Aku tidak pernah ada nafsu birahi sama Kala. Dan aku cukup yakin Kala juga begitu. Tapi sepertinya kami pernah ciuman.
Waktu SMA, aku pernah berduaan dengan Kala di rumahku selama seminggu penuh. Tidak terjadi apa-apa. Kalau naik gunung, kami selalu satu tenda. Tidak sedikit pun ada getaran yang bikin perutku geli atau semacamnya. Kami juga pernah satu kamar hotel waktu aku menemaninya mengambil data penelitian di luar pulau. Aku berpakaian santai, hanya celana pendek dan kaos oblong. Kala adalah satu-satunya laki-laki, di hadapannya, aku bahkan tak takut bertelanjang bulat. Bukan berarti aku pernah telanjang di depannya juga. Maksudku, saking percayanya aku kepada Kala, dan juga kepada diriku sendiri, bahkan kalau karena suatu kondisi terpaksa kami berdua sama-sama telanjang pun, bisa kupastikan tidak akan terjadi hubungan seks.
Kala adalah orang yang menenangkanku ketika aku pertama mengalami menstruasi. Tumbuh tanpa sosok seorang ibu, aku praktis tidak punya tempat bertumpu dalam urusan khusus perempuan. Beruntung Kala adalah seorang kutu buku yang sudah mempelajari biologi jauh di atas level pelajaran sekolah.
Aku termasuk orang yang cukup suka kontak fisik dengan orang yang kusayang. Salah satu yang paling dekat denganku adalah adikku sendiri, kami sering pelukan sambil menonton film. Satu lagi adalah Kala. Meskipun Kala sering tidak suka kalau kupeluk-peluk tapi akhirnya dia capek sendiri melarangku.
Makanya tidak heran banyak orang berpikir kami pacaran.
Aku otomatis berhenti merecoki Kala ketika aku punya pacar. Alasannya karena aku tak enak pada pacar itu. Tapi kalau baru diputuskan, aku menangis dipeluk Kala dari isya sampai sepertiga malam.
Kala bukan cowok jelek. Dia hanya tidak perawatan saja—tapi cowok mana sih yang perawatan, hampir tak ada. Tanpa perawatan pun dia memikat banyak cewek karena pembawaannya yang mereka anggap misterius itu. Aku membayangkan bagaimana reaksi mereka kalau misal Kala berubah jadi semakin kinclong. Pasti aku yang kena getah.
Dulu waktu kelas 2 SD, aku dan Kala pernah menonton sebuah kartun yang tayang jam 11 malam. Harusnya kami curiga sebab kartun macam apa yang tayang selarut itu. Tapi namanya juga anak-anak, kami masih polos—bodoh.
Awalnya biasa saja. Kartun itu bercerita tentang sekelompok anak TK yang sedang bermain di rumah salah seorang teman. Lalu di tengah-tengah, anak-anak itu menonton kartun (kartun di dalam kartun) yang bercerita tentang seekor hamster yang bisa bicara. Hamster ini ceritanya suka kepada majikannya yang seorang manusia.
Singkat cerita, lewat omongan, si hamster cabul ini selalu membayangkan bermesra-mesraan dengan majikannya. Pelukan. Pegangan tangan. Lalu ciuman. Anak-anak itu kemudian berbicara di antara mereka sendiri, menginterogasi satu per satu, apakah ada di antara mereka yang pernah ciuman. Seorang anak mengangkat tangan.
Bagaimana rasanya? Tanya anak lain.
Seperti makan es krim hangat, jawabnya.
Lalu semua anak lain heboh. Dan layar kembali menunjukkan cerita si hamster. Tiba-tiba muncul cuplikan-cuplikan hewan berciuman, diiringi sebuah musik latar yang didominasi suara sax. Kura-kura, jerapah, ikan mas, dan tentu saja hamster. Tapi pada bagian hamster, satu hamster tahu-tahu berubah menjadi manusia, yakni si majikan. Lalu si hamster cabul pun ikut berubah jadi manusia. Dan kini di layar terpampang tayangan kartun dua manusia kartun sedang berciuman (versi kartun).
“Jorok, ya.” Komentarku.
Kala tak merespon.
Jorok yang kumaksud pada saat itu bukan cabul atau tidak senonoh, di usia itu aku sama sekali tidak mengerti. Jorok yang kumaksud adalah menjijikkan. Seperti sampah basah.
Tapi keenggananku, pada malam itu, dipukul telak oleh rasa penasaran. Aku tak menyangka bahkan hewan mungil dan lucu seperti hamster punya keinginan semacam itu. Otak kecilku (maksudku ukurannya) pada saat itu menganggap kartun sebagai salah satu sumber pengetahuan yang valid.
Ketika tayangan iklan, aku menoleh ke arah Kala yang tetap fokus menatap lacar kaya. Apa yang ada di pikirannya, aku tak tahu. Lebih tepatnya, aku tak peduli.
Aku ingin mencoba ciuman dan Kala satu-satunya kelinci (atau hamster) percobaan yang ada pada saat itu. Aku tak khawatir dia akan marah sebab dia tak pernah marah kepadaku.
Maka tanpa ragu kupegang pipi si Kala, kuarahkan wajahnya supaya menghadapku, lalu kucium bibirnya, kurang dari dua detik kutarik lagi.
“Kok asin sih?!” Protesku.
Kala bergeming. Dia tak merespon apa-apa. Kurasa memang tak ada yang terjadi pada benaknya kala itu.
Setelah kuamati lamat-lamat, baru kusadari ada secuil lapisan tipis ingus di bagian atas bibir Kala.
Kami tak pernah membahas itu dan aku percaya Kala bahkan tidak mengingatnya.
Seiring bertambah usia, aku menyadari bahwa kami berbeda. Aku perempuan. Kala laki-laki. Tak ada kebingungan yang terjadi. Tapi kami juga tak ada perubahan yang berarti.
Sampai kelas 6 SD, kami masih biasa tidur bareng, satu kasur, satu selimut. Bukan rasa malu atau risih yang kemudian membuat kami tidak lagi tidur seranjang, melainkan ukuran kasurnya sudah tidak muat. Badan kami yang bertambah tinggi.
Saat pubertas datang menerjang, tentu saja ada penyesuaian besar—khususnya dari sisiku. Penyesuaian itu bukan berasal dari dinamika hubungan kami, tapi muncul sebagai semacam common sense saja.
Setelah pubertas, aku tak pernah lagi ganti baju di depan Kala—atau di depan siapapun. Setelah pubertas, aku tak pernah lagi keluar kamar hanya pakai kaus dalam—karena memang sudah tak lagi kugunakan. Rasa malu yang muncul pada diriku tidak hanya kurasakan terhadap Kala, tapi ini rasa malu umum yang berlaku untuk semua orang.
Sementara itu, di sisi Kala, hampir tak ada yang berubah. Kurasa cukup aman untuk menganggap pubertas laki-laki sebagai pubertas yang tak niat. Maksudku, cuma mulai tumbuh janggut dan jakun. Sungguh dunia yang adil-sempurna.
Kala lumayan benci dengan kumisnya. Meskipun di mata cewek itu membuatnya tampak lebih macho, tapi bagi dia kumis dan janggut sangat merepotkan. Dia merasa aneh. Seolah-olah wajahnya bertambah tua 20 tahun.
Suatu hari aku bertanya apakah Kala pernah melihat video porno. Rumornya semua anak laki-laki pasti pernah.
“Lu inget ada anak badung yang dikeluarin waktu kita SMP?” Tanya Kala, memulai ceritanya. Aku mengangguk. Tak betul-betul ingat. “Dia pernah nonton bokep di kelas pakai tablet kakaknya.”
“Anjing. Bego banget.”
“Semua anak cowok lihat. Gue juga lihat. Tapi habis itu gue laporin ke BP. Hahahaha.”
“Lu lebih anjing sih. Hahahaha.”
Ketika tiba dewasa, aku menyadari bahwa lebih dari melihat Kala sebagai seorang laki-laki, aku paling pertama melihatnya sebagai Kala. Aku yakin dia juga begitu.