Ada ibadah yang malah merugikan bagi pelakunya, yakni ibadah yang memiliki tujuan atau motif lain selain ibadah itu sendiri. Ibadah yang akhirnya bukan menambah kedekatan kepada Tuhan, tetapi malah menjauhkan.
Pertama, ibadah yang membuat pelakunya merasa lebih baik dari orang lain yang tidak melakukan ibadah yang sama dengannya. Masih mending kalau hanya merasa lebih baik. Yang lebih berbahaya adalah tidak hanya merasa lebih baik, tapi juga merasa benar sendiri, yang lain salah. Ibadah semacam ini akan menimbulkan kesombongan yang sulit untuk disembuhkan. Semakin taat dan rutin dilakukan, pelaku akan merasa semakin tinggi. Padahal tujuan ibadah itu kan justru sebaliknya, yakni supaya seorang hamba merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa.
Masalah ini cukup tricky.
Sistem agama yang sektarian mengajarkan bahwa Tuhan adalah hak eksklusif golongan tertentu saja—yakni golongan sendiri. Akibatnya, apa yang disembah oleh golongan lain sudah pasti dianggap bukan Tuhan. Terkadang, orang yang berada di dalam golongan eksklusif seperti ini berpikir boleh-boleh saja menganggap orang yang berasal dari golongan lain lebih rendah dari dirinya. Karena dianggap tidak dekat dengan Tuhan, maka sudah pasti golongan lain itu salah. Dan karena menganggap dirinya sudah dekat dengan Tuhan, maka sudah pasti diri dan golongannya lebih baik.
Padahal, siapa coba yang bisa mengklaim dan membatasi kekuasaan serta keberpihakan Tuhan? Tuhan lho ini, bukan sponsor partai politik. Apakah masuk akal bahwa Tuhan itu sektarian?
Kedua, ibadah yang memakan banyak sekali biaya. Kalau kita bicara energi, tentu saja setiap laku di dalam hidup kita ini membutuhkan energi dalam jumlah tertentu. Pada masa lalu orang-orang juga melakukan pengorbanan untuk ritual-ritual tertentu. Masalahnya bukan pada penggunaan sumber daya untuk melakukan ibadah, tetapi bagaimana sumber daya tersebut didapatkan. Dalam dunia modern sumber daya itu secara praktis kita sebut uang.
Sayangnya, tidak semua orang memahami arti dari proses pengorbanan dalam melakukan sebuah ibadah. Keikhlasan pada saat mengumpulkan dan menggunakan sumber daya itulah yang dinilai pertama-tama, bukan hasil akhir yang kasat mata. Kita sering kali malah lebih menghargai seremonialnya saja.
Contoh, kasus penipuan jamaah umroh beberapa waktu yang lalu itu. Tentu kita semua geram. Dari sekian banyak korban penipuan tersebut, ada orang-orang berpenghasilan harian yang mengumpulkan uang sepeser demi sepeser supaya bisa pergi umroh. Ketika kasusnya terkuak dan anggap lah dananya hilang, kita semua bersimpati. Padahal, bagi Allah, jerih payah mereka ketika menabung saja sudah cukup jika memang dilakukan dengan ikhlas. Mereka yang berjuang seperti itu sudah haji secara batin. Seharusnya kita kasihan pada diri kita sendiri yang memiliki sumber daya lebih besar, tetapi belum tergerak untuk berjuang hingga sekeras itu.
Ibadah dengan biaya yang besar sering menyebabkan orang lebih fokus pada gengsinya ketimbang nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah tersebut. Oleh karena itu, ibadah semacam ini jika tidak dipahami betul-betul maksud dan makna tersiratnya, sudah pasti akan merepotkan dan merugikan banyak orang. Apalagi di zaman ketika nilai segala sesuatu bisa dikonversi menjadi uang.
Ketiga, ibadah yang membutuhkan banyak orang. Nah, pembahasan ini pas sekali dengan kondisi kita sekarang. Apa sih tujuan ibadah yang memerlukan banyak peserta? Orang-orang di masa lalu membutuhkan hal semacam itu untuk membangun solidaritas sosial. Di dalam kebersamaan, apalagi kebersamaan dalam rangka menyembah Tuhan, setiap anggota masyarakat bisa merasakan ketenteraman dan rasa aman. Kohesi sosial dan rasa persaudaraan dibangun melalui ritual-ritual bersama.
Sayangnya, banyak orang yang salah mengartikan tuntunan ibadah bersama ini. Banyak orang menganggap bahwa Tuhan akan lebih mudah mengabulkan doa atau permohonan apabila lebih banyak orang yang meminta. Dianggapnya Tuhan itu bisa dibujuk atau dirayu kalau yang merayunya banyak orang. Atau sebaliknya, dianggapnya Tuhan itu bakal ngambek kalau tempat-tempat ibadah tertentu sepi pengunjung, bakal ngambek kalau yang berdoa kepadaNya tidak dilakukan secara bersama-sama. Padahal seandainya di seluruh dunia ini tidak ada satu pun manusia yang mau sujud lagi, Tuhan mah selow aja. Tuhan tidak pernah butuh atau bergantung pada ibadah kita.
Hal yang paling menentukan terkabul atau tidaknya permohonan adalah kualitas si pemohon, bukan jumlahnya. Dan Tuhan itu bukan kacung yang harus menuruti setiap doa manusia. Jadi sudah pasti orang yang dekat dengan Tuhan tidak akan meminta hal-hal yang sifatnya keduniawian yang justru berpotensi membuat manusia semakin jauh dari Tuhan. Kita sering kali keliru dan malah menempatkan doa-doa yang egois dan duniawi di atas keinginan untuk selalu dekat denganNya.
Manusia bisa saja terjerumus ke dalam tiga kategori ibadah merugikan itu sekaligus. Sudah mah ibadahnya mahal, beramai-ramai, eh ternyata niat di dalam hati karena ingin terlihat mulia di hadapan orang lain.
Saat ini, dalam kondisi krisis dan wabah ini, Tuhan sedang menegur kita supaya mulai menengok ke dalam diri. Tuhan tidak perlu berada di tempat-tempat ibadah. Tuhan bisa hadir di dalam diri kita masing-masing. Bangunlah masjid, gereja, ataupun pura, di dalam hati kita. Jadikanlah hati kita altar yang suci dari segala macam perasaan sombong, iri, dan ego yang tak terkendali. Rendahkanlah diri kita di hadapan keagunganNya. Dengan begitu, kita bisa sujud dan beribadah setiap saat, di mana pun kita mau, dan kapanpun kita butuh. Orang beriman yang sejati pasti akan selalu butuh Dia, kan?
Tidak perlu sedih karena, misalnya, bulan Ramadan kali ini tidak akan bisa melakukan hal-hal yang tahun lalu bisa kita lakukan dengan bebas. Tidak perlu galau kalau misalnya bulan Syawal tahun ini tidak diadakan sholat Ied. Tidak perlu merana kalau misalnya tahun ini tidak ada ibadah Haji. Semua itu adalah simbol belaka. Keagungan Allah sama sekali tidak berkurang meskipun ibadah-ibadah itu tidak bisa kita tunaikan seperti biasanya.
Lagipula, sebetulnya kan ibadah puasa itu ibadah yang tujuannya adalah melatih kita supaya bisa menahan diri. Kalau saya perhatikan, setiap bulan Ramadan tingkat konsumsi umat Muslim bukannya berkurang malah meningkat. Mungkin wabah kali ini adalah teguran agar kita kembali pada makna asal ibadah puasa, yakni menahan diri. Menahan diri dari bermewah-mewahan, menahan diri dari berbagai macam kesenangan dan suka cita yang selama ini kita nikmati begitu saja tanpa banyak bersyukur. Kita diajak untuk benar-benar merasakan prihatin.
Semoga Tuhan memberi kita kekuatan dalam menghadapi segala cobaan yang sedang dan akan menghampiri kita dalam waktu dekat ini. Yang terpenting, semoga Tuhan senantiasa menjaga bahkan meningkatkan keikhlasan kita dalam setiap proses pembelajaran yang kita lalui di dunia ini.
Amin ya robbal… ‘alamin.
Rahayu.