Sejak lahir, manusia memang sudah harus bekerja. Minimal bernapas dan makan biar tidak batal hidup. Dengan pemikiran begitu, wajar saja kalau sepanjang hidup ini itu isinya kerja lagi, kerja lagi. Kerja terus. Tidak ada hidup yang tidak kerja. Kata ‘hidup’ itu sendiri mungkin—sebetulnya—semacam eufemisme dari kata ‘kerja’.
Kerja memang capek, tapi rasa capek itulah mungkin yang bikin manusia merasa berbeda dari gedebog pisang yang tidak bisa merasa capek. Bukan berarti capek harus dinikmat-nikmati. Capek, ya capek aja. Urusan nikmat-nikmatan itu lain lagi. Capek, ya capek aja. Cukup dirasakan.
Jadi kita sudah sepakat bahwa tidak ada hidup yang tidak kerja, hence, tidak ada hidup yang tidak capek. Rasa capek itu yang bikin hidup terasa… well… hidup. Ini adalah kondisi universal yang dialami oleh semua orang tidak peduli rupa dan harta kekayaannya seperti gimana. Semua orang yang pengen hidup pasti capek.
Kalau begitu, karena semua orang yang pengin hidup sama-sama merasa capek, itu artinya kita mesti memilih kerja yang bikin senang. Senang yang didapat dari kerja (irodat) jelas beda dengan—seolah-olah—senang yang didapat dari nggak ngapa-ngapain. Senang yang didapat dari bekerja akan mengisi sanubari. Seolah-olah senang yang didapat dari mager justru menguras sanubari.
Soal mambangun kerja yang tepat (yang bikin senang) memang susah. Bahkan mungkin usaha membangunnya itu dihitung kerja tersendiri. Semacam pra-kerja begitu lah. Sebab tidak semua orang memulai dan berada pada kondisi yang mendukung untuk senang. Tapi pencariannya itu seharusnya bikin senang sih. Bukan senang yang meledak-ledak, melainkan senang yang settling, yang juga bikin kita merasa tenang. Kalau senang yang bikin tegang malah bisa jadi berbahaya. Ini ada neurosains-nya, pokoknya percaya saja dech.
Cara mengukurnya memang sulit, yakni mengukur apakah kerja yang kita lakukan terhitung kerja keras yang layak atau kerja keras yang malah menguras batin. Tunggu dulu. Apakah yang namanya kerja keras itu harus menguras batin? Ketika kita mencari kerja yang nyaman, itu karena kita tidak mau kerja keras atau justru karena kita sayang sama batin kita? Capek yang dirasakan itu apakah capek yang wajar atau capek karena pekerjaannya tidak bikin senang? Pertanyaan-pertanyaan ngehek semacam ini perlu terus-menerus digaungkan di ruang benak. Biar tidak satu pun kerja yang kita beri ke dunia ini di-taken for granted, baik oleh dunia maupun oleh kitanya sendiri.
Jadi…
Kalau pun kita harus kembali kerja mencari ubi dan berburu menjangan, usahakan dilakukan dengan rasa senang. Sebab tidak ada pilihan lain—kecuali mati. Sedangkan kita tidak boleh sok tahu urusan mati meskipun mati merupakan salah satu hal paling personal yang (bakal) kita alami.
“Work for yourself, then you’re working for God.”
Tinggalkan komentar