Dari kecil aku dan Kala selalu bersama. Kadang aku merasa dia adalah saudara kembarku. Padahal tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali. Hanya saja, dulu, ibunya dan ibuku berteman sangat dekat. Mungkin sedekat kami sekarang.
Pada umumnya, kalau berdasarkan standar masyarakat yang suka ikut campur urusan pribadi orang, seyogianya sih kedua ibu kami itu menjodohkan aku dan Kala. Lumrahnya sih begitu. Tapi nyatanya tidak begitu. Padahal kami ini dekatnya bukan kaleng-kaleng.
Sebetulnya orang sekitar pernah sesekali menggoda, tapi aku dan Kala cuek bebek. Kadang merasa risih, tapi bukan karena kata-kata yang mereka ucapkan, melainkan bingung mau menanggapi bagaimana supaya percakapannya cepat selesai. Seringnya aku yang menjawab dengan berbagai manuver. Kala sih mati kutu.
Pernah di suatu momen lebaran—ya, seperti biasanya—seorang kerabatku berinisiatif bertanya. Kala sedang anteng makan ketupat, tiba-tiba salah satu tanteku nyeletuk.
“Lho, ini ada cah bagus begini, kenapa kamu nyari yang jauh to, Nduk?”
Waktu itu aku baru putus dari pacar ketiga.
Kala yang sedang menyuap makanan berhenti sejenak. Matanya melirik-lirik ke arahku. Lalu dia lanjut lagi makan dan menganggap seolah-olah bukan dia yang dimaksud. Anak sialan memang.
“Eh, Kala kan teman Asti dari kecil, Tante.”
“Terus? Apa masalahnya?”
Duh, gimana ya? Bakal sulit nih kalau harus menjelaskan panjang lebar, tapi intinya mah sederhana sih: baik aku maupun Kala, tidak bisa saling melihat dengan cara seperti itu. Sayangnya, masyarakat pada umumnya, termasuk tanteku itu, mungkin sulit menerima bahwa laki-laki dan perempuan bisa dekat tanpa perlu ada hubungan romantis.
“Kala nggak mau pacaran, Tante.” Aku berusaha menjelaskan lebih lanjut, tapi sebetulnya sedang memutar otak memikirkan cara untuk mengakhiri percakapan basi ini.
“Lho, kenapa?” tanteku mendelik ke arah Kala, antara bertanya-tanya dan bersiap menghakimi.
Kala menatapku. Mungkin dia menunggu bagaimana aku akan menjawab. Tapi, sebetulnya, ngapain juga dia peduli padahal tidak mau ikut-ikutan meladeni, ya ‘kan?
“Katanya mau fokus belajar, Tante.”
“Ya, belajar memang penting. Tapi soal jodoh juga harus dipikirkan lho. Apa mau, hidup jomblo sampai tua? Kan ngenes banget, to’.”
Biasanya aku selalu menemukan cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tapi lama-lama malas juga, dan aku kehabisan stok jawaban. Dan si Kala kampret tidak mau membantu sama sekali. Akhirnya kuputuskan saja untuk pakai senjata pamungkas. Kukatakan bahwa Kala doyan terong.
Tanteku itu langsung heboh, tapi setidaknya dia tak pernah lagi berusaha mencomblangkan kami. Aku tak tahu bakal sejauh mana kebohonganku itu tersebar, bodo amat. Anaknya juga tak peduli. Apalagi kami sudah mulai memasuki usia dewasa—otomatis keleluasaan yang kami punya pun bertambah.
Kala itu bukan tidak pernah ada yang naksir juga. Mungkin jumlah cewek yang pernah nembak Kala hampir sama dengan jumlah mantan pacarku. Dari sejak SMP sudah banyak anak cewek yang kesengsem dengan gaya pendiam-nya yang mereka anggap cool dan elegan itu. Dari segi wajah juga memang dia ini ganteng sih—kuakui secara objektif. Dan dia memang kelihatan paling ganteng saat wajahnya tanpa ekspresi. Kalau senyum malah jadi rada aneh.
Sudah banyak hati anak cewek yang patah seketika begitu nembak Kala. Jawabannya selalu sama. Singkat, padat, dan jelas.
“Maaf. Saya nggak suka kamu.”
Kalau cewek yang nembak punya sifat yang tidak disukai oleh Kala, misalnya cerewet, dia bahkan tidak pakai kata maaf.
Semakin dewasa, di lingkungan yang semakin beragam juga, dengan para perempuan yang mulai lebih berahi, semakin banyak cewek yang berusaha mendekati Kala. Beberapa bahkan menganggap Kala sebagai trofi. Dalam konteks yang lebih spesifik, yakni keperjakaannya yang dianggap sebagai tonggak prestasi oleh beberapa cewek pegiat celup sana-sini.
Aku pernah ngamuk melabrak seorang kakak tingkat yang hendak menodai Kala pakai cara licik, yakni obat tidur. Seandainya aku terlambat beberapa menit, sudah liau deh mahkota keperjakaan yang—sebetulnya—oleh Kala-nya sendiri tak terlalu diambil pusing.
Malah aku yang posesif.
“GUE GA PEDULI LO KAKAK TINGKAT KEK, KAKAK ANGKATAN KEK, GUE GA PEDULI SIAPAPUN LO! SEKALI LAGI LO BERANI DEKETIN KALA, GUA UBEK-UBEK PEPEK LO ITU PAKAI LINGGIS. DAN JANGAN PIKIR GUE CUMA GERTAK YA.”
Si kakak tingkat tak berkutik. Yang jelas bukan karena takut. Mungkin dia kaget saja perempuan berjilbab sepertiku, yang tentu saja imej-nya lumayan “baik-baik” secara umum, kok bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu frontal.
Sebelumnya aku tidak pernah cari ribut dengan siapapun. Aku dan Kala memang bukan tipe orang yang mau repot berkonflik dengan orang lain. Selama masih bisa dihindari, kami memilih untuk tidak berurusan dengan kepentingan siapapun.
Kala sempat bertanya khawatir setelah kejadian itu.
“Lu yakin mau jadi musuh kakak tingkat?”
“Emang apa hebatnya kakak tingkat? Menang umur doang ga ada pengaruhnya.”
“Bukan itu maksud gua.”
“Terus apaan?”
Kala menampilkan ekspresi mikirnya sambil memandangiku dari atas ke bawah.
“Untung lu pernah ngikut judo.”
“Hah? Apa hubungannya, anjir?”
Aku baru tahu hubungannya beberapa hari kemudian ketika beberapa orang cewek kakak tingkat berusaha merundungku di sebuah kamar mandi. Mereka ada empat orang bersama si pepek predator. Kalau tarung satu-satu sih aku yakin bisa menang telak, tapi kalau keroyokan, aku belum bisa memprediksi.
Benar saja mereka tidak ada niat tarung fair. Dua orang maju sekaligus berusaha memegangiku—mungkin supaya si pepek bisa leluasa menghajar. Kalau cuma dua orang mah aku masih bisa menang. Mereka langsung terjungkal akibat tendanganku. Aku berusaha sekuat tenaga mengingat pelajaran judo yang pernah kuikuti.
Selanjutnya si pepek dan satu lagi temannya maju bersamaan juga. Mereka pun bisa kuatasi meskipun si pepek lumayan ngotot serangannya. Merasa aku bukan lawan yang mudah, mereka memutuskan menyerang serentak. Meski awalnya bisa bertahan, aku pun tersungkur setelah beberapa kali telat menghadang serangan mereka. Si pepek langsung nafsu ingin memukuli. Kutahan sebisa mungkin tapi beberapa tamparannya berhasil mengenai wajahku. Kutendang saja perutnya sampai dia terpental. Gantian tiga temannya yang maju. Apes bagi mereka kuda-kudaku sudah tegak lagi. Mereka pun bisa kutangani dengan sedikit improvisasi. Tidak ada sulitnya mengalahkan mereka yang tak ada sense bela diri.
Setelah jeda engap beberapa saat, mereka berempat kembali menyerang serentak. Kali ini aku bisa mengimbangi, meski tak bisa langsung menjatuhkan mereka. FYI, meskipun aku pakai jilbab dan mereka tidak, aku tidak main curang dengan cara menjambak rambut mereka. Alhasil, beberapa kali aku kena serangan yang cukup keras yang bisa meninggalkan bekas.
Saat aku mau all out membalas pukulan-pukulan keras mereka, pada momen munculnya rasa dendam di dalam hatiku, Kala tiba-tiba nongol dari tengah kerumunan kecil penonton. Dengan tanpa ekspresi dan tanpa intonasi, dia berbicara padaku—dan menghiraukan peristiwa di depan mata bahwa aku sedang berkelahi.
“Lama banget ke kamar mandi. Laper gua.”
Kami semua bengong. Aku bengong, keempat penyerang bengong, dan semua penonton pun bengong. Si kampret langsung ngeluyur saja keluar setelah ngomong tanpa beban begitu. Ajaibnya, kemunculan dia membubarkan huru-hara yang terjadi secara seketika. Sorot matanya, gestur tubuhnya, meskipun mungkin dianya tidak ada niat sama sekali, seakan-akan menyatakan bahwa kalau perkelahiannya dilanjut, dia bakal ikutan, dan kalau dia ikutan, habis lah mereka semua.
Aku bergegas pergi ke kantin setelah merapikan jilbab yang agak mengsol.
Aku tahu si kunyuk ini sedang menahan ketawa melihat sedikit memar di wajahku.
“Preman dilawan.”
“Ini kan gara-gara lu, monyong.”
Setelah makan Kala menemaniku ke klinik kampus. Malas beli obat sendiri. Mumpung ada yang gratis, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
***
Sebaliknya, Kala juga pernah bikin perhitungan kepada cowok yang memutuskanku secara tidak fair.
Sebut saja namanya Oji (bukan nama asli). Waktu jadian dengan Oji sebetulnya Kala sudah mewanti-wanti bahwa cowok bajingan itu cuma bagus casing-nya saja. Tapi kan aku memang selalu apes soal begituan (untuk menyamarkan bahwa aku memang bloon).
Kala tidak kaget ketika melihat si Oji jalan dengan cewek lain satu bulan setelah jadian denganku. Kala tidak langsung melaporkan apa yang dia lihat. Dia lebih memilih supaya aku menyaksikan secara langsung.
Maka, suatu malam, Kala mengajakku makan di suatu tempat. Aku merasa, kok pas banget, karena malam itu tahu-tahu si Oji tidak bisa kuajak jalan. Bilangnya sih ada urusan keluarga. Aku tidak pasang curiga.
Sampai di tempat makan, entah kenapa si Kala ini ngotot supaya aku duduk menghadap ke jendela luar. Aku masih belum mikir apa-apa tuh. Sampai ketika aku mulai lahap makan, sekonyong-konyong si Oji muncul bersama seorang cewek yang merangkul lengannya dengan mesra. Aku hampir saja melabrak mereka. Untung Kala langsung menahan. Dia bilang, ada cara yang lebih asyik.
Meskipun aku tidak sabar ingin menyiram muka si Oji, ajakan Kala tetap lebih menarik. Aku mewanti-wanti hal sinting apa yang bakal dia lakukan.
Selesai makan, Kala mengajakku keluar dari restoran. Kami pergi ke bagian samping restoran yang agak sepi. Kala mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Yang satu sebuah botol kecil berisi cairan. Sempat terpikir olehku bahwa Kala mau meracuni Oji. Ternyata tidak. Sebab, benda selanjutnya adalah sebuah… test pack!
Aku langsung tanya apa yang dia mau bikin. Intinya adalah dia mau aku mendatangi cowok bajingan itu sambil membawa sebuah test pack, kulemparkan ke mejanya sambil marah-marah dan minta dia untuk tanggung jawab. Ide yang lumayan sinting dan—memang—Kala banget. Awalnya aku ogah. Masa aku mau pura-pura sudah dihamili? Tapi Kala bilang yang bakalan rugi adalah cowok bajingan itu. Poin pentingnya adalah pada bagaimana aku bisa menciptakan suasana dramatis yang tampak sangat nyata.
Setelah berbagai pertimbangan dan bujuk rayu, akhirnya aku pun mau melancarkan ide sinting Kala.
“Nanti abis lu, giliran gua.”
Awalnya aku tidak paham maksud dia berkata begitu.
Setelah menyiapkan mental dan penjiwaan, aku pun bergegas masuk kembali ke dalam restoran. Langsung saja kulakukan sesuai arahan dari pak sutradara. Kulabrak si Oji di depan cewek selingkuhannya (atau jangan-jangan aku yang merupakan selingkuhan) dan di hadapan semua pengunjung. Aku sendiri terkejut aktingku bisa senatural itu.
Oji melongo saja tanpa bisa ngomong apa-apa. Mungkin dia saking kagetnya. Mungkin yang paling bikin dia linglung adalah keberadaan test pack terlabel positif di depannya. Padahal dia denganku boro-boro hubungan seks, ciuman saja belum.
Yang tidak kalah seru adalah reaksi cewek di sampingnya. Dia tampak sama kagetnya, tapi raut marahnya jauh lebih mendominasi. Mungkin kalau aku melabrak sekadar sebagai pacar, si cewek itu bakal balik melabrakku. Tapi karena aku datang bawa test pack, amarahnya jelas tertuju pada si Oji.
Manjur juga skenario bikinan Lord Kala ini.
Adegan kututup dengan menyiramkan segelas jus jeruk ke muka Oji. Saat dia terlihat mau memberikan respon, aku langsung cabut. Di ambang pintu restoran Kala sudah menunggu. Dan aku hampir mati ketawa melihat penampilannya.
Kala langsung masuk begitu aku keluar. Macam pergantian pemain di lapangan bola.
Aku mengambil posisi memperhatikan dari luar. Tidak bisa kudengar suaranya, tapi bisa kulihat jelas apa yang terjadi di sana. Pada saat itu aku merasa sudah meremehkan kreatifitas otak seorang Kala. Bagaimana mungkin dia terpikirkan ide konyol—tapi sekaligus ampuh—seperti itu?
Semua hadirin yang ada di restoran benar-benar teralihkan perhatiannya. Bahkan mereka tidak ada yang sempat menggunakan handphone untuk merekam. Tidak terpikirkan, sepertinya. Kejadian di hadapan mereka terlalu bizzare.
Peran yang dimainkan oleh Kala adalah seorang kekasih obsesif. Aku tidak tahu dari mana dia bisa begitu menguasai cara berakting sebagai cowok gay. Yang jelas, ini kualitas jempolan. Ini bukan karakter banci yang sering dijadikan bahan lelucon di TV. Ini betul-betul karakter cowok gay tulen yang artikulasinya diperhitungkan dengan sangat matang. Aku tak henti-hentinya bertepuk tangan sambil tertawa-tawa.
Kulihat ceweknya Oji langsung menamparnya begitu Kala selesai dan keluar dari restoran.
Aku masih terbahak-bahak ketika Kala menghampiriku.
“Kenapa nggak langsung lu aja yang masuk, anjir?”
“Biar double kill dong.”
“Tai. Bisa-bisanya kepikiran lu.”
Di perjalanan pulang, kusempatkan bertanya mengenai cairan di botol kecil yang dia kucurkan ke test pack.
“Itu pregnyl. Hormon kehamilan.”
“Gila. Niat banget. Beli di mana lu?”
“Pesen. Online.”
“Berape duit?”
“Tiga setengah.”
“Apaan tiga setengah?”
“Tiga ratus lima puluh rebu.”
“Anjing.”
Aku kehabisan kata.
Tinggalkan komentar