Kanya berjalan-jalan di tepi pantai. Langit selalu malam. Cahaya temaram dari bulan setengah yang memantul pada gumpalan awan menjadi satu-satunya sumber penerangan. Dan itu cukup. Ia rasa bisa melihat wajahnya sendiri pada usia 30-an.
Suara ombak yang ritmis bergulung-gulung, megah dan menggemparkan. Ombak itu membawa aroma lautan jauh. Bukan hanya bau garam, tapi ada aksen kapur dan sedikit campuran wangi lemon dan bunga kenanga.
Kanya terdampar di sebuah pulau. Kalau engkau berjalan dengan kecepatan sedang, niscaya bisa mengitari pulau itu satu kali dalam waktu tiga jam.
Ada aliran angin sirkular, seperti mengelilingi sekujur pulau itu. Angin itu tidak berasal dari lautan. Angin itu tidak membawa hawa dingin—atau mungkin Kanya memang tak bisa merasakan hawa dingin. Angin itu bikin tidak nyaman karena gesekannya pada sekujur badan sangat terasa. Seperti ada yang selalu menoel lengannya setiap saat. Mengesankan bahwa dunia sedang bergemuruh tidak tenang, padahal Kanya sedang merasa paling santai dan kalem.
Kanya berjalan menyusuri pantai itu entah sudah berapa milenia. Tidak ada yang memberitahunya sudah berapa putaran ia tuntaskan. Ia tidak tahu kapan mulainya, lebih tak tahu lagi kapan berakhirnya. Rasa-rasanya kalau berakhir besok lusa ataupun seratus tahun lagi, akan sama saja kesan-kesannya.
Kanya tidak tahu apa yang membuatnya harus berhenti. Sama seperti ia tidak tahu apa yang membuatnya terus berjalan. Kanya tidak merasa sedih atau ditinggalkan. Dia hanya penasaran.
Sesekali dia menengok ke arah bulan redup yang menggantung—seperti—tak niat di atas sana. Ia menyukai kemuraman yang menjangkiti bulan malang itu. Tapi terkadang merasa kasihan juga.
“Kamu pasti sedih tak punya teman,” Kanya sering berujar begitu.
Tapi di lain waktu Kanya malah mengomel, “Kenapa kamu itu tidak konsisten? Bentukmu. Wajahmu. Cahayamu. Kenapa berubah terus?”
Kalau sedang tidak malas, terkadang Kanya berusaha melempar batu ke arah bulan itu.
Biasanya Kanya kalem lagi kalau sudah bertemu pohon tua di atas sebuah lorong. Nanti akan kita bahas soal lorongnya. Mari lihat perkara pohon itu dulu.
Pohon itu seharusnya berwarna cokelat dan hijau. Sayangnya, di pantai itu, satu-satunya yang tampak tidak b/w (balck and white) adalah batu-batu kecil pemecah ombak. Jadi kita tidak bisa memastikan apa warna pohonnya.
Kanya selalu senang melihat pohon itu. Mungkin, meski samar-samar, pohon itu menjadi penanda putaran Kanya mengitari pulau. Penanda akhir dan awal. Pertanda kebaruan—meski terus berulang-ulang. Pohon itu tidak berbuah sama sekali. Setahu Kanya begitu. Tapi ia belum pernah betul-betul mengecek ke atas.
Di suatu sisi pulau itu, ada rumpun batu karang yang bentuknya seperti lorong. Seperti terowongan. Bisa juga dibilang sebuah gua. Suka-suka lah mau disebut apa.
Setiap memasuki lorong itu Kanya harus berlari. Mungkin karena ia takut. Kanya sudah lupa alasan pastinya, tapi ia selalu berusaha berlari sekuat kakinya, ingin cepat keluar dari pekatnya gelap. Walapun di luar lorong tak terlalu beda, tapi setidaknya tak sekental di dalam lorong, yakni gelapnya itu.
Kanya merasa sangat lega ketika berhasil keluar dari lorong itu. Lalu ia melanjutkan berjalan, mengitari pulau lagi, sampai entah kapan pasti akan bertemu dengan lorong itu lagi.
Ada satu hal yang aneh. Ketika berlari di dalam lorong itu, Kanya merasa paling hidup. Sejujurnya, ia tidak berani menyatakan apakah dia itu sedang hidup atau mati, tetapi ketika sedang berlari itu dia merasa yakin sekali bahwa dirinya hidup. Ia merasa bisa mengejar deru angin yang menganggunya itu.
Suatu saat, mungkin tujuh sampai sebelas ratus tahun yang lalu, Kanya pernah melihat sebuah meteor jatuh. Meteor yang lumayan besar, membara, dan indah. Meteor itu jatuh menghantam laut lepas—agak jauh di sana. Dentumannya sungguh memikat dan masif. Kanya tersenyum melihatnya. Lantas ia berhenti berjalan karena hendak menyaksikan terbentuknya puncak-puncak tsunami. Itulah perma kali Kanya menyadari bahwa kalau dia berhenti melangkah, maka ia merasa seperti tak bernapas. Sesak lehernya. Buru-buru Kanya berjalan lagi.
Sesungguhnya, jujur di dalam hatinya, Kanya sering sekali ingin memungut cangkang kerang, menulis sesuatu di atas pasir, atau sekadar berbaring menikmati langit yang tak pernah silau. Namun, Kanya tak punya nyali menghadapi sesak yang bakal datang. Ia masih ragu.
Sayang sekali, Kanya. Padahal dengan begitu, cuma dengan cara begitu, dirimu bisa keluar dari kubangan samsara.
Kamu harusnya berani, Kanya.
Tinggalkan komentar