Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak ingat kapan aku pertama kali melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Waktu kecil aku sering melihat hantu ibuku. Sebetulnya aku kurang yakin apakah itu hantu atau mimpi. Tapi kalau mimpi harusnya punya jalan cerita. Ini tidak. Dia hanya duduk saja di atas kasur, bersandar ke dinding. Wajahnya sesekali tertunduk, tapi lebih seringnya menatap lurus ke depan.
Kalau bukan dari foto album ketika dia menikah dengan Herman (nama bapakku), aku tidak akan tahu kalau dia ibuku. Mungkin aku akan menyangka dia hantu random saja.
Seram tidak melihat hantu ibu sendiri? Agak sulit menjawabnya sebab aku tidak gampang dibuat takut. Lagipula, dia tidak ngapa-ngapain. Cuma duduk begitu. Kadang selonjoran. Kadang menekuk lutut.
Bajunya serba putih—sebagaimana lazimnya hantu. Rambutnya hitam tergerai. Kalau masih orang mungkin bakal cocok main iklan shampo. Tatapannya kosong—lagi-lagi, ini adalah lazimnya para hantu. Kalau tidak kosong, ya dendam. Tapi hantu dendam tentunya tidak akan bengong-bengong saja seperti ibuku.
Aku tidak pernah merasa risih atau terganggu. Toh, dia hanya diam. Menemaniku tidur, mungkin. Atau bisa jadi dia sebetulnya tak kenal aku. Sebab ada, banyak malah, hantu-hantu yang lupa akan kehidupannya sebelum mati. Bahkan ada juga yang sampai lupa nama sendiri.
Aku sudah tidak terlalu ingat kapan aku pertama melihatnya. Entah sebagai manusia ketika dia masih menimangku, atau setelah dia jadi hantu. Kata Herman dia mati sebelum aku sempat memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Tak lama (setelah ibu kandungku itu meninggal) Herman menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik hati, perhatian, dan yang paling penting masih hidup. Tapi aku tak bisa memanggilnya ibu. Atau mama. Atau bunda.
Mulutku mungkin bisa. Tapi dalam batinku tak ada—kalau ada, batinku.
Kalau mata batin, sudah pasti ada. Ya … begitulah caraku melihat hantu, kan?
Hantu ibuku paling suka menampakkan diri waktu Maghrib. Kehadirannya biasa ditandai dengan udara yang jadi terasa lebih padat. Pekat. Dia selalu pandai memunculkan diri ketika aku sedang menoleh ke arah lain. Pernah aku pelototi tempat biasa dia muncul, penasaran. Aku ingin mengerti bagaimana dia ada. Sampai pedih mataku dibuatnya. Begitu aku meleng sedikit, detik berikutnya dia sudah duduk anteng di sana. Muncul begitu saja macam hantu.
Kadang dia juga ada ketika aku terbangun dari mimpi menyebalkan. Mimpi-mimpi pukul tiga. Mimpi absurd nan gila. Aku menatap wajahnya yang datar, lalu mencoba tidur lagi.
Dia tidak pernah muncul kala azan subuh telah berkumandang.
Ada anggapan umum di masyarakat bahwa hantu tidak muncul di siang hari. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Waktu siang memang tidak disukai karena butuh energi jauh lebih besar untuk hantu bisa nongol. Dan ini bukan soal terik cahaya atau apa. Musababnya adalah orang-orang—yang masih hidup.
Ketika orang-orang sibuk beraktifitas, di siang hari, hantu sulit muncul karena gelombang kesadaran sedang padat-padatnya. Ibaratnya, kalau hantu mau menampakkan diri siang-siang, itu seperti menerobos kerumunan ibu-ibu yang berbelanja di pasar baju pada h-1 lebaran. Sudah pasti mereka ogah.
Tapi pernah sekali, hantu ibuku muncul di siang hari. Aku tidak akan lupa karena ada kejadian penting hari itu.
Ketika aku lulus SD, Kakek memberiku hadiah seekor anak anjing. Namanya Bonbon, dia sangat ramah. Kau hampir bisa melihatnya tersenyum seperti seorang anak kecil. Aku tidak akan kaget kalau Bonbon ternyata memang jelmaan seorang anak manis yang sedang bereinkarnasi.
Aku senang sekali. Kakek memang orang paling baik di dunia ini, tapi Bonbon membuatku berpikir bahwa orang baik tak cuma manusia. Rasa sukaku padanya lah yang pertama kali membuatku sadar bahwa aku hidup lumayan mujur. Meski tak ada ibu, tapi Kakek memerankan peran orang tua lebih dari cukup buatku. Dan Bonbon rasanya bagai saudara.
Lantas hatiku remuk.
Siang itu. Dengan sekop seadanya aku menggali lubang.
Aku tak menangis. Di kemudian hari, ketika aku tahu–sangat belakangan–bahwa Bonbon mati sebab Herman tak tahu bahwa anjing tak boleh makan cokelat, aku juga tak menangis. Juga tak marah.
Siang itu tidak ada Kakek. Baru sorenya Kakek datang.
Setelah beres menggali, aku meletakkan Bonbon ke dalam tanah, ketika kudongakkan kepalaku, di sana dia sudah ada. Hantu ibuku. Itulah satu-satunya saat dia muncul di siang hari. Juga satu-satunya tempat dia muncul selain di kamarku.
Aku menceritakannya kepada Kakek.
Kakek sedang memelukku, menghiburku. Dia sendiri sesenggukan padahal aku tidak.
“Saya lihat ibuku tadi siang.”
“Oh ya?” Kakek menyeka air matanya.
“Ini pertama kali saya lihat dia di siang hari.”
“Apa ibu kamu bilang sesuatu?”
“Tidak ada, Kek. Biasanya pun memang diam.”
“Mungkin dia jemput Bonbon.”
“Memangnya anjing masuk surga?”
“Bonbon kan anjing baik.”
“Maksud saya, memang anjing ada surganya?”
“Entahlah. Nggak penting juga sepertinya buat mereka.”
“Mungkin Bonbon juga mau jadi hantu, Kek?”
Kakek menjawab hanya dengan senyuman. Sampai aku dewasa, hantu Bonbon tak pernah menyambangiku. Aku berasumsi dia memang sudah anteng masuk surga.
Demikian pula hantu Kakek. Tak sudi munculnya padahal betul-betul kurindukan. Mungkin siapa-siapa pasti lupa dunia kalau sudah nyaman di surga. Aku harap maklum.
Kakek meninggal saat aku mau SMA. Hampir aku putus sekolah saking tertekan luar biasa. Merasaku sendiri di dunia ini. Itu kali pertamaku menangis lagi–di luar menangis saat masih orok. Di atas makamnya, kupeluk gundukan tanah itu, kucurahkan air mataku sepuas mauku, lepas saja semua kesedihan itu, mungkin termasuk endapan nestapa waktu aku kehilangan Bonbon bertahun lalu. Aku macam tidak peduli sekitar. Herman menarik-narik tubuhku karena sudah terlalu lama aku menangis, ditakutkan olehnya diriku pingsan habis tenaga. Aku bergeming.
Berbulan-bulan aku jadi pandai menangis. Mudah sekali merasa tersayat hati. Bukan saja demi mengingat kepedihanku sendiri, melainkan sanggup pula aku mengucurkan air mata menyaksikan kemalangan orang lain, sanak atau bukan, bahkan manusia nun jauh di luar negeri. Jangankan manusia, bahkan pada binatang dan tumbuhan pun aku merasa punya empati.
Jujur, beberapa bulan itu adalah masa-masa paling aneh dalam hidupku. Dan keanehan yang paling sinting adalah absennya sang hantu dari ruang kamarku.
Awalnya aku tak jeli disebabkan mengiba diri. Tapi semakin hari, semakin kurasakan ada yang janggal. Apa ya? Pikirku. Rupanya ada kebiasaan yang hilang tanpa kusadari. Ada sebuah keteraturan yang lenyap ditelan bumi. Itulah masa-masa akhirku pandai menangis. Setelahnya jadi bodoh lagi aku.
Ibuku kembali pada masa-masa persiapan kelulusan. Ketika pertama kali ia hadir lagi–setelah sekian lama–aku pun terkaget-kaget. Wajar lah. Sampai kuucap istigfar. Kutatap wajahnya dan dia tak berubah sama sekali, masih sesuai tersimpan pada ingatanku tentangnya.
‘Apa Ibu mau ikut saya merantau?’ Ingin kutanyakan itu tetapi tak sampai naik ke lidahku. Hanya di hati saja nyaliku.
Aku pun pergi kuliah. Bukan karena betul-betul inginku untuk kuliah. Lebih karena inginku pergi dari rumah. Merantau jadi satu-satunya cara, dan kuliah mungkin salah satu alternatif yang kupunya, sambil mengajukan beasiswa. Walau sebetulnya aku ada duit untuk itu, warisan dari Kakek, tapi sebetulnya itu uang rahasia–Herman tak tahu.
Dalam hatiku berpamitan kepada kamarku, padahal di dalamnya lagi, jika kau mengupasnya lagi, ada sekelumit aku pamit pada hantu ibuku yang sepanjangku hidup tak pernah kuajak bicara itu. Ada sedikit rasa sentimental. Kuhargai dia sebab sudah menjadi kawanku selama bertahun lamanya sejak aku kecil dulu.
Kuliah terasa begitu cepat karena prosesku lurus-lurus saja. Kujalani semuanya sesuai porsi. Belajar semampuku. Ikut organisasi semampuku. Sekali dua ikut lomba supaya ada variasi–juga semampuku. Ada aku menang satu kali, ada juga kalah satu kali. Cukuplah itu jadi pengalaman.
Aku juga berteman sebiasa-biasanya, tak banyak, tak sedikit. Tidak terlalu tertutup, juga tidak terlalu terbuka. Supel-supel terstruktur karena aku tak mau dianggap orang misterius apalagi aneh. Mungkin ada sedikit kedekatan istimewa ketika aku pertama kali mempunyai seorang pacar.
Dia yang pertama kali tertarik dan mendekatiku. Tak ada salahnya, pikirku.
Kujalani masa-masa pacaran dengan cukup baik. Kubuka kisahku sedikit lebih banyak untuknya, hal-hal yang sebelumnya tak pernah kubagi dengan selain Kakek. Dia sangat baik dalam mendengarkan. Dia pun berbagi kisahnya, secukup yang dia ukur perlu. Demi membalas keterbukaanku.
Itu masa-masa yang menyenangkan, kuakui. Kami lalu berpisah baik-baik karena dia harus pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana, arah yang berseberangan dengan kampung halamanku sendiri yang sebenarnya sama juga jauhnya. Kami sesekali masih bertukar kabar hingga akhirnya aku dapat info dia dipinang orang baik.
Betul aku sedih berpisah dengannya, tapi tidak sesedih itu. Dan aku tulus ikut senang dengan perkembangan hidupnya. Sebab hidupku juga berlanjut ke fase berikutnya. Dunia kerja.
Seperti yang kuduga, pekerjaanku tidak nyambung sama sekali dengan jurusan kuliahku. Sudah kuprediksi sejak awal masuk kuliah karena dari dulu pun aku kuliah bukan karena passion. Telah raib passion dari duniaku, yang ada hanya melanjutkan hidup seada-adanya, sebaik dan seefisien mungkin. Makanya urusan pekerjaan pun aku tak banyak pusing, tak pilih-pilih, di mana saja tak kupedulikan.
Pekerjaan pertamaku mungkin diidam-idamkan banyak orang. Tempat kerja nyaman. Kolega menyenangkan. Gaji boleh untuk disimpan, tak membuat makan hanya berlauk garam. Beban kerja masuk akal, bahkan cenderung ringan. Aku senang. Jujur. Sudah barang tentunya aku menikmati, kan?
Semua tampak berjalan dengan baik.
Tapi baru kali itu aku mulai merokok. Selain karena sudah punya duit sendiri, pada saat itu, entah apa ihwalnya, setiap jam 12 teng tubuhku seperti ada panggilan untuk melipir ke luar kantor dan mengisap sebatang-dua batang rokok filter.
Rasanya alami saja. Tak ada yang mengajariku, tak ada yang menghasutku, apalagi mendesakku untuk jadi perokok. Tiba-tiba saja suatu siang, bagai kena sirep, kupilih sembarang bungkus rokok filter dari balik kasir minimarket.
Pushhh… pushhh… aku merokok pertama kali seperti seorang penghisap kronis yang paru-parunya sudah kenyang tar dan nikotin. Tak batuk sedikit juga. Tidak canggung pula. Lancar saja kuisap dan kuembuskan bagai makan oksigen sewajar orang bernapas di perbukitan. Aku sendiri agak heran pada mulanya, tapi langsung tak ambil banyak pusing.
Semakin lama, semakin bertambah jadwal rokokku. Tadinya hanya tengah hari, lalu bertambah sore hari, kemudian malam hari. Tinggal pagi hari yang belum. Tapi sepertinya tak akan. Bukan apa, aku belum setolol itu untuk bela-bela bangun pagi cuma demi merokok. Lebih baik kutamatkan mimpi dalam tidurku. Mimpi yang sering bikin kesal karena menggelitik perasaanku yang entah sudah berapa tahun kutelantarkan.
Mimpi itu… adalah mimpiku melihat hantu ibuku. Di kamarku. Segalanya hampir persis dengan masa aku kecil. Bahkan aku ingat aroma sprei yang kutiduri waktu itu.
Bedanya, dalam mimpi, Ibu menatapku. Lalu aku berlari ke pelukannya. Menangis sejadi-jadinya. Tertawa. Menangis lagi. Tertawa lagi. Ingus meler dari hidungku sebagaimana wajarnya seorang anak.
Aku tak mengerti apakah aku sedih atau bahagia. Aku tak peduli. Sepertinya Ibu juga tidak hiraukan itu. Sedih atau bahagia dia akan tetap memelukku.
“Lama saya cari Ibu.”
“Ibu yang tunggu kamu, tahu!”
“Ibu ada di mana, selama ini?”
“Di kamar ini. Beku dalam waktu. Menimang kamu sepuas diizinkan sakitku.”
“Sekarang kita boleh bertemu?”
“Tidak ada yang namanya hantu. Cuma manusia yang tak henti rindu.”
Ibu tersenyum cantik melampaui gugusan nebula. Aku lelap di pangkuannya.