Lunarisla


Kembara

Aku ingin melipat bumi
aku ingin bisa membakar cahaya
lalu mengenang keberadaannya seperti mendiang ibuku

Aku sungguh bingung kenapa setiap orang mau cepat sampai
apalagi aku
padahal tak ada mana-mana yang dituju
inilah tujuan kita
detik dan pijakan ini, semua

Aku sering takut
kepada waktu
dia memang kejam dan tidak pandang bulu
seandainya bisa kutaklukkan
kujadikan dia tetap terhormat
tak kujadikan budak apalagi serdadu

Aku pernah dibohongi
aku kira makna bisa terkelupas pada akhirnya
seperti inti bumi yang jelas batasnya
atau seperti biji kelapa
ternyata tidak begitu
lalu kukira ia seperti bawang merah
kau kupas terus menerus
tak kau dapatkan apa-apa
lalu kau pun mengambil siung lainnya
ternyata tidak begitu juga
lalu seperti apa?
apa dia betul-betul tidak ada?
tidak juga
mutlak ada juga tidak
aneh memang

Aku tidak selalu suka dengan suaraku sendiri
pada banyak kesempatan aku mengkritiknya dengan pedas
anehnya tidak sakit
tapi kalau kata-kata yang sama keluar dari sungut orang lain
kenapa jadi sakit, ya?
begitukah tabiat asli manusia, seandainya ada?

Aku tersandung
bisa jadi oleh batu
bisa jadi labu
atau mayat seorang teman yang tak berhasil kutolong
untungnya tidak banyak
maksudku teman

Aku kadang sedih
tapi tidak setiap saat

Aku sudah jadi lebih dewasa karena luka
sedikit lebih tenang dan tidak buru-buru
lebih cakap dalam mengatur kata-kata
dan yang paling penting soal serba-serbi

rasa

Aku tahu diri
menurut anggapanku begitu
aku tidak mau memaksakan apapun, pada siapapun, untuk alasan apapun
tidak ada hak apalagi kewajiban

hanya potongan kertas tak punya rupa

Aku selalu bermimpi
mungkin ini kutukan, aku tidak tahu
terkadang memang berat rasanya
lelah dan trauma
tapi tak jarang bikin segar juga

Sepertinya aku tidak perlu protes lagi
lagipula, pada siapa?

Iya kan?

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai