Aku puyeng sudah empat hari. Musababnya banyak, tapi yang paling bikin keki adalah ulah simbok-ku sendiri, di kampung. Beliau memberi ultimatum, katanya kalau tidak aku mengenalkan calon istri kepadanya berbatas pada Ahad depan, which is seminggu lagi kurang sehari, maka aku bakalan dijodohkannya dengan anak juragan beras yang cantik tapi closed-minded itu. Mana mungkin orang progresif sepertiku mau dengan dia. Di samping itu, aku sebenarnya sudah punya pacar. Si Jean.
Lihat, dari namanya saja sudah tertakar ‘kan orang macam apa si Jean ini? Dia pintar, modis, dan berwawasan luas. Lulusan Princeton pula. Aku merasa naik level waktu bisa mengencaninya satu tahun lalu. Aku jadi banyak baca buku lagi supaya bisa mengimbangi kepintarannya. Ini sangat menyenangkan. Kalau habis ngeseks biasanya kami ngobrol hal-hal berat. Pulitik. Alam semesta. Lingkungan sosial. Filsafat—jangan ditanya ini mah. Psikologi. Bisnis. Apa bae dah yang tidak remeh. Benar-benar hubungan yang membangun kepribadian. Kalau aku menikah dengan si Uli orang kampung itu mana mungkin bisa berkembang wawasanku. Habis ngeseks pasti dia langsung tidur.
Makanya aku pusing sekali menghadapi tuntutan simbok. Kenapa sih harus buru-buru menikah? Memangnya mau ngapain kalau sudah menikah? Si Jean saja yang cewek santai umur segitu belum married (Jean lebih tua lima tahun dariku). Simbok sebetulnya iri dengan saudara-saudaranya yang sudah bisa menimang cucu. Padahal mah, aduh, Mbok, capek lho mengurusi cucu itu. Aku ini anak berbakti, jadi mana mungkin aku membiarkan orang tua sendiri mengurusi anakku. Dasar orang-orang tak tahu adat yang seperti itu tuh.
Untuk saat ini aku menganut paham anti-natalis. Aku menolak menjadi musabab eksistensi manusia lain muncul di dunia yang super corrupted ini. Keren sekali kan? Ini pemikiran super maju yang kuperoleh setelah beberapa sesi diskusi berat sama Jean. Memang dia itu panutanku. Semua orang juga begitu.
Di kantor, Jean adalah atasanku, tapi dia tidak pernah membeda-bedakan. Baginya jabatan itu urusan teknis saja. Pada hakikatnya (ceileh… “hakikat”) nggak ada orang yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain. Paham seperti ini disebut paham egaliter—kata Jean. Makanya di kantor pun semua orang segan sama Jean. Sepertinya semua orang suka sama Jean, mulai dari jajaran direksi sampai para satpam. Semua menaruh hormat. Dan bayangkan betapa bangganya aku ketika akhirnya dia memilihku untuk jadi kekasihnya. Dari sekian banyak orang di kantor, aku lah yang dia suka. Luar biasa keajaiban.
Selain itu, Jean juga orangnya baik. Sesering mungkin, dia selalu menawariku untuk pergi ke kantor bareng naik mobil mercy-nya yang mengkilap itu. Kalau pulang pun, kalau jam pulang kami bareng, dia selalu mengantarku. Aku tidak minder sama sekali karena Jean sudah mengajariku bahwa cowok yang minder atas pencapaian ceweknya adalah cowok sampah. Lagi pula, naik mercy itu enak banget, nyaman banget.
Makanya aku ngedumel ini, musabab keduanya adalah, karena kebetulan hari ini Jean tidak bisa bareng ke kantor denganku. Dia ada tugas ke luar kota, katanya. Terpaksa aku naik transportasi umum karena mobilku juga sedang di-service. Aku sendiri, ya, sudah pasti punya mobil dong. Masa tidak? Mobilku juga bagus kok, bukan mobil mainstream. Kalau aku bawa ke kampung pasti orang-orang kampung takjub dan terpesona melihat mobilku yang keren itu. Tapi tak pernah kubawa ke kampung sebab khawatir akan kotor. Jalanan di kampungku kan masih jelek.
Naik transportasi umum sangat menyebalkan karena harus berdesak-desakan dengan orang-orang lain. Para normies. Cih. Mereka itu orang-orang yang pikirannya tidak ada kemajuan dan perkembangan sama sekali. Seumur hidup yang dipusingkan hanya soal cari makan. Basic banget lah pokoknya. Mereka pasti tidak pernah memikirkan soal runyamnya dampak emisi karbon yang disebabkan ulah manusia. Mereka cuma santai-santai aja hidup dan cari makan. What a lazy life.
Selain harus berdesakan dengan orang lain, naik transportasi publik juga sering gangguan. Kereta commuter yang sedang kunaiki tiba-tiba berhenti mendadak sebelum tiba di stasiun. Terasa olehku seperti kereta menabrak sesuatu. Orang-orang yang di dalam kereta hampir terjengkang. Aku yang sedang pura-pura tidur pun jadi harus melek demi mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Orang-orang berkasak-kusuk. Sebagian besar langsung membuka handphone. Ada yang menelpon sambil memasang wajah panik. Speaker di dalam kereta tak lama bersuara.
“Pelanggan yang terhormat, kami mohon maaf atas gangguan yang dialami. Saat ini kereta belum dapat melanjutkan perjalanan dikarenakan sebuah insiden yang baru saja terjadi. Tim evakuasi sedang mengatasi masalah ini. Pelanggan dimohon untuk bersabar dan tetap berada di dalam rangkaian kereta. Jangan keluar dari dalam rangkaian karena itu akan lebih membahayakan diri Anda.”
Kasak-kusuk semakin menjadi riak. Aku segera memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Menurutku, berdasarkan momen hentakan yang tadi terasa, sepertinya kereta menabrak sesuatu. Sepertinya hewan besar. Mungkin kerbau. Tapi masa di tengah kota begini masih ada kerbau?
Belum selesai aku menyusun hipotesis, kudengar sebuah, tidak, beberapa buah, teriakan dari gerbong di depanku. Aku di gerbong tiga. Teriakan itu sahut-menyahut. Kebanyakan terdengar teriakan perempuan. Aku menjadi heran. Kasak-kusuk semakin membahana. Ah, ini sih tidak bisa disebut kasak-kusuk lagi, karena orang-orang sudah lepas saja saling berbicara dengan suara keras.
Kulihat beberapa orang menutup mulutnya tanda terkesiap. Beberapa orang lain menggeleng-gelengkan kepala mereka seakan tidak percaya apa yang sedang terjadi.
“Mati.”
“Hancur.”
“Bunuh diri katanya.”
Dan akhirnya beberapa orang yang lain, di gerbongku, ikut berteriak-teriak menyahut teriakan di gerbong depan. Mereka yang berteriak adalah mereka yang menengok ke arah jendela. Jendela kereta yang berada di belakangku. Aku pun segera ikut menengok.
Mataku hampir copot.
Ternyata bukan kerbau, tapi manusia. Kepalanya hancur lebur, sepertinya tergilas roda kereta. Satu bola matanya menggantung ke samping wajah, hampir putus. Satu bola mata lagi mungkin sudah hancur betul jadi tak berbentuk.
Aku segera mual. Tak tahan.
Kenapa mereka tidak menutupi mayat itu? Apa yang ada di pikiran tim evakuasi membiarkan mayat hancur terbuka lebar untuk ditonton khalayak? Sinting.
Sekuat tenaga kutahan cairan lambung yang naik menggila. Orang-orang di gerbongku semakin banyak yang berteriak. Bahkan sepertinya semua orang berteriak sekarang. Tidak ada lagi yang pasang tampang kaget atau jijik. Semua hanya berteriak.
Aku segera menutup kuping. Ini benar-benar sinting. Ini lah kenapa aku benci sekali dengan transportasi publik.
Satu orang ibu-ibu di depanku, tiba-tiba, sambil terus berteriak, mulai menjedot-jedotkan kepalanya ke jendela kereta. Aku segera bangkit dari kursi. Ibu gila itu semakin leluasa menjedotkan kepalanya. Kulihat beberapa orang lain juga mulai melakukan hal yang sama.
Apa-apaan ini?
Karena sudah terlalu keterlaluan, kuputuskan untuk membuka pintu kereta secara manual. Sepertinya cuma aku orang waras yang tersisa di gerbong ini. Setelah usaha yang lumayan merepotkan, akhirnya bisa kubuka pintu kereta itu. Tahu-tahu beberapa orang langsung melompat, tapi lebih tepatnya mereka itu menjatuhkan diri begitu saja, bukan melompat untuk turun. Setelah terjerembab di bebatuan rel mereka berguling-guling seperti cacing.
Aku mengambil ancang-ancang dan segera melompat. Sebetulnya tidak terlalu tinggi, tapi kalau tidak hati-hati mungkin kaki bisa keseleo. Kulihat di beberapa gerbong belakang, sejumlah kecil orang juga melompat sepertiku. Segelintir orang waras yang tersisa.
Aku segera berjalan menjauh dari kereta aneh itu. Sepanjang berjalan, kulihat orang-orang yang rumahnya di sekitaran rel, mereka memperhatikan apa yang sedang terjadi dengan begitu khusyuk. Seperti tersedot begitu perhatian mereka. Seperti seluruh aktivitas mereka sebelumnya tiba-tiba distop begitu saja. Anehnya, aku punya prediksi tidak logis bahwa orang-orang ini pun nanti bakal jadi gila.
Aku mempercepat jalanku untuk segera mencapai jalanan besar. Niatku untuk segera mencegat taksi. Tinggal beberapa kilometer lagi menuju kantor.
“AXA Tower ya, Pak.”
Supir itu mengangguk tanpa bersuara.
Di dalam mobil taksi aku termenung memikirkan. Apa ini sebenarnya? Pikiranku berusaha untuk menganalisis dengan cepat. Di tengah-tengah diriku berusaha untuk tidak freak out, ponselku berdering. Henri. Rekan satu tim.
“Woy, sudah di mana lu?! Mau mulai nih!” Suara Henri terdengar normal. Dia pasti tak akan percaya jika kuceritakan apa yang baru saja kusaksikan.
“Iya, gua di jalan nih. Bentar lagi. Hen, gila, lu pasti ga percaya, tadi gua—”
Blip. Panggilan diakhiri.
Untuk sejenak aku hampir betanya-tanya lagi kenapa si kampret Henri tiba-tiba mematikan panggilannya saat aku masih ngomong. Tidak seperti biasanya. Tapi aku langsung teringat alasan Henri menelpon. Di kantor ada sebuah presentasi penting yang menantiku.
***
Mobil taksi memasuki gerbang kantor tanpa kuminta. Biasanya jika tidak diminta mereka akan berhenti di depan gerbang karena tidak mau membayar parkir kalau masuk gerbang. Bagus juga pelayanannya. Cepat pula. Aku tidak sempat memperhatikan bahwa sepanjang jalan tadi hampir tidak ada mobil lain selain mobil taksi yang kutumpangi. Perjalananku tidak lebih dari lima menit.
Aku tidak menyadari banyak hal lain karena begitu turun dan menginjakkan kaki di teras di depan lobi, aku terkagetkan lagi. Tiba-tiba terdengar suara tumbukan di atap teras. Keras. Dua kali. Belum juga beres kagetku, terdengar suara tumbukan ketiga. Seakan-akan hari ini tidak bisa lebih gila lagi, tumbukan ketiga itu bisa kulihat dengan jelas. Seorang pria terkapar, berdarah-darah, otaknya berceceran seperti es krim tumpah.
Aku segera berlari memasuki lobi. Kuhampiri meja resepsionis. Jangan-jangan semua ini halusinasiku saja karena kebanyakan minum tadi malam.
“Fia! Lu lihat gak tadi?!”
Yang kutanyai sedang tertunduk.
“Fia! Hei! Lu lihat gak tadi di luar?!”
Dia masih tertunduk. Seakan tidak bisa mendengar suaraku.
Aku celingak-celinguk. Lobi lengang.
Ketika aku menengok lagi, si Fia sudah menoleh ke arahku. Wajahnya kusam, maskaranya luntur, matanya sembab.
“Lu kenapa?! Heh! Fia!”
Si Fia malah menangis (lagi).
Buset.
Aku benar-benar kehabisan akal pikir.
“Suami saya mati, Pak.”
“Hah?” Ini tiba-tiba, tapi aku sudah melewati yang lebih sinting. “Suami lu yang di Kalimantan itu?” Tanyaku. Berusaha keep up.
Fia mengangguk.
Aku bingung juga harus menanggapi bagaimana. Kenapa hari ini begitu ganjil ya? Akhirnya aku memilih untuk berlaku biasa saja, seolah-olah.
“Lu lihat Pak Yogi ga? Kok dia ga jaga di depan?”
Fia cuma bengong, menatapku lurus. Oke, dia juga sudah nggak waras.
Pak Yogi adalah satpam kantor. Satpam kantor favoritku karena dia selalu ramah dan penuh hormat, terutama kepadaku. Ketika tahu aku asal dari daerah, dia langsung memanggilku dengan sebutan ‘Den’. Itu lah titik awal keakrabanku dengan Pak Yogi. Di kantor ini aku merasa paling dihormati oleh Pak Yogi. Dan dia adalah informanku terpenting soal kantor, baik itu yang berkaitan dengan urusan formal pekerjaan maupun konstelasi politik ter-update. Cuma kepada Pak Yogi aku waktu itu bercerita bahwa aku sedang PDKT dengan Jean. Pak Yogi memberikan dukungan penuh padahal sebelumnya aku rada jiper.
Aku tak punya pilihan lain selain menuju ke lantai atas. Siapa tahu ini merupakan rencana surprise buatku. Bisa jadi semua yang kusaksikan sampai detik ini adalah akting dan settingan. Toh, hari ulang tahunku tinggal tiga minggu lagi. Jangan-jangan ini ulah Jean.
Sesampainya di lantai 70, aku segera menuju ruangan rapat. Harapanku para direktur sudah menungguku di sana. Aku membayangkan diriku dimarahi oleh mereka karena telat lima menit. Sungguh indah bayangan itu. Tapi yang kudapati ketika aku membuka pintu adalah prediksi logis yang sebetulnya enggan kubayangkan.
Ruangan itu lengang. Bahkan si Henri tidak ada.
Aku segera menelponnya. Nada dering terdengar cukup lama sebelum akhirnya dijawab.
“Woi, ke mana lu?! Sudah mulai nih!”
Blip. Panggilan langsung diakhiri.
Aku terpaku. Tak bisa mengantisipasi apapun yang sebenarnya sedang terjadi. Lama aku terdiam seperti patung tolol.
Intuisi mengajakku untuk beranjak ke ruangan Jean di lantai teratas, lantai 71. Ketika di dalam lift, aku mendengar beberapa suara ledakan. Sepertinya berasal dari gedung tetangga.
Aku sudah terlalu merasa ganjil untuk merasa kaget lagi. Sumpah.
Akhirnya aku tiba di ruangan Jean.
Dari luar pintu ruangan aku mendengar suara-suara. Suara khas. Suara yang sangat kuhafal suara apa itu. Suara siapa itu. Dan mulai detik itu sebenarnya aku sudah merasa ingin mati.
Ini benar-benar di luar prediksi. Aku…
Meskipun tahu yang akan kutemui tidak akan membuatku waras lagi, tetap saja kubuka pintu itu. Pintu ruangan Jean. Dia ada di dalam sana.
Detik mataku melihatnya, mungkin saat itu juga kiamat terjadi. Aku tak peduli kiamat besar yang mungkin memang sedang terjadi di luar sana. I couldn’t care less. Tapi yang ini, yang di hadapanku ini bukan kaleng-kaleng sih hancurnya, rusaknya.
Pak Yogi sedang menyetubuhi Jean di atas meja kerjanya. Dan bukan hanya Pak Yogi di sana, tapi juga si Henri dan beberapa laki-laki lain (beberapa dari jajaran direksi). Total mungkin lima orang sedang menggerayangi tubuh telanjang Jean.
Aku melangkah pelan seperti orang linglung. Memang linglung sih.
Jean melihatku, menatap mataku, tembus hingga ke dasar perasaan.
“Mau ikutan, sayang? Antre dulu ya.” Ujarnya seraya mengulum kembali penis salah satu laki-laki yang—sudah kupastikan—juga sedang tidak waras itu. Aku tidak sempat memperhatikan bahwa di ruangan kerja itu ada banyak laki-laki lain yang tergeletak, entah mati entah cuma pingsan.
Jean mendongak sekali lagi, menatap ke arahku, lalu tersenyum. Wajahnya bak iblis betina. Dan sepertinya dari wajah itu lah keluar neraka yang melahapku segera.
Aku jadi tak menjadi lagi. Tak ada aku, rasanya. Semua menguap begitu cepat. Kesadaranku. Dunia ini. Segalanya.
Aku pun berteriak—seperti orang-orang di kereta yang kusaksikan itu. Berteriak aku sepuasnya. Lantas kuberlari sekuat tenaga, menerjang kaca bening berlatarkan langit biru dan gedung seberang.
Seketika melayang.
Aku jadi ingat simbok.
Tinggalkan komentar