Lunarisla


Mitzi

Kiai Chalid adalah lelaki terpandang. Ia punya pondok pesantren besar—tapi tetap bersahaja. Berbeda dengan lembaga keagamaan lain yang saling berlomba untuk mempermegah bangunan dan segala sesuatunya sehingga ruh kepesantrenannya pun sudah sulit untuk dikenali lagi. Sejak awal memang Kiai Chalid hanya mementingkan kualitas pengajaran ketimbang tetek-bengek lainnya. Bagi beliau, yang penting santri bisa belajar dengan khusyuk dan terarah. Oleh karena itu, di ponpes tersebut modernitas amat sangat dibatasi. Penetrasinya dijaga dengan begitu ketat.

Dari semua itu, hanya satu hal yang sangat disayangkan oleh orang-orang (walaupun Kiai Chalid-nya sendiri tak terlalu menjadikan soal), yakni tak ada penerus. Kiai Chalid tak punya anak laki-laki. Istrinya meninggal beberapa bulan setelah melahirkan anak tunggal mereka yang seorang perempuan. Namanya Mitzi. Nama itu pemberian mendiang sang bunda.

Kiai Chalid tak mau menikah lagi karena merasa tidak ada wanita lain yang bahkan mendekati pesona bundanya Mitzi. Mereka bertemu saat bundanya Mitzi ada program KKN di kampung tempat tinggal Kiai Chalid—ketika itu masih seorang Gus. Langsung ada ketertarikan mutual di antara mereka, Tak lama kemudian mereka pun menikah meskipun ditentang oleh hampir semua orang dari keluarga kedua belah pihak.

Bagi keluarga besar ponpes, bundanya Mitzi tampak terlalu modern dan liberal untuk kultur pesantren mereka yang bersahaja. Ketika KKN saja cuma beliau yang tidak pakai kerudung. Memang sih rambutnya itu cantik sekali, hitam legam seperti batu Obsidian. Tidak banyak orang yang tahu bahwa sepotong aurat itulah yang akhirnya bikin jantung Chalid muda nyut-nyutan ketika pertama kali melihatnya. Tapi bundanya Mitzi termasuk hemat sekali ngomong untuk ukuran orang urban yang bertandang ke desa. Ia sangat sopan dan tidak banyak kasih inovasi ini-itu yang terkesan menggurui orang desa. Kalau saja beliau murah senyum, pasti orang ponpes dan orang desa akan lebih terbuka kepada beliau.

Di sisi lain, bagi keluarga bundanya Mitzi yang punya tradisi pendidikan akademik yang rapi, Chalid muda sejak awal tak masuk kriteria. Jauh sekali. Di era modern ketika semua orang sekolah formal, Chalid satu-satunya anak desa yang tidak. Sejak kecil ia homeschool langsung kepada abah dan ibunya. Kebetulan Bu Nyai itu tamatan Mesir. Di luar ngaji kitab, kegiatan sehari-hari Chalid sejak kecil dipenuhi dengan kegiatan bersosialisasi. Sejak umur 11 tahun sudah bantu-bantu warga di sawah. Mulai usia 15 sudah jadi ketua karang taruna. Dengan kualitas seperti itu, banyak sekali ponpes tetangga yang naksir dan ingin menjodohkan anak puteri mereka dengan Chalid. Penguasaan ilmunya yang sangat mumpuni di usia muda sangat mempesona kalangan ponpes. Tapi hal tersebut tak berlaku pada keluarga besar bundanya Mitzi yang kota.

Pada saat acara seserahan menjelang perkawinan, banyak sekali kecanggungan yang terjadi antara keluarga beda kultur itu. Resepsi dan akad diadakan di kota. Tiga bus besar rombongan besan pria sempat bingung cari lahan parkir di venue pernikahan. Berbagai item yang mereka bawa bikin melongo besan kota, sudah macam sedekah bumi saja. Tapi demi melihat bundanya Mitzi yang terus-menerus tersenyum, setiap orang merasa semua kecanggungan yang terjadi hari itu sangat worth it.

Dua tahun setelah keduanya menikah, Kiai Chalid diberi tongkat estafet kepemimpinan pondok. Tidak ada yang banyak berubah, tapi keinginan untuk punya anak semakin terasa. Pada tahun kelima pernikahan, mereka memutuskan untuk ikut program bayi tabung. Butuh waktu satu tahun untuk meyakinkan Kiai Chalid. Tapi akhirnya program itu memang tokcer. Bayi itu pun lahir dengan selamat meski kehamilannya amat berat bagi sang bunda. Bahkan setelah pesalinan tak pernah pulih seutuhnya.

“Sebaiknya segera diberi nama.” Usul kakek.

“Mitzi.” Bunda menjawab.

“Mitzi?” Kiai Chalid tampak ragu. “Bagaimana kalau Humaira saja?”

“Mitzi.” Bunda tegas.

“Apa artinya?”

“Seperti nama dewa.”

Kiai Chalid dan mertua saling pandang.

“Ya sudah, dua-duanya saja.” Saran Kakek.

Begitulah sejarah namanya. Tidak tahu valid atau tidak, tapi itulah yang diceritakan Mitzi kepadaku, yang saat itu hampir tak berbaju di kamar kostku.

***

Mitzi dan aku juga ketemu waktu KKN, tapi bedanya, kami sama-sama tim KKN dari kampus. Beda fakultas sih. Waktu itu Mitzi jadi koordinator tim dan sering sekali mengajakku ke lapangan bareng untuk melaksanakan program kerja. Tentu saja waktu itu aku tidak sadar bahwa dia sengaja mengatur supaya aku selalu sama dia dalam grup apapun.

Mitzi banyak bercerita dan aku banyak mendengarkan. Tidak perlu waktu lama untuk aku sadar perasaannya dan perasaanku sendiri. Di belakang panggung acara perpisahan KKN, Mitzi ngajak aku ciuman. Dia bilang itu pertama kali buat dia. Hahaha. Entah aku bisa percaya atau tidak, sebab ciumannya tidak terasa seperti orang amatir.

Mitzi cerita panjang lebar tentang keluarganya di tahun kedua kami kenal—atau tahun terakhir masa kuliah. Selama dua tahun itu kami cuma ciuman saja, tidak lebih. Aku bahkan tidak berani meraba sembarang tempat. Cuma tangannya saja kupegang kalau sedang ciuman. Entah mengapa aku segan luar biasa. Dengan pacarku sebelumnya tidak pernah begini.

Makanya ketika Mitzi dengan gamblang bilang dia mau having sex, persaanku aneh, campur aduk. Antara pengen, ya jelas lah, laki mana yang tidak pengen. Tapi ada juga rasa deg-degan macam aku saja yang mau diperawani.

Nah, setelah dia cerita background keluarganya yang ternyata sebuah ponpes itu, takutlah aku jadinya. Bahkan perasaan takut ini lebih mendominasi ketimbang horny-nya.

Mitzi cuma nyengir waktu kucerita bahwa aku takut. Tidak jadi dia buka BH-nya. Akhirnya kami cuma merokok, dan aku jadi terpaksa cerita background hidupku juga. Baru kali itu aku yang jadi penutur, dan Mitzi telaten mendengarkan.

Meskipun tidak seelit keluarga Mitzi, keluargaku juga sebetulnya lumayan taat beragama. Aku saja masih perjaka sampai SMA. Baru pas kuliah di kota besar burungku akhirnya lulus dari keperjakaannya. Pacar pertamaku waktu itu seorang kakak tingkat jauh yang sudah lebih berpengalaman. Setelah pengalaman pertama itu, aku nyesalnya satu minggu. Tapi ketagihannya tiga bulan. Kami putus setelah dia lulus.

Pacar keduaku teman seangkatan. Aku tidak nyangka waktu itu dia masih perawan, jadi aku kaget juga. Tapi karena dia sayang sekali sama aku, katanya tidak masalah. Ngomongnya begitu, tapi pas kami putus, dia bawa-bawa juga masalah itu. Dia bilang aku tak tahu adat, tak tahu terima kasih, ya pokoknya bejat aku itu. Padahal kan kami consensual.

Pacarku ketiga adik tingkat. Orangnya santun sekali, lemah lembut, dan sangat keibuan di usianya yang segitu. Tidak ada rencana untuk begituan awalnya. Semua serba tidak sengaja (hahaha, bacot banget). Aku sebenarnya tidak tega, tapi karena horny sudah di ubun-ubun, dan dia tipeku sekali, jebol juga pertahananku. Dan tak ada yang lebih kusesali di hidupku setelah itu. Jantungku rasanya mau berhenti pas dia nangis perawannya kupecahkan. Agak menjerit juga dia pas kejadian. Jadi nangisnya itu antara nyesal dan sakit, atau gabungan keduanya. Kami tidak lanjut. Dia langsung berbaju dan minggat dari kostku. Komunikasi putus semua. Sampai sekarang aku tidak sempat minta maaf atau apapun sama dia.

“Ya percuma juga aku minta maaf memangnya bakal mengembalikan perawannya dia?”

“Jadi karena itu kamu trauma?”

“Memangnya kamu nggak punya pikiran kayak gitu?”

“Kayak apa?”

“Ya… itu. Bahwa perawan itu penting.”

“Jadi kalau aku dah nggak perawan, kamu bakal gas tadi?”

Aku tak bisa menjawab. Mitzi menghembuskan asap rokoknya ke mukaku.

“Apa perlu aku sendiri yang sobek perawanku? Nih pakai pinsil ini juga bisa kayaknya.”

Mitzi mengacungkan sebuah pensil yang belum diserut. Aku cuma bisa geleng-geleng. Bukan geleng-geleng melarang, tapi geleng-geleng orang lagi takjub. Makin segan saja rasanya.

***

Setelah pecobaan coitus yang gagal itu, Mitzi belum pernah usul untuk mencoba lagi. Tapi, mungkin sebab aku seorang lelaki, dan lelaki mana yang tidak sami’na wa ato’na sama pesona seperti Mitzi, sejak saat itu perkembangan kami sudah jauh dari first base. Pokoknya semua selain coitus.

Pada suatu malam, tidak seperti biasanya, kami tidak langsung ciuman setibanya di kamar kostku. Mitzi cuma duduk di atas kasur dan memandangi sekeliling kamarku dengan saksama.

“Kalau interview kali ini dapet, kamu bakal ambil?” Tanya Mitzi sambil tetap menjelajahi setiap sudut kamar kostku.

Aku tahu arah pertanyaan itu. Jadi kukembalikan saja bola panasnya.

“Menurutmu gimana?”

“Ambil aja.”

“Terus?”

“Terus apa?”

Apa anak ini cuma basa-basi?

“Kamu sendiri gimana?”

Aku tahu Mitzi sudah apply ke beberapa NGO.

“Kamu mau nikahnya sama aku nggak?” Kali ini matanya menatap ke mataku.

Untuk beberapa saat, aku merasa agak linglung. Meskipun tahu ujungnya bakal bahas soal ini, tapi aku tidak nyangka Mitzi bakal menodongkan langsung secara blak-blakan. Agak gelagapan aku menjawab.

“Y-y-ya mau…”

“Kok begitu jawabnya?”

“Begitu gimana?”

“Kayak nggak ikhlas.”

“Keikhlasan nggak bisa dibuktikan. Dan memang nggak perlu.”

“Jadi, apa alasan kamu mau nikah sama aku?”

“Ya mau aja. Apa alasan kamu mau nikah sama aku?”

“Ya sama.”

Saat itu kami sudah duduk rapat dan saling berpandangan sangat lekat. Wajah kami mendekat dan adegan selanjutnya sudah bisa ditebak. Yang tak kutebak adalah sampai sejauh mana pergumulan kali itu akan terjadi. Dalam lima menit kami langsung sampai third base. Biasanya akan usai setelah aku orgasme via keterampilan tangan Mitzi. Usai di sini artinya tak ada risiko untuk mencapai tahap selanjutnya ketika burungku sudah lemas.

Namun kali ini berbeda. Tangan Mitzi tak kebawah, tapi malah fokus membimbing tanganku supaya kerja. Alhasil, dia sampai duluan dan aku masih di tengah jalan. Ketika memulai scene selanjutnya, kami sudah saling tindih di atas kasurku, Semua terjadi begitu cepat, hampir terbu-buru. Tanpa kusadari celanaku sudah copot. Tanpa kupahami, Mitzi sudah bugil. Ketika momen itu hendak terjadi, pada detik-detik menjelang penetrasi, ciuman panas kami terhenti sejenak untuk saling menyelami mata satu sama lain.

Inikah saat yang tepat? Inikah pilihan paling cermat? Toh, aku mau menikahinya juga kan, jadi apa boleh buat?

Jantungku bertabuh bak bedug saat kurasakan saraf di bawah sana mengirim sinyal bertubi-tubi. Ini luar biasa. Aku sendiri heran. Padahal ini bukan kali pertamaku, tapi kok semenegangkan ini?

Rupanya alam bawah sadarku yang menyetel atmosfer dag-dig-dug abnormal ini. Meskipun aku sedang tenggelam di dalam Mitzi, tapi alam bawah sadarku tetap peka merasakan mara bahaya. Sayangnya, saat itu aku terlalu jatuh cinta (baca: birahi) untuk menanggapi peringatan yang sebetulnya sudah menyala sejak beberapa hari sebelumnya.

Dug! Dug! Dug!

Pintu kamarku digedor. Kencang sekali. Langsung terasa bahwa si penggedor tidak datang dengan niat beramah-tamah.

Brug! Brug! Brug!

Aku yakin. tiga kali lagi gedoran seperti itu, pintu kamarku pasti ambruk.

“HUMAIRA!”

Mati aku.

“HUMAIRA!” “

Mitzi pun tampak pucat dan kaku.

“HUMAIRA! BUKA!”

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai