-
Ruah
“Kenapa kamu tidak segera berkunjung ke makam Ibu?” Lukman bertanya datar kepadaku. Sorot matanya yang memburuku, menelisik. “Sudah tahu kamu cuma sebentar di sini.” Aku masih berusaha menghindar. “Tam!” Lukman kali ini memegang pergelangan tanganku. Terpaksa, aku, otomatis menoleh kepadanya, dan mata kami bertemu. “Aku tidak tahu. Aku belum bisa menerimanya.” “Bahwa Ibu sudah mati?”…
-
Cinta Perempuan Muda
Akhir-akhir ini gue sering sekali menginap di rumah Fadil. Mungkin secara fasilitas lebih oke apartemen gue. Tapi kan kita hidup berdampingan sama manusia. Bukan sama kulkas. Apalagi mesin cuci. Dan gue juga tahu diri kok. Tiap menginap di sana, gue pasti bawain sesuatu buat orang rumah. Apa aja. Martabak kek. Mie ayam. Pizza. Atau sekadar…
-
Wasiat
Fumi punya rutinitas yang sedikit aneh dengan ibunya. Bukan aneh dalam arti yang buruk. Tapi bukan dalam arti baik juga. Aneh saja. Saban sore menjelang matahari terbenam, sembari menonton burung-burung yang bergerombol pulang, keduanya selalu ngobrol soal apa saja yang terlintas di kepala mereka. “Fumi. Pernah kamu iri sama burung?” “Nggak. Karena mereka bisa terbang?”…
-
Cangkang
“Bong, menurut kamu mungkin nggak aku jadi gila?” “Mungkin.” “Kok malah kamu iyain sih?” “Ya, karena memang mungkin. Soalnya otakmu memang sering overheat. Calon-calon sinting itu.” “Terus, supaya nggak gila gimana caranya ya?” “Berenang.” “Kok berenang?” “Panas ya harus dibikin dingin. Gitu aja nggak tahu.” “Tapi aku kan nggak bisa berenang, Bong.” “Yang penting badanmu…
-
Nostalgia Satu Arah
1 Wawan sejak awal tidak suka masuk karang taruna. Baginya semua kegiatan bersosialisasi adalah buang-buang waktu. Namun, ibunya mengancam tidak akan memberikan uang jajan jika Wawan tak ikut karang taruna. Setidaknya dia harus setor muka seminggu sekali. Demikian usaha ibunya untuk mengubah tabiat Wawan yang penyendiri sejak SMP. Tak pernah main. Selalu mengurung diri di…
-
Cherry Blossom
Ningsih dan Rukyat mengobrol di bawah pohon ceri, selepas sembahyang Maghrib dan mengaji di surau. “Yat, menurut kamu perlu nggak saya nikah dengan Mas Ebi?” “Kok kamu tanya saya, Sih?” “Nggak apa-apa. Saya pengen minta pendapat kamu aja.” “Mungkin perlu. Tapi bukan demi kamu. Demi keluarga kamu.” Ningsih mengangguk-angguk kecil. “Sebetulnya kamu sudah tahu pendapat…
-
Menunggu Kali
Suatu sore aku terbangun dari tidur yang amat panjang. Nafasku mendengus. Kepalaku seperti dihimpit godam. Lalu, seperti juga, ada bendungan air yang hendak tumpah dari mataku. Luapan rasa engap yang menanjak landai. Bertolak dari pucuk jantungku. “Okh!” Setengah berseru. Setengah berbatuk. Seperti ada dahak—atau bisa jadi gumpalan darah—yang hendak keluar dari tenggorokanku. Aku belum bisa…
-
LUMBUNG HITAM
Bu. Bukan aku tidak bisa melihat harapan. Bukan salahku. Juga bukan salahmu. Hanya saja dunia ini terlalu pekat untuk mampu kulalui. Pengap dan mampat. Engkau pasti mengerti. Aku mulai tidak percaya, Bu. Ini bukan hal yang bagus bagi manusia. Sayangnya aku masih manusia. Hatiku sakit membayangkanmu. Tapi lebih perih rasanya mengingat hidupku tanpamu. Akankah kau…
-
AMBIVALENSI KATA-KATA
Ada buruknya juga belajar Biologi. Kau jadi memikirkan konteks evolusi dari segala sesuatu. Aku suka meyakini bahwa bahasa adalah sebentuk keajaiban. Aku suka menganggap kata-kata sebagai mantra. Semuanya jadi mentah belaka di hadapan konteks evolusi. Bahasa tidak lebih dari cara manusia untuk beradaptasi lebih canggih pada alam–meski sebetulnya bisa diperdebatkan juga sih, adaptasi macam apa…
-
Dalam Sekam
●Rusdi, menurutmu kita akan hidup selamanya?○Aku dan kamu?●Dan seluruh umat manusia.○Untuk apa?●Untuk menghukum semua dosa-dosa kita.○Memangnya kita memilih untuk berdosa?●Aku tidak tahu. Menurutmu bagaimana?○Menurutku usia manusia memang terlalu pendek sih.●Memangnya kenapa?○Kita terlahir bodoh. Mati pun masih bodoh. Orang bodoh mana bisa memilih sesuatu. ●Memangnya memilih itu apa sih?○Aku juga tidak tahu. Rasa-rasanya, segala sesuatu yang…