Lunarisla


Membakar Api

Aku dan Ayah sering berkemah di halaman belakang rumah. Hanya kami berdua. Nenek selalu marah kalau tahu aku berkemah di belakang rumah.

Dalam benakku, Ayah adalah orang yang tidak suka bergaul. Kecuali denganku. Tetapi menurut penuturan Nenek, ia tidak selalu begitu. Pernah ada suatu masa Ayah sangat senang bersosialisasi dengan orang lain. Sejalan dengan profesinya sebagai manajer sales di sebuah perusahaan asuransi.

Semuanya berubah ketika Ayah kehilangan istrinya, ibuku, ketika melahirkanku.

Suatu malam, di acara kemah belakang rumah bersama Ayah, secara mengejutkan Nenek ikut nimbrung. Nenek duduk di dekat api unggun kecil yang sudah kami nyalakan.

Ini sungguh momen langka. Aku hampir tak ingat pernah melihat mereka berdua ada di satu tempat yang sama.

Nenek masih tidak mau menatap Ayah.

“Dulu Kakek kamu juga senang bikin kemah.” Nenek tersenyum tipis. Aku bisa melihatnya dengan jelas sebab wajah Nenek disinari oleh cahaya dari api. “Nenek juga jadi suka. Bertahun-tahun Nenek mengamati bintang lewat teropong, sibuk bikin perhitungan dan penelitian, Nenek hampir lupa betapa cantiknya langit malam. Kakek kamu yang ingatkan Nenek lagi.”

“Kakek orangnya seperti apa, Nek?” Aku tak pernah bertemu dengannya.

“Kakekmu pekerja keras. Nenek belum pernah bertemu orang segigih dia.”

“Maksudnya gigih dalam hal apa, Nek?”

“Segala hal.” Nenek tersenyum lebih lebar, seperti mengingat sesuatu. “Tapi yang paling gigih adalah perjuangannya untuk meluluhkan hati Nenek.” Nenek memejamkan mata, seakan tengah mengunduh memori tentang cerita yang akan ia sampaikan. “Kamu tahu berapa lama dia kejar-kejar Nenek sampai dapat?” Kurasa itu pertanyaan retoris. Aku menggeleng pelan. “Sebelas tahun. Coba kamu bayangkan. Orang macam apa yang setia jatuh cinta selama sebelas tahun? Dari mulai masuk SMA, sampai kuliah, setelah lulus kuliah Nenek melanjutkan ke Australia, dia ikut juga. Bahkan sampai Nenek ambil doktor di sana.”

Cukup mengesankan. Batinku.

“Kenapa dulu Nenek sempat menolak?”

“Dulu Nenek nggak mau pacaran. Dan memang pada akhirnya Nenek nggak pernah pacaran. Ketika Nenek menerima perasaan dia, kami langsung menikah.” Nenek tersenyum sambil memejamkan mata. Sepertinya itu masa-masa yang indah dikenang olehnya. Awalnya kukira begitu, tetapi selang beberapa saat, Nenek malah menitikkan air mata.

“Seandainya Nenek bisa menerima perasaannya lebih cepat, mungkin Nenek juga bakal bisa menerima kepergiannya dengan lebih lapang dada.” Nenek mulai terisak. “Bertahun-tahun Nenek menolak kenyataan itu.” Menurut cerita yang kuketahui sebelumnya, kakekku meninggal waktu ayahku baru lahir.

“Nenek pasti sayang banget sama Kakek.”

Aku menghampiri Nenek untuk memeluknya. Di dalam pelukanku, isak tangisnya malah semakin menjadi-jadi. Tidak pernah sebelumnya kulihat Nenek begitu emosional.

Beberapa saat kemudian, setelah tangisannya berhenti, Nenek memegang pundakku dan menatap mataku lekat-lekat.

“Kehilangan orang yang kita sayang adalah konsekuensi yang mesti kita terima sebagai seorang manusia. Kalau kita terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, dan lupa melihat kenyataan, atau bahkan enggan, bayangkan betapa sedihnya mereka yang pergi meninggalkan kita.”

“Bukannya orang meninggal itu sudah nggak bisa merasakan apa-apa lagi ya, Nek?”

Nenek tertegun dan hanya menatap mataku. Berusaha menemukan entah apa.

Apa yang dicarinya? Kenapa Nenek mengucapkan kata-kata itu padaku?

Lama-lama aku jengah.

“Sudah, ah. Aku ngantuk.” Aku melepaskan diri dari tangan Nenek. Beranjak masuk ke dalam tenda. Nenek bergeming di tempatnya. “Nek, kata Ayah, Nenek juga harus cepet tidur. Udah malem. Di luar dingin.”

Wajah Nenek tanpa ekspresi. Selang beberapa saat, Nenek pun masuk ke dalam rumah.

“Tumben, ya, Nenek mau ketemu sama Ayah. Ah, tapi tadi Ayah kok kayak takut-takut gitu sih? Hah? Nggak lah, ngapain aku bikin skenario buat kalian berdua? Kayak nggak ada kerjaan aja. Enak aja. Ayah kali yang bosen. Masa sih? Oh, yang dekat jalan tol itu ya? Kayaknya seru sih.”

Api unggun kecil semakin padam.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai