Lunarisla


Pengap

“Demi apapun ya, Pak Sukran, saya ini kalau diajak ngomong soal apapun, pasti bisa. Apapun.” Pria itu mengambil korek gas di atas meja. “Jadi, kalau Pak Sukran lagi butuh saran soal apapun, saya pasti bisa kasih masukan.” Lanjutnya. Kemudian dia menyundut sebatang rokok yang sudah dikeluarkannya dari bungkus sejak lima menit sebelumnya.

“Kata orang-orang, lulusan sarjana Filsafat itu nggak ada gunanya, tapi Pak Sukran tahu nggak? Kemajuan teknologi yang bisa kita nikmati hari ini, itu ya berkat dulunya dimulainya oleh para itu.”

Kepulan asap rokok memenuhi ruangan.

“Kalau menurut yang saya baca, dunia ini sebetulnya dikendalikan sama segelintir orang aja, Pak Sukran. Bapak pengen tahu nggak?”

“Tapi mungkin ini informasi yang berbahaya, ya?”

“Bener banget, Pak Sukran. Tapi tetap menarik untuk diperbincangkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

“Pasti orang-orang sebetulnya kepingin untuk tahu, tetapi mereka itu kebanyakan nggak ada waktu atau memang malas saja mencari tahu. Ya, namanya juga itu ya.”

“Budak kapitalis gitu lah. Biasa. Kayaknya, tapi, cuaca hari ini lagi bagus kalau menurut terawangan saya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak tahun lalu saya bisa melihat terus yang namanya awan mendung sama peristiwa-peristiwa kelam yang akan terjadi pada bangsa besar yang pengecut ini.”

“Kenapa ya kita jadi pengecut?”

“Tidak perlu dipikirkan lah. Yang jelas sekali pengecut, tetap pengecut.”

“Sudah gitu tidak mau untuk berbenah diri. Dikiranya dunia ini cuma ada yang ini saja.”

“Saya sudah sering bilang sama mereka, Pak Sukran, bahwasanya di dalam struktur masyarakat kita yang masih amat feodalistik ini diperlukan semacam katarsis. Sayalah orangnya itu.”

“Pada nggak percaya. Malah ngetawain.”

“Padahal selama ini mereka belajar dari siapa kalau bukan dari saya?”

“Niatnya bagus padahal.”

“Ingin membantu orang sadar supaya nggak terbelenggu sama hasrat-hasrat duniawi yang dijejalkan sama para penguasa kapital tahi anjing.”

“Bodat.”

“Silit beruang air.”

Abu rokok sepanjang 2 senti jatuh ke lantai. Rokok di tangannya tak ia hisap selain hisapan pertama ketika menyundutnya.

“Padahal ada lebih banyak hal yang perlu ditakutkan selain nggak bisa dapat uang.”

“Uang memang racun, ya.”

“Mungkin memang manusia saja yang dongo, Pak Sukran. Padahal uang ya buatan manusia-manusia juga. Sama aja kayak agama dan prostitusi. Ngentotnya mungkin nggak manusia, tapi profesinya? Jelas manusia.”

“Apa-apa memang manusia.”

“Sebetulnya nggak juga. Banyak, hampir seluruhnya, peristiwa terjadi berdasarkan oleh aturan mereka.”

“Pasti penasaran.”

“Soal mereka itu memang rahasia di atas sumber rahasianya rahasia peradaban dunia. Bapak tahu soal Lemuria nggak? Wah, itu nggak ada apa-apanya, Pak Sukran.”

“Sudah bangkit?”

“Malah sebetulnya nggak pernah menghilang ke mana-mana. Masyarakat saja yang nggak aware. Kan memang pada buta orang-orang.”

“Menyedihkan.”

“Iya.”

“Tapi kan memang bukan kuasa manusia.”

“Memang. Tapi nggak semua. Tetap saja manusia tidak bisa dilepastangankan dari tanggung jawab. Sebab kesadaran itu sesuatu yang perlu dipreteli suatu saat nanti. Kesadaran nggak pernah mati, Pak Sukran. Badan bisa mati. Kesadaran nggak. Dia cuma bisa pindah-pindah saja.”

“Kayak jiwa.”

“Memang jiwa. Jadi sebetulnya ada yang menyangka bahwa jiwa itu sesuatu yang klenik, padahal nggak sama sekali. Kesadaran itu ya jiwa. Cuma beda bahasa aja. Dia akan ada terus, nggak tahu sampai kapan. Ini antara bagus dan nggak sih. Ngeri juga kalau dibayangkan. Tapi sebaliknya pun ngeri, yakni kemusnahan.”

“Paradoks.”

“Nggak banyak orang yang ngerti. Tapi buat apa juga sih?”

“Buat pamer.”

Tertawa dia besar sekali. Sampai berurai air mata. “Mau pamer kepadaku seperti orang tolol. Ibarat kunang-kunang merasa lebih digdaya di atas matahari.”

Rokok di tangannya sudah tinggal 3 senti. Ia mengamati bara api yang berpijar terang di ujungnya.

“Dunia akan terbakar dengan sendirinya. Tak perlu kaki tangan Tuhan atau siapalah itu.”

Dilemparnya puntung rokok itu ke dinding. Terjatuh, ikut berserakan dengan belasan puntung rokok lainnya yang sudah dibuang duluan.

Pria itu mengambil sebatang lagi dari dalam bungkus.

“LEPASKANLAH…!!! IKATANMU… DENGAN AKU… BIAR KAMU SENANG!”

Matanya memejam sekuat yang ia bisa. Seperti tak sudi ada celah walau segaris.

“HARE ENEEE! HAREEE YANG KAU TUNGGU!!”

Tiba-tiba, ia berusaha menabrakkan dirinya ke tembok. Gagal, tentu saja. Karena kakinya tertahan oleh sesuatu.

“AKULAH PENJAGAMU!! AKULAH PELINDUNGMU…!!”

Perlahan ia menjongkok. Bersandar pada pinggiran kasur. Isak tangisnya mulai terdengar jelas. Lalu bereskalasi menjadi raungan.

Setidaknya lima menit pria itu menangis meraung-raung.

“NENIIIII….!!!!!!!”

Suara teriakannya bulat dan bising.

“Anjing.”

Rokok di tangannya terlepas, jatuh ke samping jempol kakinya.

“Uhhh… sayang… maafin aku ya…” ujarnya seraya memungut kembali rokok itu, dengan amat hati-hati seolah-olah hendak menggendong bayi baru lahir.

Sekilas ekspresinya seperti seorang ayah yang penuh sayang. Sejurus kemudian wajahnya kembali menjadi hilang.

Diambilnya korek gas yang tadi, disundutnya lagi rokok. Kali ini dia merokok seperti seorang penyair. Penuh dan dalam. Mirip orang tengah beribadah.

Tatapannya…

“Sudah lama kerja di sini, Mas?”

Gerakan tanganku yang sedang menuliskan sesuatu di atas kertas seketika berhenti. Kuamati tatapan mata pria lusuh berjarak 3 meter di depanku itu.

Aku mengangguk dan menyunggingkan seutas senyum.

“Capek, nggak?”

Aku menggelengkan kepala sebanyak tiga kali.

“Saya capek.” Wajahnya menunduk setelah berucap.

Setelah rokoknya habis, ia menaruh puntungnya ke dalam asbak di atas meja. Lalu pria itu mengambil posisi berbaring menyamping, memunggungiku yang duduk di atas sebuah kursi.

Aku melanjutkan menulis di atas kertas laporanku. Aku membubuhkan angka ‘30’ di sebuah kolom setelah mengecek jam di tanganku. Kupandangi punggung pria itu, tampak ritme pernapasannya sudah mulai melambat, pertanda ia sudah betulan terlelap.

“Selamat tidur, Papa.”

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai