Semua berawal dari benih.
Tidakkah menakjubkan bahwa semua keruwetan dan keindahan kehidupan ini berawal dari sel?

Konon, ada satu atau beberapa sel mengambang di lautan masa purba. Setiap sel punya dua kecenderungan utama yang menjadi ciri khasnya: tumbuh dan berkembang biak. Dua kecenderungan ini merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. Sel yang tumbuh dan berkembang biak akan menghasilkan keturunan berupa sel yang akan tumbuh dan berkembang biak untuk menghasilkan sel yang tumbuh dan berkembang biak. Begitu seterusnya. Sampai kapan?
Ada juga kecenderungan satu lagi yang sebetulnya berusia lebih tua. Jauh lebih tua. Dan kecenderungan ini tidak hanya dimiliki oleh sel saja, melainkan oleh hampir semua hal yang ada, bahkan mungkin juga mencakup segelintir hal yang belum menjadi ada. Nama kecenderungan ini adalah perubahan. Dalam biologi kita sering menyebutnya ‘evolusi’.
Mengapa sel berubah? Meskipun pertanyaan semacam ini terdengar sedikit kikuk–sebab mirip dengan pertanyaan semacam “kenapa jatuh itu ke bawah?”, tetapi masih layak ditanyakan ketimbang tidak bertanya sama sekali. Jawabannya adalah waktu. Itu jawaban paling singkat sekaligus jawaban terpanjang yang mungkin ada. Sebab waktu memang sudah ada sejak awal waktu, ‘kan? Tidak mungkin waktu muncul sedikit lebih lambat atau sedikit lebih cepat dari awal waktu.
Salah satu titik perubahan terbesar dalam rentang kisah peradaban sel adalah keputusan mereka untuk berserikat. Awalnya sekadar perhimpunan biasa saja, kumpul-kumpul iseng, mencari sumber makanan bersama. Lama-lama terjadi pembagian tugas. Lama-lama terbentuk ikatan obligat (wajib). Lama-lama terjalin hubungan rumit yang saling mempengaruhi satu sama lain. Mereka jadi lupa rasanya hidup sendiri. Sudah tak akan bisa. Pertanyaan besarnya, apakah ini merupakan sesuatu yang menyedihkan atau malah patut untuk disyukuri? Oleh para sel-sel itu tentunya, bukan oleh… kita.
Salah satu hal paling menakjubkan dalam kerja sama antar sel adalah tak ada satupun sel yang menjadi pusatnya. Tak ada ketua. Tak ada atasan, tak ada bawahan. Semua sel tahu harus berbuat apa tanpa perlu disuruh. Tidak ada sel yang merasa lebih penting dari sel lainnya. Dan semua sel-sel ini, yang jumlahnya triliunan, milyaran, yang mengusung sepercik kesadaran kita ini, tak ada satupun dari mereka yang bahkan tahu bahwa kita ada. Menakjubkan, bukan? Sekaligus agak sedih juga sih.
Tidak perlu undang-undang supaya sel-sel pankreas mau mengeluarkan hormon insulin pada waktu yang tepat. Tidak perlu birokrasi yang rumit supaya sel-sel saraf di hipotalamus tahu bahwa tubuh sedang dalam kondisi kedinginan, misalnya, kemudian mereka akan “memerintahkan” sel-sel otot untuk bergerak mencari tempat yang lebih hangat–atau mencari selimut. Tidak ada ceritanya sel-sel kulit merasa rendah diri terhadap sel-sel saraf sehingga mereka memaksa untuk menjadi sel saraf–yang pastinya akan mengakibatkan kekacauan besar, dan organisasinya akan bubar jalan. Apa kunci semua itu? Jawabannya adalah genom (set lengkap materi genetik dalam suatu sel). Informasi dasar yang tercatat secara harfiah di dalam semua sel.
Bayangkan bahwa dari barang semungil itulah peradaban umat manusia dipentaskan di seluruh dunia. Dan bukan cuma manusia, melainkan seluruh makhluk hidup yang ada dan menjelang ada. Mulai dari rumput dimakan rusa, rusa dimakan singa, lalu manusia yang menghantam segalanya, itu semua sudah tercantum dalam genom. Bisa dibilang–secara metafora yang agak berlebihan–bahwa semua organisme itu tidak lain adalah pembaca genom belaka.
Memang mudah sekali dunia ini kalau kita lihat dari teropong genom. Seandainya memang hanya soal itu.
Sebentar.
Sebetulnya memang cuma soal itu.
Kalaupun ada penyimpangan, mungkin skalanya bisa dianggap amat kecil jika dibandingkan dengan betapa besarnya (baca: panjang) waktu yang telah dijalani oleh genom. Bahkan jika peradaban manusia harus berakhir besok siang atau lusa, genom akan tetap lestari dalam jasad makhluk hidup lain. Ada banyak makhluk hidup luar biasa yang tahan gunung meletus, bahkan tubrukkan meteor. Kalau sejak awal genom tidak tangguh, sudah pasti kita pun tidak akan pernah mewujud.
Akan tetapi, membayangkan bahwa terdapat hal sehebat itu di dalam tubuh dan pikiran kita yang ringkih memang sedikit membingungkan. Dengan kualitas tahan banting sedemikian rupa, bagaimana mungkin bisa muncul dalam kesadaran manusia sebuah atau beberapa buah pemikiran tolol? Dari mana–misalnya–asal perasaan sombong atau rendah diri muncul? Tidak mungkin dari genom. Sebab genom tidak mengenal hal-hal kontra produktif semacam itu.
Di atas semuanya, mungkin yang paling ganjil pada manusia adalah cinta. Yang amat mendalam dan bersih.
Cinta yang membuat seorang seniman menggubah karya-karya agungnya. Cinta yang merawat bayi-bayi terlantar di panti asuhan. Cinta yang memaafkan luka-luka luar biasa, demi ketentraman batin. Cinta yang menyingkirkan batu kerikil dari jalanan.
Tapi kalau kita sudi berputar balik, sebetulnya malah cinta itu satu-satunya wadah yang masuk akal untuk membungkus seluruh absurditas hidup, seluruh eksistensi, dan keniscayaan yang mencengangkan ini.