Setelah mengalami suatu kecelakaan hebat yang hampir merenggut nyawanya, Edward jadi punya sebuah kemampuan tidak wajar. Ia bisa melihat masa depan secara akurat. Visi masa depan ini terkadang bisa ia munculkan sendiri, tetapi lebih sering muncul tanpa diminta. Di dalam visi itu terdapat detail yang luar biasa mengenai kejadian-kejadian alam, seperti hujan, bentang langit malam, atau bahkan hal detail seperti jatuhnya sehelai daun. Satu prinsip dasar dari visi yang dilihat Edward adalah tidak ada manusia di sana. Semua kejadian yang Edward lihat adalah fenomena alam yang tidak mempunyai faktor manusia sebagai penyebab langsungnya.
Edward tidak bisa melihat, misal, jika akan terjadi sebuah kecelakaan. Di dalam visinya, Edward bahkan tidak melihat mobil (yang sedang melaju). Begitu juga dengan bencana alam yang disebabkan oleh campur tangan langsung manusia, misalnya banjir bandang. Edward hanya dapat melihat deras hujannya.
Pada visi yang datang dengan sendirinya, Edward cukup sering melihat bentang alam yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ia pernah melihat bongkahan es di sebuah gunung es besar runtuh ke dalam air laut di sekelilingnya. Ia juga pernah melihat sebuah meteor besar jatuh ke bumi. Apakah itu tanda-tanda kiamat?
Penglihatan soal meteor itu lebih merupakan retrokognisi ketimbang visi. Dari sedikit yang ia pelajari, pada masa lalu pernah terjadi sebuah tabrakan meteor yang amat dahsyat yang menyebabkan suatu kepunahan besar di bumi. Setiap kali mendapat penglihatan itu Edward merasa ngeri, tetapi ia tak bisa memilih untuk tidak melihatnya.
Ada satu lagi penglihatan Edward yang tidak pernah ia lupa saking berkesannya, tetapi ia tidak bisa menentukan apakah itu visi atau retrokognisi. Terlebih lagi, penglihatan ini sangat berbeda karakteristiknya ketimbang semua penglihatan lainnya. Pada penglihatan ini Edward tidak hanya melihat, melainkan juga merasakan semua panca inderanya seperti berada di sana. Ia merasakan panas dan terik yang sangat nyata. Ia mendengar suara gemuruh dari kejauhan, dan hidungnya membau debu-debu. Ia merasakan sekujur kulitnya kering dan sedikit mengelupas. Anehnya, justru “penglihatan”-nya lah yang paling tidak bisa diandalkan dibandingkan indera yang lain. Ia hanya melihat gambar buram, tidak fokus, dan hanya sekilas lalu. Ibarat sebuah kamera yang tidak berhasil menangkap fokus pada suatu kejadian besar yang terjadi sangat cepat.
Penglihatan ini sangat ganjil karena panca inderanya yang lain seakan-akan mengalami penglihatan itu dalam waktu yang cukup lama, ia bahkan merasa kulitnya sudah menjadi kering selama bertahun-tahun, tetapi apa yang tertangkap oleh matanya terlampau cepat berlalu, hanya sedetik atau dua, paling lama tiga, sehingga Edward tidak bisa menerka apa yang sebenarnya akan atau sudah terjadi. Namun, yang lebih ganjil adalah betapa sering Edward mengalami penglihatan aneh ini. Hampir setiap hari.
***
“Cerah begini kok bawa payung, Kak?” Luna nyeletuk.
Edward hanya tersenyum. Ia tidak perlu menjelaskan lagi karena sepertinya Luna juga hanya basa-basi. Sudah berkali-kali Edward membawa payung ketika berangkat kerja di saat cuaca di luar tampak terik, dan sebanyak itu lah antisipasinya tak pernah meleset. Oleh karena itu, Luna pun selalu memastikan ia membawa payung jika ia melihat Edward membawa payung. Sebaliknya, jika Edward tidak membawa payung, meskipun pagi itu tampak amat mendung, Luna pun haqqul yakin bahwa hari itu tak akan turun hujan.
Edward, kakaknya, menjadi lebih pendiam setelah siuman dari koma selama lima bulan. Luna merasa sangat cemas. Selama berada di rumah sakit, Luna lah yang mendampingi Edward. Ia berdoa setiap malam demi kesembuhan Edward. Perkembangannya, ketika koma itu, sungguh tidak bikin tenang. Dokter bilang fase vegetatif-nya bisa jadi berlangsung sangat lama, dan bahkan jika terlalu lama berarti keluarga harus memutuskan untuk merelakan saja Edward pergi. Luna amat terpukul.
Eh, sekonyong-konyong, pada suatu malam, Edward terbangun begitu saja. Ia mengusap rambut Luna yang tertidur di sampingnya. Luna terperanjat dan segera memanggil suster. Tiga hari selanjutnya Edward diputuskan sudah bisa pulang ke rumah dengan kondisi pulih yang mencengangkan. Semua lukanya sembuh tanpa bekas.
Luna sangat bahagia Edward bisa siuman, bahkan kembali sehat wal afiat 100%. Luna segan untuk bertanya soal perilakunya yang berubah. Bisa kembali sehat saja sudah luar biasa. Luna jadi sering memasak yang enak-enak. Itulah satu-satunya cara komunikasi yang tersisa untuk Luna bisa menyampaikan betapa senangnya ia bahwa Edward kembali.
Sebelum Edward mengalami kecelakaan, mereka berdua bertengkar cukup hebat. Musababnya, Edward tidak setuju hubungan Luna dengan pacarnya yang bernama Mursid. Luna sudah cukup lama berkencan dengan Mursid, pada saat itu ia hendak memperkenalkan Mursid kepada orang tuanya, namun karena kedua orang tuanya cukup sibuk, Luna berniat mengenalkan Mursid kepada Edward terlebih dahulu. Apalagi, secara praktis memang hanya Edward lah keluarganya yang bisa selalu ia temui setiap hari. Ia sungguh tidak menyangka Edward akan bersikap dingin, bahkan cenderung tidak bersahabat kepada Mursid.
Mursid sebetulnya sudah menduga, ia sudah mengantisipasi penolakan dari Edward, tetapi Luna tetap tidak terima perlakuan Edward yang terlampau antipati itu.
Siapa sangka setelah pertengkaran hebat itu Edward malah mengalami kecelakaan parah. Hati Luna langsung hancur. Mursid berusaha menenangkan Luna, sayangnya, satu bulan sebelum Edward siuman (pada saat itu tidak ada yang tahu Edward bakal siuman), Luna meminta break kepada Mursid karena ia merasa sangat sedih, lelah, dan bingung. Meskipun sangat berat hati, Mursid menyanggupinya dan berkata ia akan menunggu. Akan tetapi, sebetulnya Luna sama sekali tidak terpikirkan untuk buru-buru kembali pada Mursid. Hingga Edward sendiri yang, beberapa hari setelah siuman, secara mengejutkan bertanya kepadanya.
“Bagaimana sama Mursid?” Tanya Edward tiba-tiba. Jelas dan tanpa aba-aba.
Luna kaget, jantungnya langsung berdegup kencang. Ia sungguh tidak siap.
“B-baik.” Luna menjawab terbata-bata.
Edward lalu menyodorkan dua lembar kertas.
“Saya punya dua tiket ke taman hiburan.”
Luna bengong.
“Kakak mau pergi sama aku?”
“Ini buat kamu dan Mursid.”
Mendengar nama ‘Mursid’ keluar dari mulut Edward sungguh terasa ganjil bagi Luna. Namun, yang paling ganjil justru bagaimana cara Edward mengucapkannya terkesan seperti sudah mengenal Mursid cukup lama, bahkan sangat akrab. Seperti menyebut nama keluarga.
Mursid kegirangan bukan kepalang. Luna juga sangat bahagia, sebetulnya. Bagaimana pun ia sungguh mencintai Mursid. Luna segera berencana untuk mempertemukan lagi Mursid dengan kakaknya. Kali ini ia akan bilang dulu kepada Edward dan menanyakan kesediaannya.
Di pertemuan yang kali kedua itu, meskipun tidak banyak omong, tetapi sikap Edward sangat berbeda. Ia mau berbincang-bincang dengan Mursid, bahkan tampak lumayan tertarik dengan pekerjaan Mursid di sebuah start up.
“Stay di perusahaan itu.” Ucap Edward ketika Mursid meminta saran untuk menentukan apakah harus pindah pekerjaan atau tetap bertahan di tempat yang sekarang. Mursid bekerja di sebuah start up pendidikan dan baru-baru itu mendapat tawaran dari sebuah start up pariwisata yang sudah lebih established. Tawaran gaji di perusahaan pariwisata itu lebih besar, makanya Mursid sedikit bingung.
Mursid mengangguk-angguk mendengar saran Edward. Mursid tak berani menanyakan penjelasannya. Ia berniat untuk mengikuti saja saran itu. Edward sudah mau berbicara dengannya saja sudah sangat luar biasa.
Aduhai madu, setelah itu Edward mengatakan sesuatu yang lebih bikin Mursid mengapung ke angkasa.
“Kalau mau menikah, sebaiknya sebelum tahun ini berganti,” kata Edward. Tegas dan datar.
Luna dan Mursid saling pandang. Kalau tidak karena malu, mungkin keduanya sudah melompat-lompat kegirangan. Edward seakan-akan mengkompensasi kelangkaan bicaranya dengan perhatian dalam bentuk lain. Ia bahkan mengatakan akan membantu berbicara kepada orang tua mereka. Luna tak kuasa menahan haru dan langsung memeluk Edward, berucap terima kasih berkali-kali. Mursid sebetulnya ingin ikut memeluk, tetapi ia urungkan karena sungkan luar biasa.
Tepat satu minggu setelah Luna dan Mursid melangsungkan pernikahan, badan kesehatan dunia mengumumkan situasi pandemi. Berita ini menggemparkan seluruh dunia.
***
Beberapa jam setelah siuman dari kondisi koma, Edward bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan itu juga memakai baju pasien. Perempuan itu masuk begitu saja ke dalam kamarnya. Luna sedang tertidur pulas di sofa.
Diterangi temaram cahaya bulan purnama, Edward melihat wajahnya tersenyum. Irisnya berwarna cokelat (hampir oranye), seperti menyala. Tidak mungkin melupakan mata itu. Juga senyum itu dan pipinya yang ranum.
Tak disangka-sangka Edward melihatnya kembali di tempat tak terduga.
“Selamat siang, semua. Perkenalkan nama saya Buné. Mohon bimbingannya mulai hari ini.”
Ada tiga karyawan baru di divisinya, Edward tidak menyangka salah satu dari mereka adalah perempuan yang pernah ia temui secara aneh di rumah sakit.
Ketika tiba giliran Buné menyalami Edward, yang disalami hanya bisa melongo. Namun, itu bukan lagi melongo karena kaget atau bingung. Tiba-tiba saja Edward mengalami penglihatan yang begitu berat.
Jelas ini adalah retrokognisi. Ia merasa seperti dibetot paksa oleh waktu, mencelat begitu cepat ke belakang. Edward tiba di sebuah tempat yang begitu asing. Tak pernah ia melihat, atau bahkan membayangkan tempat sedemikian rupa. Ia seperti berada di dalam sebuah pohon besar. Bagaikan tabung raksasa yang membumbung tinggi. Langit malam berserakan bintang-bintang. Tak perah Edward melihat langit seberbintang itu. Selain terlalu berbintang, kualitas langitnya juga sangat berbeda. Terlalu terang, seakan-akan bukan langit malam, tetapi juga tak biru seperti siang.
Edward menduga itu masih di bumi, tetapi di masa yang sangat lampau.
Dalam sekejap penglihatan itu berhenti sebab Buné sudah selesai menyalaminya. Edward menatap mata Buné yang juga tengah menatap matanya. Edward mampu merasakan napasnya seperti baru selesai lari marathon. Buné tersenyum sangat tipis hampir tak ada yang menyadarinya.
***
Sejak bertemu dengan Buné, Edward selalu gelisah. Ia semakin sering mengalami penglihatan, baik visi maupun retrokognisi. Setiap penglihatan yang ia alami rasanya semakin intens. Termasuk penglihatan rutin yang ia alami setiap hari, kualitasnya semakin menuju nyata. Edward kini yakin bahwa bentang alam yang ia saksikan adalah sebuah gurun. Namun, ia tidak tahu di mana letak persisnya.
Buné sendiri, meskipun kerap menatap dengan tatapan tajam, ia termasuk sangat hemat bicara kepada Edward. Ia supel dan banyak omong ketika dengan orang lain, tetapi seakan-akan menjadi bisu di hadapan Edward. Kebanyakan komunikasinya hanya lewat gestur. Malah Edward yang merasa dirinya jadi lebih banyak bicara ketika sedang memberikan arahan kepada Buné. Edward jadi kesal sendiri.
“Setelah ini lu tolong cek ke tim produksi, kesiapannya sudah berapa persen, tapi jangan terlalu kentara kalau kita nungguin sekuens mereka. Ngerti?”
Buné mengangguk.
“Ini referensinya tolong diperkuat. Lu bisa cari contoh ads yang di bawah tahun 2000 kok, khusus untuk case ini. Oke?”
Buné mengangguk lagi. Masih tanpa bicara. Dan masih tak melepaskan tatapan tajamnya dari wajah Edward.
“Nanti setelah kita siap produksi, lu harus pastikan juga schedule setiap orang bisa sinkron. Kalo bisa bikin spare barang sehari atau dua hari di setiap tahap biar kalau ada perubahan yang nggak terduga tetep bisa kita handle. Gua harap sih dalam seminggu ini kita udah mulai take ya.”
Edward yang canggung terlihat sangat kewalahan membagi perhatiannya antara menatap kertas berisi instruksi produksi (yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala) dan menelisik tatapan Buné yang seakan-akan ingin melahapnya.
“Gitu aja sih. Ada yang mau ditanyain? Atau ada arahan gua yang kurang jelas?”
Buné cepat menggeleng.
Kini keduanya saling tatap tanpa jeda. Edward amat heran kok bisa-bisanya anak baru seperti Buné berani menatapnya begitu intens seperti sudah kenal lama, tanpa canggung, tanpa malu, dan seakan-akan punya maksud tertentu. Edward merasakan napasnya mulai memburu dan ia segera membuang muka. Iris cokelat Buné seperti punya sihir. Edward yakin jika terus menatapnya selama beberapa menit ke depan, ia pasti terhipnotis.
“Oke, sip. Lu boleh pergi.”
Buné hanya mengangguk sebagai tanda mau undur diri. Ia lantas segera beranjak meninggalkan Edward. Sebetulnya itu perilaku yang lumayan tidak sopan, tapi entah mengapa Edward tidak bisa komplain sama sekali.
Ada banyak sebetulnya kelakuan lancang Buné terhadap Edward.
Pernah mereka beberapa kali naik satu elevator yang sama. Tanpa malu-malu Buné selalu berdiri mepet kepada Edward, tak peduli elevator sedang kosong atau tidak. Edward selalu bisa merasakan sisi lengan atasnya bersentuhan dengan Buné. Bahkan ketika mereka hanya berdua saja di dalam lift, Buné tetap berdiri mepet. Meskipun begitu, dia seperti acuh tak acuh. Sambil mepet Edward dia selalu melakukan kegiatan lain, seperti membaca jurnal, membuka ponsel, atau sekadar memperhatikan kuku tangannya. Edward seakan-akan dianggap tembok saja. Dan dia tidak ngomong sepatah kata pun, yang bikin Edward juga jadi seperti orang bisu—yang bloon.
Pernah suatu malam divisi mereka mengadakan makan malam bersama. Seakan-akan sudah lumrah, Buné dengan tanpa tedeng aling-aling duduk begitu saja di samping Edward, tidak dengan anak baru yang lain. Edward sungguh heran sampai-sampai ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Namun, yang lebih mengherankan adalah reaksi koleganya yang lain. Mereka tampak biasa saja seakan-akan hal itu memang sudah sewajarnya, bahwa Buné duduk—mepet—di sampingnya.
Ketika Edward menuangkan minuman ke gelasnya, lagi-lagi, tanpa permisi tanpa apapun, Buné langsung menyambar gelas itu dan menenggak isinya sampai habis. Sudah sinting anak ini, tetapi yang lebih sinting ya Edward sendiri karena meskipun merasa hal itu sangat aneh, dia tidak merasakan marah, tersinggung, atau apapun. Pada akhirnya Edward selalu membiarkan perilaku tidak sopan yang Buné lakukan.
Mungkin kelakuan ngaco Buné yang paling parah adalah ketika dia nyelonong masuk ke ruangan Edward, kemudian menyulut sebatang rokok, lantas rebahan di atas sofa. Edward hampir memekik ketika memasuki ruangannya dan menemukan Buné sedang sebat (pakai rokoknya) dengan begitu santainya. Ia tidak ada ide untuk merespon keganjilan itu.
“Sebat sebentar. Habis itu tidur siang.” Ujar Buné. Tak diduga dia bersuara. Kali ini tak seperti biasanya, Buné tidak fokus menatap wajah Edward. Dia fokus pada rokok yang sedang diisapnya. “Manusia memang senang bakar-bakar, ya,” katanya, sambil menatap lekat-lekat bara api dan asap yang mengepul dari ujung rokok.
Edward benar-benar mati kutu. Tapi tubuhnya seperti bergerak sendiri. Ia berjalan menghampiri Buné, lalu, tanpa ngomong sedikit pun, ia ambil sebatang rokok itu, ia hisap sekali, lantas dikembalikannya ke tangan Buné. Kejadian itu seperti sudah lumrah saja, seakan-akan antar teman lama bertukar sapa. Edward lalu keluar ruangan setelah mengambil berkas yang ia perlukan.
Pada perkembangan selanjutnya semua benar-benar menjadi lumrah. Baik Edward maupun orang-orang lain di sekitarnya tidak lagi merasa heran. Buné betul-betul dianggap teman lama, atau bahkan saudara, atau bahkan keluarga dari Edward. Jadi tidak lagi mengherankan kalau Buné tahu-tahu masuk ruangan Edward untuk sekadar merokok dan tidur siang. Atau ketika Buné tahu-tahu menebeng mobil Edward ketika mereka bertemu di jalan saat hendak ke kantor. Semua orang seperti tak menghiraukan sama sekali. Seakan-akan memang begitulah seharusnya.
Demikian pula kejadian selanjutnya, tapi kali ini hanya wajar bagi mereka berdua.
Sore pukul empat, orang-orang bersiap pulang. Edward pun sedikit lagi selesai dengan pekerjaannya. Buné sedang membaca majalah di ruangan Edward—sudah lumrah. Tiba-tiba terjadi gempa bumi. Lumayan kuat. Orang-orang panik dan segera bersembunyi di bawah meja. Tidak halnya dengan Edward dan Buné yang tetap melakukan apa yang sedang mereka lakukan tanpa hirau sedikit pun. Edward sih sudah menduga bahwa kemungkinan besar Buné bisa “melihat” juga. Orang aneh begitu mana mungkin isi kepalanya normal-normal saja.
Gempa berlangsung cukup lama, sekitar lima menit. Begitu gempa dirasa berheti, semua orang yang ada di dalam segera berhamburan keluar gedung, khawatir ada gempa susulan, mereka berkumpul di assembly point. Edward dan Buné tetap di dalam ruangan. Sebab mungkin keduanya tahu bahwa tidak akan ada gempa susulan. Dan memang tidak ada gempa susulan. Setelah berkumpul sekitar 10 menit di assembly point, orang-orang pun bubar, pulang ke rumah masing-masing. Bertepatan dengan itu Edward merampungkan pekerjaannya, dan Buné selesai membolak-balik majalah yang sedang dibacanya (atau mungkin cuma dilihat-lihat saja barangkali gambar-gambarnya).
Edward segera beres-beres, lalu, tanpa menghiraukan Buné, ia pun meninggalkan ruangan. Seperti yang bisa diduga, Buné mengikuti Edward. Buné terus mengikuti Edward sampai tempat parkir di basement. Buné terus mengikuti Edward, bahkan ikut masuk ke dalam mobilnya. Edward yang sudah merasa tidak ada yang bisa lebih sinting lagi, membiarkan saja Buné ikut mobilnya. Ia bahkan tidak bertanya.
Edward mengemudi seperti biasa, menuju apartemennya, dia tidak menanyakan tempat tinggal Buné atau semacamnya. Dalam hati kecilnya Edward ingin tahu sampai mana batas keganjilan semua ini. Di perjalanan, Buné meminta berhenti sebentar untuk membeli jagung rebus dari pedagang di pinggir jalan. Sesampainya di parkiran gedung apartemen, Buné tetap mengikuti Edward, sambil memakan jagung rebus yang dibelinya tadi, tanpa ngomong sepatah kata pun, dan Edward juga jadi semakin terbawa. Seakan-akan sudah ratusan kali Buné bertandang ke tempatnya.
Ini pertama kalinya Edward mengajak orang kantor masuk ke dalam apartemennya. Bisa-bisanya orang kantor itu adalah Buné, si anak baru, yang bahkan belum ada satu bulan mereka bertemeu. Buné sendiri tidak canggung sama sekali memasuki apartemen atasannya. Dia langsung duduk di sofa ruang tengah.
Edward tidak hirau lagi dan langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Belum ada lima menit, pintu kamar mandinya dibuka. Buné masuk begitu saja. Mata mereka saling tatap, dan Edward tak berusaha menutupi tubuhnya yang sedang sabunan. Edward agak menduga arahnya memang akan ke situ.
Buné menanggalkan pakaiannya. Selanjutnya… lumrah saja.
***
Edward merasakan kulitnya terbakar terik. Itu hal paling pertama yang ia yakini. Kemudian, Edward membau debu di udara. Tidak salah lagi, ini adalah gurun itu. Edward pun mengedarkan pandang. Sejauh mata memandang ia melihat lautan pasir berwarna emas. Ini adalah penglihatan paling jelas yang pernah ia dapatkan. Di beberapa sudut horizon tampak badai pasir sedang mengamuk, suara gemuruhnya terdengar keras.
Ini adalah visi yang selalu ia lihat, yang sebelumnya muncul hanya sepotong-sepotong, kini hadir secara utuh dan tanpa jeda. Mungkin lebih tepatnya bukan visi itu yang hadir di dalam dirinya, melainkan Edward lah yang hadir di dalam visi itu—entah kenapa.
Pada umumnya visi yang ia alami, Edward selalu tahu kapan visi itu akan berakhir. Kali ini tidak. Ia bahkan tidak tahu lokasi dan waktu persis kejadiannya—biasanya selalu diketahui dalam bentuk data di kepala. Kalau dipikir-pikir mana mungkin tempat tinggalnya yang di daerah tropis mengalami badai pasir. Jadi, Edward berkesimpulan, ini pasti berada di tempat yang jauh.
Edward tak melihat apa-apa lagi selain lautan dan badai pasir.
Tiba-tiba saja Edward merasa haus bukan main. Ini betul-betul baru. Tidak pernah sebelumnya visi memberikan sensasi internal sebegini datail. Edward merasa kerongkongannya seperti dicekik dari dalam. Rasa hausnya begitu mencekam. Lalu, seperti sudah tahu dari sananya, Edward berjalan ke suatu arah. Ia tidak tahu persis apakah ia berjalan secara sadar atau digerakkan oleh apapun itu. Tidak pernah sebelumnya ia mengalami visi senyata ini.
Sambil tetap menghayati siksaan rasa hausnya, Edward memperhatikan sepasang kakinya yang menjejaki pasir. Ia tak bersepatu. Edward sudah merasakan telapak kakinya seperti melepuh karena menjejak pasir yang terpanggang sekian ratus tahun. Edward tak sempat melihat ke depan, tahu-tahu langkahnya sudah terhenti. Ia menubruk sesuatu—seseorang.
Di tangan orang itu ada sebotol air bening. Edward merampasnya dengan cepat, lalu menenggaknya tanpa pikir panjang. Setan alas! Umpatnya. Ternyata itu air laut.
Edward mendongak untuk melihat wajah orang di hadapannya.
“Morti,” ucap orang itu.
Belum sempat dirinya terkejut demi mengetahui siapa orang itu, Edward merasakan kakinya seperti dibetot paksa. Dalam waktu singkat Edward pun tenggelam dilahap lautan pasir panas.
Hal selanjutnya yang ia tahu adalah ia terjatuh, tanpa tenaga, terkulai lemas di atas lantai kamar mandinya. Air dari keran shower masih menyala. Ia bahkan melihat sedikit sisa busa sabun di lubang air. Edward mengalami disorientasi waktu dan tempat yang sangat parah.
Butuh setengah jam penuh untuk dia bisa kembali pada konteks hidupnya sebagai seorang senior supervisor di sebuah perusahaan kampanye multinasional. Pertanyaan besarnya, sekarang, bagaimana mungkin Buné berada di tempat yang seharusnya ia tak ada? Seharusnya tak ada manusia di sana.
Namun, di sisi lain, di tempat seharusnya ia berada saat ini, Buné malah sirna tanpa bekas.
Tinggalkan komentar