“Papa, kenapa kita harus berbuat baik kepada orang lain?” Tanya Melanie kepada papanya.
“Tidak juga. Berbuat baiklah hanya jika kamu mau. Bukan karena harus. Nggak ada yang harus di dunia ini.”
“Tapi kalau orang-orang tidak berbuat baik, dunia ini akan hancur.”
“So, be it.” Jawab Papa.
“Buktinya, sampai saat ini dunia tidak hancur, ‘kan? Tapi kalau memang mesti hancur, ya hancurlah.” Lanjutnya.
“You don’t mind?”
“Why would I? Dunia ini memiliki keberadaannya sendiri. Sesuatu yang jauh di luar kendali kita. Dunia ini mau bagus, mau jelek, terserah dia.”
“You said it like the world has some kind of consciousness.”
“Maybe. Doesn’t matter tho. Intinya dunia ini berada di luar kendali kita, jadi biarkan saja dia berjalan apa adanya.”
“Begitu, ya? Jadi kita harus rela dengan apapun yang terjadi?”
“No. Tidak harus. Relakan kalau sudah rela. Kalau belum, ya tidak usah.”
“Jadi kita harus melawan?”
“Melawan apa?”
“Ya, kondisi dunia yang mau hancur ini. Tapi tadi kata Papa biarkan saja dunia hancur. Itu kan kontradiktif.”
“Not at all. Kondisi dunia ini kita biarkan bukan karena kita pengecut atau penakut, tapi—simply—karena dunia ini terlalu besar untuk kita urusi. It’s technicality, the best way to describe it. Sementara itu, soal kerelaan yang tadi kamu singgung, itu urusan personal yang masih dalam lingkup kendali kita. So, notice that there are two different issues.”
Melanie tampak berpikir keras mencerna kata-kata papanya.
“Tapi Pa, sumber ketidakrelaan kita kan berasal dari kondisi dunia. Keduanya berhubungan.”
“Indeed. Tapi harus diingat bahwa berhubungan bukan berarti terkondisikan satu sama lain. Artinya, sebagaimana dunia ini akan tetap berjalan tanpa memperdulikan perasaan kita terhadapnya, kita juga seyogiyanya bisa bersikap masa bodoh terhadap dunia yang memang terlalu besar untuk kita urusi. Kita harus—”
Melanie nyengir karena menyadari sesuatu. Dia segera memotong pembicaraan papanya.
“Nah lho… Papa bilang ‘harus’ tadi. Katanya nggak ada yang harus di dunia ini.” Ucap Melanie dengan nada penuh kemenangan.
“Fair enough. Oke, Papa ralat ya—”
“Sebelumnya juga Papa bilang ‘seyogianya’, itu kan artinya sama aja kayak harus.” Melanie tampak puas mengoreksi kesalahan papanya.
“Alright. Itu juga akan Papa ralat. Sebagaimana dunia ini tidak peduli kepada kita, maka sudah se-wa-jar-nya kita juga bersikap masa bodoh.” Papa menunggu respon Melanie.
“Itu masih rada mirip sih, tapi oke lah. Lanjut.”
“Kita nggak akan menemukan ketenangan kalau punya keinginan mengubah dunia. Kerelaan itu cuma bisa timbul melalui kesadaran penuh atas apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak.”
“Jadi… cara untuk merelakan adalah…”
“… dengan mengetahui batasan kita sebagai seorang manusia.”
Melanie tertunduk dalam dan merenung cukup lama. Jawaban itu, kata-kata itu, sudah ia dengar puluhan, bahkan mungkin ratusan kali.
Ia tahu persis kata-kata itu yang akan didengarnya. Tak akan pernah berubah. Sampai kapanpun. Bahu Melanie bergetar menahan luapan kesedihan yang menjalar naik dari ulu hatinya.
Ikhlas memang lebih mudah dipelajari daripada dilakukan sendiri.
Melanie mengangkat wajahnya dan tersenyum. Setetes air matanya mengalir tak terbendung.
“Terima kasih, Pa.”
“Sama-sama, Melanie. Sampai jumpa. Papa selalu siap menjawab pertanyaan kamu kapan saja.”
Melanie pun menutup laptop di hadapannya.
Tag: ayah
-
autobiografie