemarin aku memaksakan diri datang ke Ilalang meskipun kondisi badan udah nggak fit karena kecapean pas hari seninnya. Hari itu aku bagian piket masak buat anak-anak, dan kebetulan salah satu fasilitator juga lagi gak bisa datang karena sakit. Jadi kalau aku gak masuk juga, kasihan cuma tinggal satu orang nanti yang mesti handle semuanya. Apalagi di sana lagi ada tukang yang mau bikin kolam ikan–dan mereka pasti butuh dimasakin juga.

Walhasil, selesai masak, aku langsung izin pulang karena udah nggak kuat. Punggung sakit banget. Datang ke rumah langsung rebahan. Baru kali ini aku rasain sakit punggung yang segini parah. Tapi mungkin yang lain ada yang lebih parah kali ya.

Tapi pas pulang ke rumah itu aku baru sadar. Di tengah suasana rumah yang sunyi karena nggak ada siapa-siapa, aku baru bener-bener ngerti rasanya kesepian yang harfiah. Biasanya kan merasa sepi di tengah keramaian, atau ngerasa sepi karena ngedekem di kamar wae, nah kali ini bener-bener sepi secara harfiah karena di rumah lagi nggak ada siapa-siapa, dan kondisiku lagi buruk. Agak pengen nangis waktu itu.

Mana laper, tapi nggak ada yang bisa dimakan. Mau beli ke warteg, tapi lagi radang tenggorokan (second issue setelah sakit punggung). Akhirnya aku cuma minum susu dan makan roti yang kubeli di jalan pulang. Setelah itu kupaksain buat tidur, siapa tahu bangun-bangun udah sore.

Meskipun tidurnya cuma 30% tapi lumayan lah, sampe akhirnya datang sore, dan bapak pulang. Aku langsung minta dibuatkan sayur bening.

Selesai makan aku selimutan lagi. Bapak sedikit mijitin kakiku, tapi aku geli, jadi kuminta usap-usap punggung aja sebentar. Sambil begitu, kami ngobrol, dan tahu-tahu aku nyinggung soal nikah.

Kata Bapak, kalau aku punya keinginan yang serius untuk nikah, pasti bakal muncul keinginan yang lebih serius juga untuk cari nafkah. Masalahnya, gimana aku mau serius membayangkan pengin menikah kalau yang bisa dibayangin aja nggak ada.

Buatku, ketemu seseorang, lalu jatuh cinta, dan akhirnya merencanakan untuk menikah bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Menikahnya mungkin direncanakan, tapi ketemunya mestinya nggak. Ya, aku tahu ini bukan cara berpikir yang sepenuhnya benar. Orang yang menikah karena dijodohkan pun, ya nggak masalah. Ini hanya preferensi pribadiku aja. Kalau emang boleh memilih, aku kepingin menikah sama orang yang nggak aku rencanakan bahwa aku bakal suka sama orang itu.

Tapi sebetulnya lebih dari itu aku cuma pengin punya temen deket, dan kalau aku bisa meyakini bahwa menikah adalah salah satu jalan untuk mendapatkan temen semacam itu, mungkin aku bisa lebih serius mengusahakannya. Nggak tahu juga sih usaha semacam apa.

Kenapa nggak temenan sama cowok aja kalau gitu? Masalahnya, nggak ada juga cowok yang mau begitu. Pada akhirnya kan semua temen cowokku juga bakal nikah.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai