Aku nggak tahu aku ada di mana sekarang. Mungkin di Utara. Mungkin di Selatan.
Apakah semua bagian diriku ada di satu tempat dan waktu? Hal sesederhana itu saja aku nggak bisa jawab. Atau mungkin itu memang pertanyaan yang sulit.
Rasanya nggak pernah sehari pun aku nggak bertanya-tanya: setelah semua ini, ada apa lagi? Apakah selanjutnya aku bakal berubah? Ataukah ada situasi yang bikin aku, mau nggak mau, harus berubah?
Rasanya aku bukan orang yang banyak nuntut. Mungkin itulah sebabnya aku nggak mau dituntut. Tapi jadinya macet.
Aku terjebak di dalam persepsiku sendiri bahwa apa yang (tidak) kulakukan sudah cukup. Seharusnya aku melakukan sesuatu. Seharusnya aku berusaha lebih keras lagi. Banting tulang. Banting otak. Kalau perlu banting badan beneran.
Aku tahu hidup nggak ada yang mudah buat siapapun. Paham banget aku. Makanya aku nggak pernah anggap remeh kesulitan orang lain. Tapi mereka tetap berjalan—atau merangkak. Mereka tetap bergerak meski dengan semua kesulitan itu.
Mungkin aku memang goblok karena menyamaratakan antara orang yang punya ambisi demi bertahan hidup (sebab hidupnya sulit) dengan orang yang punya ambisi karena serakah. Keduanya beda jauh, meskipun dari luar sulit buat dibedakan. Lagipula, seharusnya sejak awal aku jangan ngurusin acara hidup orang lain.
Banyak banget hal salah yang kuperbuat. Tapi aku masih aja berharap ditemukan. Oleh siapa? Tanyamu. Mungkin.
Kadang aku merasa bahwa aku sudah menemukan segala-galanya, tapi aku memang cuma mager saja. Dasar sombong dan bodoh.
Tinggalkan komentar