Give yourself time to get bored.
Kita sering terlalu larut dalam kesibukan. Dan jarang sekali ada jeda antara satu kesibukan dan kesibukan lainnya. Hidup begitu padat supaya produktif. Ketika ada waktu luang, kita sudah punya seabrek opsi hiburan untuk meregang stres yang menjangkiti kita karena bekerja. Secara teknis hampir tidak ada waktu kosong yang benar-benar kosong. Sering kali kita malah merasa bersalah kalau secara sengaja tidak melakukan apa-apa. Padahal mungkin itulah istirahat yang sungguh-sungguh kita butuhkan.
Waktu masih menganggur beberapa tahun lalu, aku sering punya waktu kosong yang benar-bener kosong. Bahkan itu sudah dikurangi waktu yang digunakan untuk menonton hiburan. Pada masa-masa itu, meskipun tidak merasa terlalu berdaya karena tidak punya duit, tapi di sisi lain aku merasa paling merdeka sebab apapun yang kulakukan benar-benar karena kepinginku, bukan karena kewajiban atau untuk lari dari kenyataan.
Memang rasanya tidak enak. Sering bosan. Demi Tuhan bosan sekali. Tapi dari kubangan bosan itu lah aku bisa menyusun diriku sendiri. Kadang muncul ide-ide bagus meskipun jalan realisasinya masih sangat jauh–kalau tak dikatakan mustahil. Karena dalam kondisi begitu waktuku seperti berhenti, aku jadi bisa mengamati berjalannya dunia dari pinggiran. Aku tidak ikut arus–setidaknya tidak secara fisik.
Menyelami kebosanan bukan perkara mudah, sebetulnya. Mayoritas manusia tidak bisa tahan. Dalam kebosanan itu berkumpul semua challange lainnya seperti kesepian, rasa sedih, rasa sendiri, beban-beban masa lalu yang tak terhindarkan, dan sebagainya. Sedangkan kita cuma sendiri sama diri sendiri. Tapi kalau berhasil dilewati, bisa jadi manfaatnya juga lumayan banyak.
Entah Zizek atau siapa yang ngomong, aku lupa, tapi dalam bingkai dunia teknokapitalis seperti sekarang ini, katanya, otentisitas cuma bisa lahir dari kebosanan yang bikin gila. Tanpa suatu fase bosan kita bakal sulit menjadi pengamat yang objektif. Aku rasa beberapa penemu-penemu dan pemikir-pemikir di masa lalu pun menemukan temuan mereka ketika sedang bosan. Newton kurang bosan apa ketika dia merumuskan gravitasi? Socrates kurang bosan apa ketika dia menanyai orang-orang yang dia temui di jalan?
Rasa bosan itu sebenarnya bisa juga dianggap sebagai respon yang tepat terhadap kejenuhan hidup. Itu artinya kita sedang ingin sesuatu yang baru. Sebab manusia makhluk yang suka berkembang. Tidak betah kalau hidup ala kadarnya, begitu-begitu saja, tak ada tantangan. Mungkin kita memang dikutuk untuk selalu berpetualang. Nah, petualangan-petualangan besar sepertinya dimulai dari kegabutan luar biasa yang membuatmu berseru,
“Buset! Ngapain yak?!”
Tidak butuh banyak sih, lagi pula kebosanan yang sejati itu sebetulnya sangat susah dicari. Juga rada sulit membedakannya dengan rasa malas yang menyamar. Mungkin kebosanan sejati akan datang secara tiba-tiba ke dalam hidupmu, tanpa permisi, tanpa aba-aba. Ini kesempatan yang betul-betul langka. Manfaatkan sebaik-baiknya–dengan cara melamun sepuas jiwa.
Tinggalkan komentar