Kayaknya aku semakin kehilangan sense of time deh. Apalagi Ilalang lagi libur. Rasanya tiap hari, tiap menit, tiap detik, hampir nggak ada hal signifikan yang menandakan bahwa waktu sedang bergulir. Apa aku sudah se-nggak berminat itu sama hidup-hidupan ini? Atau memang sedang masanya semua orang merasa demikian?
Dan gara-gara parno sama visi bahwa tahun depan bakal edan, aku jadi nggak bisa merencanakan apa-apa untuk setidaknya menautkan apa yang pengin kulakukan hari ini dengan rencana tersebut. Tapi menurut Heidegger memang satu-satunya visi masa depan yang mesti kita antisipasi adalah kematian. Angan-angan, meskipun berguna, tapi pada akhirnya bakal bikin hidup nggak otentik, nggak asli. Apalagi kalau kau hidup dalam lingkup teknokapital which is almost everywhere.
Pada akhirnya, kulihat, mungkin puncak otentisitas yang harus dicapai adalah ketika kita sebagai manusia bisa hidup sendiri tanpa perlu menyendiri sekaligus hidup bersama tanpa perlu bersama-sama. Maksudnya, bisa hidup dengan nggak bergantung sama orang lain meskipun dalam keseharian ya tetap berinteraksi dengan orang lain. Pada banyak kasus kan interaksi bakal berujung pada ketergantungan, yang akhirnya bikin seorang manusia jadi nggak bisa hidup sendiri. Nah, hidup otentik itu adalah ketika kita bisa bebas dari kerangkeng sosial itu tanpa perlu meninggalkan si society. Sebaliknya, ketika keadaan memaksa kita untuk hidup sendiri secara harfiah, kita nggak merasa kesepian. Ketika, misalnya, kita harus bertahan hidup sendiri di hutan atau di gunung, kita nggak cengeng. Gitu kali, ya?
Jadi kalau menurut artikel yang kubaca beberapa minggu lalu, kesepian kronis yang melanda manusia-manusia modern ini, tak lain dan tak bukan, disebabkan oleh keterputusan manusia dari lingkungan sekitarnya yang paling aktual. Contohnya aku, tiap hari scrolling twitter dan nonton drakor. Apa yang kulihat di twitter dan kutonton di drakor itu jauh sekali dari aktualitas hidupku, jauh sekali dari kenyataan fisik di mana badanku berada. Makanya nggak akan pernah nyambung. Makanya uring-uringan terus aku akhir-akhir ini kayak orang nggak pernah bersosial.
Jangan salah. Kita memang perlu melihat dunia luar. Harus itu. Biar nggak kuper dan jadi fanatik. Tapi teknokapital ini, brengseknya, mereka memanfaatkan kebutuhan akan keterbukaan informasi tersebut untuk mendulang profit yang sebesar-besarnya. Makanya kita lihat dunia infotaiment itu yang paling digembar-gemborkan di internet. Jelas banget pengen mencerabut semua orang dari akar kehidupannya yang sebenarnya.
Oh, bagus. Download-an drakorku dah beres nih. Nonton dulu, ah. Udah tanggung. Biar aja kalau ternyata akhirnya aku nggak selamat di even huru-hara nanti. :’)
Tinggalkan komentar