Lunarisla


Sukar

Jui, tidak kusangka kita berpisah begitu cepat.

Kau hampir tidak pernah mengalah.

Kau selalu lebih dulu. Menang. Menjadi orang gagah.

Sejak lahir. Kau anak walikota. Aku anak tanpa bapak.

Kau tumbuh bergelimang harta. Aku berkawan lapar dan dahaga. 

Aku salut.

Sejak pertama kita ketemu, aku sudah tahu. Kau bukan orang biasa. Ada api di matamu. Dalam kepalan tanganmu, Jui. Juga tenggorokanmu yang tidak pernah kehabisan napas.

Aku menjadi temanmu. Rakyat tak percaya. Biarkan saja. Kau tetap cs-ku.

Lalu Nirma datang. Gadis berlian itu. Tidak alang kepalang, seluruh pria yang ada memuja dia. Termasuk kita. Memang keterlaluan. Bahkan orang buta saja bisa. Mengaguminya. Sayang padanya.

Kehadiran yang membuat dunia sedikit berkurang nista.

Tanpa perlu pikir. Kau lamar Nirma. Dan tanpa ada konflik rasa, kutemani kau meminangnya. Aku bisa melihat jiwamu hampir meloncat keluar. Melihat Nirma. Juga hampir lompat dari sana. Kamar tidurnya.

Aku merestuimu. Meskipun aku bukan bapakmu. Jui, bercintalah. Tak perlu pusingkan masa yang ada untuk sementara. Reguk semua hasrat yang baru. Mabuk saja.

Aku damai.

Kenapa kita tak perlu beradu kepala? Untuk apa juga? Kan, sudah jelas peta yang ada. Kau raja, aku ini jelata—kalau tak mau disebut jongos. Aku sendiri bukan manusia melankolis yang meratapi betapa hidup tidak tersusun oleh keadilan. Justru sebaliknya.

Aku tak pernah ambil pusing dengan hatiku sendiri, Jui. Bagi kami perut dulu yang perlu dijaga. Cinta belakangan. Itu pun kalau masih ada sisa tenaga.

Nirma… Nirma…

Mau kau secantik Dyah Pitaloka, atau parasmu tiruan Cleopatra, tak ada bedanya bagiku. Asal kau seorang wanita. Sudah cukup itu.

Aku ini seperti kerumunan batu-bata. Tentu tak tampak oleh pandanganmu. Tentu kau tak kenal. Tapi memang tak perlu. Toh, nama hanya tertera di dalam kartu. Bukan DNA.

Seandainya kau tahu, Nirma, jikalau dunia ini nista, pasti dirimu protes pada Yang Maha Kuasa. “Hei, Bangsat, mengapa kau bikin manusia tak ada bagus-bagusnya?” Aku tahu.

Kau bergeming.

Aku ragu kau akan melawannya. Aku yakin malu dalam dirimu melebihi gunung dan samudera. Kehormatan lah segala bagimu, Nirma. Kau lebih sudi berbohong pada bajumu sendiri. Pada kamar tidurmu. Dan kelak pada jabang bayi yang kau kandung itu.

Namun. Kita semua berdosa. Tenang saja.

Kalian semua juga, rakyat melarat. Jangan merasa jumawa. Tak ada korban di neraka ini. Kita semua tersangka. Terdakwa.

Kesetaraan yang kalian idam-idamkan tidak pernah layak untuk ada. Bahkan sekadar membayangkannya saja terasa ganjil. Mengganjal.

Orang bajingan yang berkuasa. Mirip belaka dengan orang pasrah yang dicelakainya. Beda arah saja. Duduk perkaranya pada siapa yang menganggap dirinya biasa. Bukan tuhan. Bukan pula budak yang hina.

Memang demikian susah. Kacau. Kalian mengira jadi baik itu ada pakemnya. Ada tata cara yang selamanya benar. Tak mau kalian tanggung sendiri, inginnya jadi ekor saja seterusnya.

Tidak. Lihat saja. Lihat alam raya.

Kau ini bagian darinya, bukan? Kalian bertubuh, makan, dan berkawin melalui darah dan daging. Satu-satunya yang bukan kau adalah pikiranmu sendiri.

Sayangnya.

Guna menghibur diri, kalian bilang semua hanyut dalam rencana takdir. Seolah kau tahu seluk-beluknya. Seakan terjamin. Kisahmu.

Apa tidak mudah membuka mata? Apa sesulit itu membopong hidupmu sendiri? Mau sampai kapan menumpang eksis pada nasib?

Perlu diterangkan lagi, ya. Seharusnya dari dulu. Sejak dini. Walau mustahil aku kembali, tapi semoga kata-kata ini sampai. Merambat dalam. Menjangkit.

Satu.

Raup wajahmu dengan tanah debu.

Mandikan kulitmu dengan curah hujan pertama.

Basuh mayatmu dari luka-luka yang sementara.

Rapalkan mantra. Jadilah tiada.

Dua.

Aku menanti kalian semua. Di ujung dunia perantara. Di dalam kubur. Di dalam abu. Atau sebuah peti mati.

Tiga.

Jaga pola makanmu, Nirma.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai