Ustadz Kamran punya seorang istri bernama Soliha. Istrinya ini dari dulu, dari sejak mereka saling mengenal di bangku SD, memang sangat pendiam. Wajahnya pun sangat minim ekspresi. Hampir tidak pernah tertawa. Kalau tersenyum seperlunya. Tidak pernah menangis juga.
Kamran muda sempat menyangka Soliha bisu, yang mana hal itu justru membuatnya bersimpati, dan kemudian menaruh hati. Betapa kagetnya Kamran ketika malam itu, malam mereka menikah, Soliha berkata, “Aduh!”.
Soliha yang memang pada dasarnya pendiam menjadi jauh lebih pendiam setelah suatu hari sebuah kecelakaan nahas menimpanya. Ia jatuh di kamar mandi. Kamran sungguh menyangka istrinya itu jadi betulan bisu tersebab jatuhnya. Bisa jadi benar.
Kamran sendiri, sebaliknya, malah jadi lebih banyak bicara setelah kejadian itu. Sebelumnya dia hanya berbicara kepada Soliha kalau lagi butuh saja.
“Liha, kopi!”
“Liha, pijitin!”
“Nunggingnya yang bener dong!”
Hanya berupa kalimat perintah. Soliha tak pernah menjawab, ia hanya patuh.
Semua berubah. Omongan Kamran tak ada lagi yang berupa perintah.
Memang betul bahwa Soliha tidak juga buka suara. Bagian itu tetap.
Namun, meski semakin tidak bicara, wajah Soliha kini jadi kaya eskpresi. Ia selalu menanggapi celoteh Kamran dengan antusias.
“Gue yakin banget sih duit itu ditilep sama si Roy. Dari awal gue udah ngira itu anak kagak bisa dipercaya. Untung aja gue nggak sempet nanya ke Mbak Sasti. Mau ditaruh di mana muka gue? Iya, kan, Liha?”
Soliha mengangguk-angguk sambil sedikit memanyunkan bibirnya, menunjukkan ekspresi kesal.
“Liha! Akhirnya gue dapet program pagi yang jam 6 itu! Kita bakal segera pindah dari rusun ini. Kamu nggak perlu lagi turun-naik tangga buat beli galon.”
Soliha tersenyum lebar.
“Aku tahu aku lumayan telat ngomong ini, tapi kamu harus tahu, Liha, aku sayang sama kamu. Aku minta maaf baru sekarang bisa kasih kehidupan yang layak buat kamu. Tapi semua yang aku lakuin ini demi kamu, Liha.”
Soliha tersenyum sambil menitikkan air mata. Kamran ingin mengusap air mata itu, tetapi dia ragu.
“Kamu percaya kan sama aku? Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Liha. Jadi kamu juga jangan pernah pergi dari samping aku ya.”
Posisi Kamran sedang tiduran menyamping.
Diamatinya wajah Soliha dengan seksama. Alisnya yang tebal dan tahi lalat di pelipis kirinya. Bibirnya yang mungil seperti terbuat dari kelopak bunga mawar. Rambut hitamnya yang legam menutupi pundaknya yang kurus. Wajah Soliha sebetulnya sangat cantik seandainya dia lebih berekspresi.
Kamran menangis tersedu-sedu.
“Liha… maafin aku, Liha…”
Tangisan terbesar dalam hidupnya.
Kamran menangis hingga kelelahan dan tertidur lelap. Entah berapa lama. Rasanya seperti berhari-hari.
Terasa berat di kepala ketika dirinya terbangun. Samar-samar Kamran melihat jam dinding menunjukkan pukul 01.20 dini hari.
Masih belum sadar betul, tiba-tiba Kamran merasakan hembusan napas di telinganya. Lalu ia benar-benar terbangun ketika hembusan napas itu seperti bersuara.
“Aku kangen kamu, Bang.”
Jantung Kamran seketika berpacu kencang, tetapi tubuhnya membatu. Tak terasa betul apakah dia sedang kejang atau lemas, yang jelas tidak berdaya. Dalam keadaan seperti itu entah mengapa hanya otot lehernya saja yang terasa seperti bisa digerakkan. Begitulah akhirnya Kamran menoleh ke atas sebab ada sepasang tangan dingin yang mencekal pipinya.
Matanya ingin memejam, tetapi tetap saja apa yang ada di hadapannya terpampang jelas.
Darah itu menetes kecil-kecil, jatuh tepat di kornea mata Karman.
Ingin Kamran berteriak, tetapi pita suaranya seperti tenggelam ke dasar lambung.
Begitulah Kamran menjadi bisu.
Tinggalkan komentar