*atau Ratu
1. JANGAN TERLALU DEKAT DENGAN SIAPAPUN
Ada anggapan bahwa seorang pemimpin itu harus dekat dengan rakyat supaya bisa memahami apa yang mereka inginkan. Ini mungkin berguna kalau pemimpin yang dimaksud adalah seorang ketua kelas atau ketua RT. Lain halnya kalau yang dimaksud adalah pemimpin sebuah negeri. Selain secara teknis sangat merepotkan, usaha-usaha untuk mendekatkan diri dengan semua orang akan tampak sangat norak di mata orang-orang yang tidak suka pencitraan.
Sudah merupakan suatu ketentuan bahwa yang namanya pemimpin itu mesti kuat menahan lara yang berupa rasa sepi. Memang banyak orang akan menggandrungi, tapi justru di situ tekanannya. Dari sekian banyak orang itu bisa dipastikan hanya segelintir saja yang benar-benar mengharapkan kebaikan dan kemaslahatan yang tulus–tanpa ada embel-embel ingin jabatan atau harta kekayaan sebagai balasan dari dukungan politik. Bahkan orang dekat yang tadinya tulus pun bisa berubah jadi punya pamrih begitu kekuasaan ada di tangan. Sudah sepatutnya menjaga jarak dengan siapapun. Sebagai langkah tambahan, jauhkan juga keluarga (kalau sudah punya) dari lingkar kerja pemerintahan.
2. PUNYA PERPUSTAKAAN YANG BESAR
Ini sebetulnya tidak mutlak, tetapi sangat disayangkan kalau semua sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Perpustakaan punya banyak kegunaan selain sebagai aset untuk dipamerkan pada tamu-tamu asing. Selain untuk menyimpan buku dengan rapi, perpustakaan juga bisa digunakan sebagai tempat persembunyian atau tempat mencuri secuil tidur siang dari jadwal harian yang padat merayap. Di berbagai sisi interior gedung, termasuk bagian langit-langitnya, bisa dipajang berbagai macam lukisan yang akan membuat pengunjung berdecak kagum dan tak bisa mengelak dari anggapan bahwa si empunya perpustakaan merupakan manusia yang melek seni. Hal semacam ini amatlah ampuh supaya orang-orang tidak menganggap bahwa orang yang memimpin mereka adalah orang udik.
Berbeda dengan perpustakaan pada umumnya, perpustakaan seorang raja sebaiknya memiliki peraturan ketat bahwa buku-bukunya tidak boleh dibawa ke luar gedung. Artinya orang-orang tidak boleh meminjam kemudian membawa buku-buku itu pulang ke rumah. Kejahatan semacam itu harus berat hukumannya, bahkan lebih berat ketimbang nyolong sekalian. Walaupun sudah jelas bahwa orang-orang yang boleh masuk ke dalam gedungnya amat terbatas, baiknya peraturan utama itu tetap ditegakkan dengan tanpa keraguan sedikit pun.
3. MEMELIHARA KAKTUS
Pada umumnya orang-orang besar suka memelihara hewan-hewan eksotis seperti singa, harimau, atau budak manusia. Sebetulnya hal semacam itu sangat tidak praktis dan juga tampak urakan. Semua makhluk yang disebutkan tadi itu termasuk makhluk yang high maintenance atau dalam bahasa yang lebih simpel: mudah bikin dongkol. Di alam ini ada banyak sekali makhluk lain yang bisa dipelihara. Salah satunya kaktus.
Bukan tanpa alasan bahwa kaktus itu sangat baik untuk dijadikan tanaman kesayangan. Dalam kondisi kepepet, kaktus bisa dijadikan senjata yang lumayan ampuh untuk melukai musuh. Meskipun belum ada penelitiannya, tetapi kaktus dipercaya dapat memahami relung perasaan tuannya. Jadi tidak perlu repot-repot menyewa ahli jiwa atau semacamnya. Cukup utarakan saja semua unek-unek yang ada kepada kaktus. Mereka akan menyerap keluh kesah manusia sebagaimana mereka menyerap karbon untuk fotosintesis.
4. HINDARI MAKANAN & CAMILAN MANIS
Ini sudah jelas betul alasannya. Tidak ada keraguan. Diabetes.
5. JANGAN MENGANGGAP ENTENG SEORANG ANAK BUNGSU
Kerap terjadi di berbagai kebudayaan, anak bungsu dianggap tidak punya kapasitas yang mumpuni untuk berpendapat. Dalam konteks pemerintahan, anak bungsu yang dimaksud adalah pejabat yang masuk jajaran ketika usianya masih belia. Meskipun pemuda/i semacam ini tentunya minim pengalaman dan sifatnya lugu (cenderung naif), mereka tetap harus dihargai pendapatnya.
6. UTAMAKAN PENDIDIKAN
Banyak negeri yang memiliki anggaran militer lebih besar dibandingkan anggaran pendidikan. Di dunia yang memang masih kacau balau dan cukup memalukan ini, sepertinya memang tidak mungkin untuk mengharapkan anggaran pendidikan mendapatkan porsi yang paling besar dalam setiap rapat perencanaan anggaran. Tidak masalah. Dengan dana yang ada (tetapi tidak seadanya), sebetulnya pemerintahan yang cerdik tetap bisa mengelola sistem pendidikannya dengan baik. Hal ini bisa diwujudkan melalui sikap resmi (undang-undang) atau sikap politik (gerak-gerik dan pernyataan di depan publik).
Misalnya, setiap lima tahun, pemerintah bisa mengeluarkan undang-undang baru yang mengatur prioritas pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Tentu sulit, disebabkan dana yang terbatas tadi, untuk menyelesaikan semua masalah fisik di dunia pendidikan secara menyeluruh. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah aturan guna mendahulukan hal-hal yang sifatnya krusial. Nomor satunya adalah akses.
Bagaimana supaya pendidikan bisa mencapai pelosok daerah tanpa perlu mengubah daerah tersebut menjadi urban? Bagaimana supaya guru-guru yang punya jiwa mengabdi yang tinggi tidak kecewa dan merasa dikhianati negeri sendiri? Bagaimana supaya hal pertama yang dipikirkan oleh pembuat kebijakan ketika hendak membangun suatu daerah adalah menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat integrasi sosial daerah tersebut? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak akan terjawab sendiri. Harus ada manusia waras yang mengutak-atik kepalanya supaya mereka semua bisa terjawab dengan benar.
Adapun mengenai sikap politik terhadap pendidikan, mudah saja menerapkannya. Jangan berikan senyuman kepada pejabat eksekutif yang punya anggapan bahwa anggaran militer memang seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan anggaran apapun, dan bahwa hal itu adalah pakem dunia yang tidak akan pernah berubah. Bila perlu tak perlu menerima uluran tangan mereka saat hendak berasalaman.
Atau bisa juga dengan muncul di televisi setiap pagi untuk memberikan semangat kepada setiap peserta didik yang ada. Akan lebih mengasyikkan jika dilakukan sambil membaca surat-surat terbuka yang mereka kirimkan ke redaksi istana.
7. PERCAYA DIRI TETAPI TETAP TAHU DIRI
Ini penting sekali. Banyak pemimpin yang gagal mengantarkan rakyatnya menuju kemaslahatan karena tidak punya rasa percaya diri atau justru terlalu percaya diri sampai-sampai tidak tahu diri. Memang, untuk bisa menakar kadarnya yang pas butuh latihan yang panjang, bahkan mungkin seumur hidup. Namun, mengingat urgensi dan signifikansi-nya, tentu saja hal itu tetap layak untuk dilakukan.
Tips: Setiap pagi, berdirilah di depan cermin. Jika merasa tidak berguna, berujarlah, “Semua orang juga memang tidak berguna kalau tidak mau diajak bekerja sama.” Sebaliknya, jika dirasa bahwa apa yang dikerjakan amatlah penting, ucapkanlah, “Ini semua cuma pekerjaan.”
8. KUASAI TEKNIK BELA DIRI JARAK DEKAT
Bebas pilih apa saja, yang penting efektif. Hal ini diperlukan sebagai antisipasi karena semakin besar kekuasaan yang dipegang oleh seseorang, semakin banyak juga orang dungu yang merasa iri. Memang sih ada pengawal, tetapi mereka juga tetap saja manusia biasa, bukan malaikat yang tidak mempan disuap.
Akan menjadi poin plus jika menguasai penggunaan salah satu senjata close combat seperti pisau, palu, atau kaktus.
9. BICARA SECUKUPNYA
Tampak simpel tetapi sebetulnya sulit dilakukan. Lagi-lagi, butuh latihan panjang.
10. MENULIS BUKU HARIAN
Catatan yang rapi dan informatif merupakan aset yang sangat penting bagi keberlangsungan suatu negeri. Jangan lupa membubuhkan tanggal dan suasana umum yang dirasakan ketika menulis catatan. Suasana umum yang dimaksud bisa berupa musim, kondisi sosekbud polhankam, atau sekadar suasana hati saja. Tidak perlu malu. Bukanlah hal yang buruk apabila ingin membantu para arkeolog di masa depan. Dan semoga gaji mereka dinaikkan.
11. BIASA SAJA
Tidak perlu heboh. Tidak perlu merasa bangga. Jangan juga berkecil hati atau merasa tak becus. Kerjakan sebaik-baiknya, demi diri sendiri, jangan demi orang lain.