-
KALA #3
Aku tidak pernah ada nafsu birahi sama Kala. Dan aku cukup yakin Kala juga begitu. Tapi sepertinya kami pernah ciuman. Waktu SMA, aku pernah berduaan dengan Kala di rumahku selama seminggu penuh. Tidak terjadi apa-apa. Kalau naik gunung, kami selalu satu tenda. Tidak sedikit pun ada getaran yang bikin perutku geli atau semacamnya. Kami juga…
-
Gerbang
Hidup seperti apa yang kau inginkan? Aku inginkan hidup yang berdarah, yang berdaging, dan bertulang. Aku inginkan hidup yang mendepak tanah, mengais air dan udara. Aku inginkan hidup yang tak terhalang jumlah, tak terhitung waktu, dan tidak kaku. Aku ingin hidup yang dibatasi oleh kematian. (Astaga, orang sok keren.) Nama? Itu pertanyaan bodoh. Tempat tinggal?…
-
autobiografie
“Papa, kenapa kita harus berbuat baik kepada orang lain?” Tanya Melanie kepada papanya.“Tidak juga. Berbuat baiklah hanya jika kamu mau. Bukan karena harus. Nggak ada yang harus di dunia ini.”“Tapi kalau orang-orang tidak berbuat baik, dunia ini akan hancur.”“So, be it.” Jawab Papa.“Buktinya, sampai saat ini dunia tidak hancur, ‘kan? Tapi kalau memang mesti hancur,…
-
When the Eart Got Swallowed by the Sun
I think I still haven’t found my ground on how to respond when I see people around me get sick. It’s sad—obviously. But, what should I do? It’s still quite traumatising after all this time. The sheer powerlessness is just so engulfing. Turns out nothing can guarantee that it’s gonna get better. Not even money—which…
-
Waktu Bangun
Tenda masih terpasang. Kursi-kursi tamu sebagian besar sudah ditumpuk. Beberapa masih dipakai duduk oleh orang perlengkapan. Singgasana pengantin belum berpindah posisi, di atasnya bertumpuk kado berbagai ukuran. Beberapa orang tengah mengangkut kado-kado itu dari sana, menuju ke dalam rumah. Sound system sudah dimatikan. Ada banyak kejadian pada hari itu. Ada banyak pertemuan. Obrolan. Candaan. Temu…
-
Pasir Karamat
“Pak Dokter kenapa?!” Aku terperanjat. Seketika terbangun dari lamunanku. Di hadapanku, seorang ibu muda dan anak perempuannya tengah memandangi wajahku. Aku segera tersenyum, bukan karena ingin, tapi sudah prosedur. “Tadi adeknya kenapa, Bu?” “Ini anak saya, Pak Dokter.” “Ah, iya. Maksud saya anaknya. Anak Ibu. Tadi keluhannya bagaimana?” Ibu dan anak saling pandang. “Tadi kata…
-
The Infinite Case Against Melgy Malean
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan. Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman…
-
Catatan Aria
Aria pikir ada banyak hal indah di dunia ini. Contohnya langit biru, kupu-kupu, boneka salju, atau rasa rindu. Cuma, pikiran manusia yang ruwet kadang (sebetulnya sering) tidak bisa melihat atau merasakan keindahan-keindahan itu. Padahal, ironisnya, pikiran manusia itu terbuat dari benda-benda indah yang disebut neuron. Itu kata Sukma. Teman Aria yang pintar. Nanti kita bicarakan…
-
Rumah Besar
Yansen tinggal menumpang di rumah pamannya. Semenjak peristiwa kebakaran yang menghanguskan rumah orang tuanya, berikut orang tuanya, Yansen jadi tak punya ayah-bunda. Ingin ia menganggap paman-bibinya sebagai ayah-bunda, tapi sepertinya mereka akan keberatan. Tampak jelas mereka keberatan. “Anggap saja kami berdua ini orang tuamu.” Meskipun begitu ucap pamannya, Yansen ada pada usia yang memaksanya untuk…
-
Pualam
Zarga suka sekali mengoleksi batu. Tapi dia tak kunjung pandai soal batu-batuan. Sudah lama sekali. Mungkin karena tidak ada yang sempat mengajarinya. Atau bisa jadi Zarga memang bodoh saja—perihal batu. Menjadi bodoh akan sesuatu tentu bukan hal yang buruk. Sebagaimana, sama saja, pandai dalam suatu hal belum tentu baik juga. Bodoh dan pandai hanya predikat.…