Saya merasa wajib membuat ulasan untuk drama apik ini. Mengikuti dua season penayangannya secara marathon memberikan kesan yang cukup kuat di benak saya. Memang drama intense seperti ini lebih cocok jika dinikmati secara berkelanjutan. Menunggu per dua episode setiap minggu bisa mengurangi keseruannya, apalagi jika ada bagian akhir episode yang nanggung banget.
Sebenarnya saya tidak betulan menontonnya tanpa berhenti dari episode 1-16, apalagi langsung lanjut dari season pertamanya ke season kedua. Bisa edan beneran kalau begitu. Saya berhenti cukup lama di beberapa bagian. Bukan karena ada kesibukan atau apa, tapi sekadar mengistirahatkan benak dari intensitas cerita yang sedang berlangsung. Ini perlu, karena saya tipe orang yang terbawa cukup dalam ke dalam sebuah cerita. Untungnya kasus terakhir di season kedua bisa saya tonton secara marathon. Gregetnya dapet banget sih. Sinting lah.

Ringkasannya: Partners for Justice bercerita tentang kerja sama antara seorang jaksa dan seorang dokter forensik dalam mengungkap berbagai kasus kejahatan (kebanyakan kasus pembunuhan) di wilayah Seoul Timur. Si dokter forensik merupakan mantan dokter bedah yang banting setir dari mengotak-atik orang hidup jadi mengotak-atik orang mati, pindah dinas dari rumah sakit ke Layanan Forensik Nasional (LFN). Cukup sederhana, sebenarnya, tapi di tengah plot-plot kecil sepanjang cerita, ada main plot yang berjalan perlahan.
Season pertama berpusat pada masa lalu si dokter, Baek Beom, yang ternyata memiliki luka mendalam dan patah hati parah yang memfosil. Kejeniusan Dokter Baek dalam mengungkap setiap kasus pelik yang tampak mustahil diselesaikan ternyata tidak didapatkan secara cuma-cuma. Potongan-potongan tragedi yang dialami Dokter Baek akan disuguhkan seperti remah roti yang bermuara pada pengungkapan di episode akhir.
Di season kedua diperkenalkan karakter baru, Dokter K, seorang dokter yang memiliki kemampuan forensik setara dengan Dokter Baek, tapi digunakan untuk hal yang tidak baik. Season kedua berfokus pada karakter baru ini. Bisa dibilang ini pendekatan yang cukup menarik. Saya kira, setelah Dokter Baek, giliran si jaksa cantik, Eun Sol, yang akan dikembangakan ceritanya. Ternyata tidak. Peran Jaksa Eun di dalam serial ini memang tidak penting-penting amat sih, tapi dia cantik luar biasa–(jadi tetap sayang). 😦
Karakter
Film, drama, atau media cerita apapun yang menitikberatkan fokus pada karakter selalu menjadi favorit saya. Saya kadang bingung jika ditanya mana yang lebih penting dari sebuah cerita, apakah plot atau karakter? Banyak cerita bagus dibangun melalui plot yang rapi dan seru, tapi saya selalu jatuh hati pada cerita-cerita dengan tokoh utama yang kuat. Kuat… bukan berarti kuat secara fisik, tapi karakternya bisa membekas di benak. Partners for Justice adalah salah satu cerita dengan penokohan paling tegas.
Beberapa tokoh akan saya ulas karakternya.
Dokter Baek
Satu alasan tunggal kenapa saya akhirnya menonton drama ini adalah sebuah twit yang tidak sengaja saya temukan ketika sedang mencari rekomendasi drama. Di twit tersebut, orang yang merekomendasikan Partners for Justice menulis seperti ini: ‘Beom ini anying kasar bgt terus galak, tp hebat n keren.‘ Bagi saya, jika sudah ada kata umpatan, berarti memang benar-benar menarik. Saya pun mulai menontonnya, dan…
wow,
memang luar biasa si Baek Beom ini.
Wataknya kasar, dingin, dan tidak acuh luar biasa. Jika sudah berurusan dengan mayat, maka hanya mayat di depannya itu yang akan dia pedulikan. Secara struktural, dia memang seorang PNS di bawah LFN, tapi pada kenyataannya Dokter Baek melakukan otopsi bukan untuk memenuhi kewajiban kerja atau untuk mencari uang. Dia adalah bola liar, beku, tapi menyimpan magma di intinya.
Bagi Dokter Baek, mayat adalah pelarian. Kematian tidak wajar adalah misteri yang harus ia pecahkan demi mengisi kekosongan di hatinya. Dokter Baek terobsesi untuk menjawab semua misteri itu demi meredam tragedi di masa lalunya sendiri. Namun, alasan utama dan sebenarnya kenapa Dokter Baek memilih untuk mengurusi mayat-mayat adalah karena dia sudah sangat muak dengan manusia hidup. Manusia yang masih hidup selalu dipenuhi kebohongan, sedangkan orang yang sudah mati selalu berkata jujur.
Perpaduan antara expertise avant-grade dan ketidakpedulian kronis memang merupakan salah satu rumus untuk karakter yang menarik. Dokter Baek menjadi sangat ahli karena dia terbebas dari segala aspek lain–terutama emosi dan ambisi–yang bisa mengganggu keseriusan seseorang ketika menekuni sebuah bidang. Ironis, sebenarnya. Untuk bisa menjadi yang paling top, seseorang harus menyingkirkan banyak hal manusiawi yang ia punya. Dokter Baek terpaksa melakukan hal itu. Untuk menjadi luar biasa memang harus siap untuk merasa kesepian tanpa aba-aba.
Ada banyak hal menarik mengenai Dokter Baek yang harus Anda lihat sendiri, tapi sebenarnya alasan utama saya sangat menyukai tokoh ini adalah karena wajah masamnya pada dunia ini menggambarkan dengan tepat apa yang sedang saya rasakan.
Dokter K
Karakter baru di musim kedua, tapi kemunculannya langsung menjadi plot utama. Dalam hal keahlian di bidang forensik, Dokter K setara dengan Dokter Baek, tapi masa lalunya jauh lebih kelam, trauma yang ia alami jauh lebih dalam. Pada titik ini saya tidak lagi bisa berempati karena tidak pernah membayangkan punya masa lalu segetir itu. Namun, ada hal menarik mengenai Dokter K ini yang berbeda dari Dokter Baek. [Spoiler alert!] Dokter K adalah seorang penderita penyakit pribadi ganda atau disebut Dissociative Identity Disorder (DID). Lebih tepatnya, Dokter K itu sendiri adalah pribadi kedua, sedangkan pribadi utamanya bernama Dokter Jang.
Dokter Baek pernah mengakui keahlian Dokter K ketika menangani sebuah kasus. Dalam kasus itu Dokter K menjadi tersangka utama kasus pemalsuan kematian. Menurut Dokter Baek, jika Dokter K ini benar-benar berniat menjadi seorang pembunuh, maka kasus pembunuhannya akan sempurna karena dia sangat memahami kedokteran forensik. Hampir mustahil untuk menemukan jejak kejahatannya. Dia akan menjadi tak terhentikan.
Dari segi penampilan, Dokter K ini fanservice banget untuk penonton cewek.
Jaksa Eun
Untuk Jaksa Eun, saya tidak mau banyak omong.



Bikin betah. 😥
Sungguh merupakan penyegaran hakiki di tengah plot yang menegangkan. Karakternya sih biasa saja. Meskipun begitu, saya berharap di musim ketiga nanti latar belakang dan karakter Jaksa Eun bisa lebih dieksplorasi.
Stella Hwang
Tokoh Stella Hwang hanya ada di season pertama. Dia adalah analis kimia LFN. Karakternya sangat eksentrik. Lulusan Amerika, bebas orangnya, tapi tetap logis dalam bertindak. Pokoknya orang sains banget ini cewek. Menarik menyaksikan penjelasannya ketika menyajikan data-data dan membantu Dokter Baek mengungkapkan setiap kasus. Dalam banyak kasus, analisis kimia menjadi kunci pengungkapan misteri yang sedang ditelusuri. Karakter Stella yang santai tapi tetap teliti bisa dijadikan rujukan persona bagi yang ingin mengejar karir menjadi ilmuwan terapan.
Oh Man Sang
Salah satu tokoh jahat utama yang menjadi benang merah antara season pertama dan kedua, bahkan akan tetap menjadi jembatan penghubung antara season kedua dan season ketiga nanti. Jahat lah pokoknya. Bajingan.
Wakil Kepala Jaksa Do
Muncul pada pertengahan season pertama. Atasan langsung Jaksa Eun, sekaligus rekan yang bisa diandalkan. Seorang PNS yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya, tapi tetap luwes. Kalau masuk Hogwarts, orang ini jelas akan masuk asrama Gryffindor. Karakter pemberani dan loyal, tipikal tokoh utama di banyak cerita.
Wakil Kepala Jaksa Hyun
Pernah menjadi atasan langsung Jaksa Eun sebelum akhirnya mengundurkan diri dan digantikan oleh Jaksa Do. Tokoh ini punya kaitan erat dengan masa lalu Dokter Baek. Hal itu pula yang menyebabkannya mengundurkan diri dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan perkotaan. Tidak muncul di season kedua. Awalnya saya kira tokoh ini akan menjadi love interest-nya Jaksa Eun. Ternyata tidak. Simply karena memang tidak ada romance sama sekali di dalam drama ini.
Jaksa Kepala Gal Dae Cheol dan Jaksa Kepala No
Pejabat korup dan bajingan. [Modaro lah, asu!]
Posisi Hukum dan Sains di Masyarakat
Menonton drama ini akan membuat kita mempertanyakan ulang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan isu-isu atau tragedi yang kita lihat atau mungkin kita alami sendiri sehari-hari. Ternyata ada banyak sekali hal-hal penting yang tidak diketahui oleh masyarakat, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi kasus-kasus kriminal. Dalam celah ketidaktahuan itulah pejabat-pejabat korup bisa membohongi banyak orang. Dalam celah ketidakpedulian itulah sistem tata negara menjadi busuk.
Masyarakat itu sendiri menjadi momok paling besar yang menghalangi terungkapnya kebenaran. Orang-orang awam tidak peduli dengan proses penyelidikan, yang mereka pedulikan hanyalah hasilnya. Bahkan validitas hasil tersebut pun tidak penting di mata publik. Yang penting adalah sensasinya. Seberapa heboh berita yang bisa dibuat dengan temuan itu? Jika mengingat hal ini, setiap kerumunan ternyata memang membawa sifat brengseknya masing-masing. Oleh karena itu, literasi hukum dan literasi sains adalah komponen paling penting–setelah literasi bahasa–yang harus ada dan terjaga di dalam masyarakat. Idealnya begitu.
Di drama ini kita akan ditunjukkan dinamika hubungan antara dunia hukum dan dunia sains dalam usaha-usaha pengungkapan kebenaran. Meskipun saya rasa porsinya lumayan berat sebelah–lebih berpihak pada sains–tapi penggambaran ini bisa menjadi bayangan awal mengenai bagaimana setiap komponen masyarakat mempengaruhi satu sama lain dalam menjalankan proyek besar bernama peradaban itu sendiri. Betapa rumitnya birokrasi dan tata krama dalam bermasyarakat, tapi hal itu memang perlu, sebagai antisipasi atas kecurangan-kecurangan yang mengintai.
Itulah risiko yang perlu dihadapi masyarakat modern yang tinggal bersama di sebuah kota besar dengan ukuran populasi jutaan. Ketika semua orang hanya memikirkan urusannya sendiri, tidak mau menengok kanan-kiri, maka perlu ada sistem supaya orang-orang itu tidak bertabrakan. Jika ada yang sampai bertabrakan, perlu ada sistem untuk mengetahui, kemudian mengadili, siapapun yang ternyata bertindak salah. Sialnya, sistem itu sendiri pada akhirnya terdiri atas manusia juga, yang tentu saja tidak bisa luput dari niat jahat atau keteledoran.
Di drama ini perkembangan sains dan teknologi digambarkan sebagai penyelamat utama bagi kelemahan intrinsik manusia itu. Semua asumsi dilakukan berdasarkan pengumpulan data yang menggunakan alat-alat canggih. Lama-lama Anda akan bisa melihat betapa krusialnya peran alat-alat yang digunakan itu. Bagaimana jika alatnya salah? Bagaimana jika alatnya tidak terkalibrasi dengan benar? Bagaimana jika pembacaan oleh manusia salah? Ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan, tapi pada akhirnya keputusan untuk menarik kesimpulan tetap ada pada manusia.
Saya kadang merasa ngeri jika membayangkan rumitnya setiap kasus yang harus dipecahkan dalam setiap kejadian kriminal. Orang sinting dengan taraf dedikasi seperti Dokter Baek pasti sangat langka di dunia ini. Pada titik seperti apakah seorang penyelidik akhirnya akan menyerah? Selain usaha keras dari sisi sains, saya juga melihat betapa alotnya perjuangan orang-orang baik di ranah hukum. Melawan penjahat-penjahat raksasa, tentu saja taruhannya nyawa. Sejauh manakah seseorang mampu menggenggam hati nuraninya, tidak hanya untuk tidak berbuat salah, tapi juga untuk berbuat benar? Berbuat benar yang tidak hanya diam, tapi juga mengungkapkan kebenaran–yang mana dalam prosesnya itu bisa saja ia terbunuh.