Lunarisla


Trilogi “Wait”

Wait adalah trilogi video musik oleh M83 yang mengusung konsep supranatural dan sci-fi.

Pertama kali saya mendengar musik M83 sepertinya di sebuah film berjudul “Warm Bodies” sebagai salah satu original soundtrack film tersebut. Itu sudah sekitar lima tahun yang lalu. Kurang dari setahun ini saya bertemu lagi dengan M83 dari sebuah sugesti Youtube, kali ini dalam bentuk video klip. Lagu yang sama dengan lagu yang menjadi soundtrack itu, judulnya “Midnight City”. Terlepas dari musiknya (bahkan saat itu saya lupa bahwa ini adalah lagu yang sama), saya langsung menyukai konsep video klip yang diusung, yakni tentang anak-anak dengan kekuatan super.

Bercerita tentang beberapa anak berkekuatan khusus, semacam mutan begitu, yang ditampung di sebuah panti asuhan. Kemudian datang seorang anak baru yang ternyata memiliki kekuatan pengendali, entahlah, tapi tampaknya anak ini langsung menjadi pemimpin dari anak-anak lainnya. Semacam alfa. Anak ini kemudian memutuskan untuk kabur dari panti asuhan tersebut bersama beberapa anak lainnya. Mereka menerjang pintu, menghancurkannya, dan lari melewati hutan untuk kabur dari panti itu. Kalau ini sebuah film, mungkin akan diceritakan bahwa di panti tersebut banyak terjadi penganiayaan terhadap anak-anak penghuninya dengan dalih penelitian.

Entah kenapa saya selalu tertarik dengan konsep kekuatan supranatural yang terjadi pada anak-anak, atau paling mentok remaja. Tidak pada orang dewasa. Media hiburan dewasa ini sepertinya memang kekurangan konten yang dipenuhi oleh anak-anak. Seakan-akan dunia ini dipegang oleh orang dewasa saja. Oleh karena itu, jika ada cerita mengenai anak-anak yang bisa terbebas dari kekangan dunia bobrok yang diciptakan oleh para orang dewasa, saya akan sangat invest terhadap cerita tersebut.

Video klip Midnight City diakhiri dengan scene lima anak super yang kabur itu mengerahkan kekuatan mereka untuk mempercepat proses terbenamnya matahari. Gila, bukan? Tapi tafsiran ini belum tentu benar sih. Saya hanya sempat membacanya sekilas di salah satu diskusi mengenai video klip ini di internet. Yang jelas, satu video klip ini saja sebenarnya sudah bagus.

Saya tidak langsung tahu bahwa video klip ini adalah sebuah trilogi, tapi sejak menonton Midnight City saya sudah membayangkan seandainya video klip ini dibuat menjadi film.

Ternyata ada video lanjutannya. Saya pun langsung gas menontonnya dengan penuh antusias. Video klip kedua berjudul “Reunion”, dan merupakan kelanjutan langsung dari video pertama. Ceritanya dibuka dengan scene salah satu dari lima anak ajaib itu “dipanggil” ke langit alias meninggal dunia dengan cara yang sangat awesome. Pada video terakhir dijelaskan bahwa itu sebenarnya bukan mati, melainkan—ya…—diangkat ke langit, macam Nabi Isa begitu mungkin.

Di video kedua diceritakan bahwa ternyata anak-anak ajaib ini punya dua kubu. Ada satu anak yang berada di pihak orang dewasa. Sebenarnya tidak benar-benar berada di pihak orang dewasa. Anak ini hanya dimanfaatkan saja atau bisa jadi dimanipulasi. Tahu sendiri lah sifat orang dewasa. Satu anak ini kemudian menggunakan kendali jarak jauh dengan merasuki tubuh orang dewasa untuk bertarung melawan anak ajaib lainnya. Satu versus banyak. Kubu putih menang tipis. Si lone wolf hilang kendali dan akhirnya kabur dari markas orang dewasa yang mengurungnya.

Di akhir video, beberapa anak tampak berjalan di dalam sebuah gereja tua yang sudah rusak, menuju altar. Di sana mereka melakukan hal yang serupa dengan anak di awal video, yakni naik ke langit dengan awesome. Si lone wolf ditinggal sendiri di planet Bumi. Premis ini mengantarkan kita pada video terakhir berjudul “Wait”.

Wait

Dari ketiga video klip di dalam trilogi ini, Wait menjadi favorit saya baik dari segi musik maupun konsep videonya.
Di cerita pamungkas ini dijelaskan bahwa anak-anak ajaib tadi melakukan sebuah perjalanan antar bintang, menyebar ke seluruh penjuru galaksi. Masing-masing mereka menggunakan sebuah kendaraan aneh berbentuk prisma yang terbuat dari metal. Sementara itu, satu anak yang tersisa di Bumi sendang menyaksikan fase sekarat dari eksistensi manusia sebagai spesies yang berada di ambang kepunahan.

Diperlihatkan kondisi Bumi yang sudah menyedihkan. Orang-orang saling bunuh. Kemudian, pada satu momen yang singkat, satu anak ajaib yang tersisa ini seakan-akan menjentikkan jarinya, dan ‘BUM!’ seluruh umat manusia punah seketika. Salah satu momen favorit saya di dalam trilogi video klip ini.

Mungkin kenapa saya bisa sangat relate dengan cerita ini lebih dari yang saya bayangkan adalah karena semakin hari saya semakin muak dengan kehidupan. Bukan hanya karena hidup saya sendiri berantakan, tapi sepertinya dari melihat secara keseluruhan masyarakat yang terputus dari satu sama lain dan dari alam.

Awalnya saya pikir kesumpekan ini penyebabnya adalah populasi, jumlah manusia yang terlalu banyak dan tidak tersebar secara merata. Bisa jadi memang begitu, tapi sebenarnya dari dulu semenjak orang masih sedikit pun hidup ini tidak bagus-bagus amat. Di masa lalu juga ada kengerian-kengerian yang harus dialami orang-orang zaman itu. Kalau ada hal bagus di masa lalu, mungkin ya hubungan manusia dengan alam yang masih belum separah saat ini. Jauh di lubuk hati ini saya menyetujui hasrat seorang Thanos untuk memusnahkan setengah populasi makhluk berakal di setiap planet untuk menjaga keseimbangan. Sekarang, cerita di video klip ini menyuguhkan sesuatu yang bahkan lebih baik: sebuah restart.

Satu anak ajaib yang tersisa itu akhirnya menjadi satu-satunya manusia yang tersisa untuk melahirkan kembali peradaban. Dia menunggu. Bersama dua ekor serigala yang menjadi abdi setianya, mengenakan sebauh pakaian tradisional yang elegan, gadis cilik ini menunggu dengan sabar.

Salah satu prisma yang sedang menjelajah galaksi tiba-tiba menerima sebuah sinyal. Sinyal untuk kembali ke Bumi. Prisma itu pun segera melesat dalam ruang dan waktu yang terlipat supaya cepat kembali ke Bumi. Di dalamnya adalah si alfa yang di awal cerita video pertama. Setelah cukup dekat dengan atmosfir Bumi, prisma itu terbuka dan penumpangnya jatuh masuk ke dalam atmosfir seperti sebuah meteor. Cerita ini ditutup dengan scene si alfa yang menubruk tanah di sebuah hutan hijau yang indah.

Sepertinya saya rela jual ginjal demi membuat cerita ini difilmkan.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai