Gilang, kita bertemu lagi di waktu yang amat tepat — di hari pernikahanku.
Aku melihatmu tersenyum tulus, mendoakan segalanya. Aku begitu terharu bahwa kamu datang. Menyempatkan diri, jauh-jauh dari Argentina.
“Nggak mungkin, lah,” ujarmu, ketika kukatakan bahwa kamu tak perlu berkorban waktu dan tenaga sebanyak itu — bahwa kamu bisa saja sekadar mengirim video ucapan selamat.
Aku selalu kagum dengan dedikasimu pada teman-temanmu. Tak peduli seberapa jauh atau dekatnya mereka, kamu selalu memastikan dirimu hadir. Tidak sekadar nama, tapi sungguh ada dalam raga. Itu menakjubkan, nyaris sinting.
“Ya, emang sih. Soalnya bakal mencoreng rekor lo, ‘kan?” Seloroh seorang kawan.
“Rekor apa?” Tanyaku.
“Gilang itu nggak pernah absen datang ke pernikahan teman sekelas. Bener nggak?”
Semua kawan lain mengangguk.
“Bahkan pernikahan si Fuad yang jauh banget di Ujung Kulon itu, lo juga dateng, ‘kan? Cuma lo doang waktu itu, ‘kan?”
Kamu tersenyum ke arahku.
“Enak aja, gue juga dateng,” sahut kawan lain. “Waktu itu cuma bertiga — gue, Gilang, sama nih pengantin.” Ia menoel lenganku.
“Lo, Ferdi, katanya mau dateng, Lo. Gue nungguin dari subuh tauk! Dasar PHP!”
Tawa meledak.
Di hari pernikahanku yang sungguh terasa sempurna itu, semua orang tertawa.
Gilang, kamu boleh memegang rekor sebagai orang yang tak pernah absen datang ke pernikahan teman sekelas, tapi aku memegang rekor sebagai pengantin yang dihadiri semua teman sekelas. Tak ada satu pun yang absen. Setelah kupikir-pikir, kamu lah kuncinya. Maka pantas kalau aku girang bukan kepalang melihat rambut ikalmu nongol pagi ini.
Sebagai fotografer alam, kamu hidup nomaden sejak lulus SMA. Awalnya menclok di pulau-pulau Indonesia, lalu ke negara-negara tetangga, dan akhirnya melompat kian jauh. Bulan depan kamu bisa saja pindah tugas ke Antarktika, memotret penguin — dan aku tidak akan heran. Kamu bilang itu impian tertinggimu.
Banyak yang ingin kutanyakan padamu, Lang.
Kabar ayahmu dan kura-kura peliharaannya — apa sudah beranak?
Musim-musim apa yang kamu lalui di luar sana?
Meskipun sudah sering kamu ceritakan, rasanya aku tak pernah puas mendengarnya.
Dan tentu saja, aku akan selalu jadi penggemar nomor satu foto-foto hasil jepretanmu.
Aku ingat dulu kamu pernah bercerita hampir diterkam buaya di Tanzania karena local guide-nya bloon, atau saat kamu pura-pura mati di depan beruang tapi si beruang malah ikut pura-pura mati. Atau tentang air terjun indah yang airnya tampak biru di jam-jam tertentu, tapi baunya bikin mau muntah.
Aku merasa terhormat mengetahui cerita-cerita di balik fotomu — kisah yang mungkin tak pernah diketahui banyak orang.
Banyak orang kerap bertanya sampai kapan kamu akan melanglang buana. Pertanyaan yang aneh menurutku. Beberapa dari mereka memang berniat baik. Mereka pikir, dengan menetap, kamu akan bahagia. Padahal, bagi kita berdua, patah hati itu sudah lama usai, ‘kan? Benar, ‘kan, Lang?
Kita paling paham: niat baik saja tak cukup.
Yang utama adalah perbuatan.
Yang utama adalah perilaku.
Yang utama adalah apa yang bisa kau berikan untuk orang yang berarti bagimu.
Cinta saja tidak ada apa-apanya.—
“Vin, aku balik dulu ya. Nanti catch up lagi bareng yang lain. Eh, jam tujuh kan after party-nya?”
Kamu berpamitan untuk pulang sebentar. Tapi sore nanti kamu pasti kembali. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Sekali lagi, selamat ya. This is the best day of your life. Semoga kamu dan… suami… sehat terus. Langgeng. Panjang umur dua-duanya.”
Kamu sempat ragu untuk memelukku. Untung aku merengkuh terlebih dulu. Aku berbisik, tak sabar mendengar ceritamu tentang Argentina.
Kesibukan beramah-tamah menyita seluruh perhatianku. Untung saja acaranya terjadwal rapi, jadi aku bisa beristirahat sejenak sebelum pesta malam (khusus teman sekelas). Di kamarku — yang sudah didekorasi seperti kamar pengantin — aku memperhatikan suamiku yang sedang berbalas pesan lewat tablet.
“Kamu nggak bales-balesin ucapan selamat di Instagram?” tanyanya dari balik kaca mata.
Wajahnya tampan saat begitu, tatapan seriusnya membuatku sedikit hilang akal.
Aku bertanya apakah dia tidak capek seharian bertemu orang lalu harus meladeni orang lagi lewat handphone.
“No. It’s just like my ordinary days.”
Aku lumayan lelah — tapi sedikit birahi. Aku menimbang-nimbang apa yang akan terjadi jika aku mengajaknya bercinta saat itu juga. Seolah membaca pikiranku, suamiku meletakkan tablet dan kacamatanya.
Lalu dia menanggalkan pakaiannya — juga pakaianku.
Energiku sedikit kembali setelah bercinta. Kami makan malam lebih cepat karena hendak menyambut teman-teman di after party.
Seandainya aku boleh jujur pada dunia, satu-satunya alasanku masih mau bersosialisasi hanyalah demi mendengar ceritamu lagi.
Sejak dulu kamu pencerita ulung. Entah bagaimana caranya kamu memikat orang dengan hal-hal sepele — terpeleset di kamar mandi, melihat kucing kawin di atap masjid, cerita tentang bapak sendiri. Semua orang bisa melihat hal itu, tapi hanya kamu yang bisa membuatnya berarti.
“Vin, Gilang belum dateng?” Tanya seorang kawan. Rupanya dia pun serupa, tak sabar menunggu sang juru cerita.
Kamu orang paling mudah diajak nongkrong, dimintai bantuan, atau didatangi untuk curhat, tapi menghubungimu lewat ponsel lebih sulit daripada mendaratkan orang di bulan.
Dulu, semasa sekolah, kami tinggal mendatangi rumahmu. Setelah dewasa, hanya nomor telepon usang yang kamu tinggalkan sebagai tali penghubung dengan kami semua.
“Di dunia ini mungkin cuma Vindy yang pernah nelpon si Gilang dan berhasil diangkat,” kata seorang kawan.
Aku tersenyum sekenanya.
Percakapan pun bergulir panjang. Semua orang membicarakanmu — antara kagum, rindu, dan sedikit iri.
Waktu terus berjalan hingga acara usai. Semua orang pun pulang. Suamiku tertidur.
Dan kamu — akhirnya datang.
“Maaf, tadi ada urusan urgent. Wah, telat banget nih.”
Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku ajak kamu duduk di ruang tamu. Kukeluarkan semua makanan ringan dan minuman yang ada. Mataku yang tadi ngantuk kembali terang.
“Malin gimana, Vin? Tadi di resepsi nggak sempet ngobrol. Katanya bulan lalu habis operasi ya?”
Malin — Mama Linda — ibuku. Cuma kamu orang luar yang cukup dekat hingga memanggilnya begitu.
Aku menjelaskan kondisinya. Kamu tampak lega.
“Oh iya, kamu udah nemu kampus buat S-2 kamu?”
Aku bercerita tentang rencanaku, juga kompromi yang harus kulakukan jika suamiku dipindahtugaskan ke London.
Tapi cukup soal aku.
Giliranmu, Gilang. Petualangan apa yang menantimu selanjutnya?
“Aku rasa udah cukup,” katamu.
Hah?
“Aku bakal pulang, Vin.”
Ya, ini kan memang sedang pulang, Gilang. Kamu tahu bukan itu maksudku.
“Tadi aku terlambat karena ngurus pengiriman barang-barangku dari Argentina.”
Aku terkejut. Hatiku gusar. Ini tidak wajar.
Tunggu. Bukan aku yang tak wajar. Kamu.
Capek?
“Bukan soal itu. Capek pasti. Semua juga capek, ‘kan?”
Lantas?
Kamu hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu.
Otakku menolak menerima.
Dalam pikiranku, seorang Gilang Dharmawangsa akan selalu nomaden, berpindah benua setiap bulan.
Mungkin maksudmu, kamu mau mulai jelajahi Indonesia lagi?
“Aku nggak akan ke mana-mana lagi, Vindy.”
Brengsek.
Entah. Emosiku membludak.
“Aku sudah selesai melarikan diri.”
Jangan diteruskan.
“Sekarang semua sudah cukup. Buatku, juga buatmu. Kita udahan ya, main kabur-kaburannya. Aku minta maaf udah bikin kita capek.”
Omong kosong.
“Kamu harus percaya, hari ini ngelihat kamu, di sini, sama semua orang… aku juga bahagia, Vin. Aku serius.”
Bajingan. Kalau kamu bahagia, kenapa matamu berkaca-kaca?
“Aku bahagia. Ini karena aku seneng, Vin.”
Aku ngerti setiap inci wajah kamu, Gilang. Kamu bisa bohongin semua orang, Tuhan juga mungkin, tapi nggak dengan aku.
Dadaku. Kepalaku.
Rasanya ingin meledak.
Hening membuat segalanya lebih ngilu.
Tolong berhenti menatap!
“Aku nggak akan ganggu kamu. Nggak ada yang berubah di antara kita. Dan kamu juga kemungkinan besar bakal ke London, ‘kan?”
Kamu salah. Memang nggak ada yang perlu berubah karena emang nggak ada apa-apa di antara kita. Kamu ngigo, ya?
“Kamu pasti bakal bahagia. Dia orang paling cocok buat kamu.”
Anjing, Lang! Jangan bawa-bawa suamiku.
“Sebetulnya tujuanku ke sini cuma mau kasih kamu ini.”
Untuk apa?
“Buat lengkapin koleksimu. Semua foto yang kukasih ke kamu nggak bakal dipublish. Foto-foto itu kuambil cuma buat kamu.”
Kamu tentu tahu aku tak benar-benar mengoleksi foto alam liar.
“Ini yang terakhir. Untungnya udah lengkap semua benua.”
Otakku kosong. Aku tak menyadari lagi apa yang kamu ucapkan selanjutnya.
Kenapa ya jadi begini?
Begini bagaimana, memangnya? Semua baik-baik saja, ‘kan?
Tidak ada yang berubah, ‘kan?
Ya. Tidak ada.
Apa pentingnya foto-foto?
Apa pentingnya seseorang yang tadinya nomaden tiba-tiba menetap?
Apa pentingnya jarak yang kini bisa kuraih dengan satu langkah?
Kenapa malam makin dingin?
Kenapa udara makin hening?
Kenapa dunia ini cuma ada kita berdua?
Ke mana orang-orang?
Ah, mereka memang tak ada sejak awal.
Tak perlu dipikirkan. Semua akan baik-baik saja.
Kita ini manusia, bukan? Sedikit percaya diri lah pada keteguhan hati manusia.
“Kalau gitu aku pamit ya, Vin.”
Jangan. Jangan berani-berani berdiri.
“Salam buat teman-teman. Buat Malin. Buat Bapak. Juga buat… Andre.”
STOP!
Berhenti. Jangan menantang kewarasanku, ya!
Gilang.
GILANG!!
Aku menunduk menekuri karpet. Aku tahu akan seperti apa.
Sia-sia.
Jangan protes kalau kulit lenganmu memerah.
Jangan protes juga foto-fotomu jadi lecek.
“Ini belum lengkap, Gilang. Nggak ada penguin.”
Aku menatapmu nyalang.
Lihat aku baik-baik.
Aku tahu kita memang tolol.
Berhenti tersenyum.
Untuk apa kalau cuma tersenyum, goblok?
Jangan cuma aku.
Dunia berdua kita yang cipta.
Tinggalkan komentar