Lunarisla


scient vel potent

Mungkin secara garis besar kita bisa mengelompokkan hasrat psikologis manusia ke dalam dua kategori, yakni rasa ingin berkuasa dan rasa ingin tahu. Aku mungkin termasuk kelompok kedua. Seorang presiden, seorang politisi, atau seorang pebisnis, mungkin termasuk ketegori yang pertama. Mungkinkah ada orang yang menginginkan dua-duanya? Kayaknya gak mungkin. Sebab, pengetahuan dan kekuasaan sepertinya berada di domain yang berbeda.

Penumpukan pengetahuan mensyaratkan kelegaan hati dan pikiran, wadahnya harus luas untuk bisa ditempati dengan nyaman oleh si pengetahuan yang ukurannya besar banget itu. Lain halnya dengan kekuasaan. Kekuasaan justru mengharuskan orang untuk menguras habis-habisan apa yang ada di dalam reservoir mentalnya. Jadi sejak awal mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dan kekuasaan itu berbeda.

Akan tetapi, dua hasrat ini sebenarnya tidak bisa dilihat dari sekilas tampilan luar. Mungkin saja ada orang yang di luar tampak sedang mengejar ilmu, tapi niatnya mengejar ilmu itu justru untuk mendapatkan kekuasaan lebih. Sebaliknya, mungkin juga ada orang yang dari luar tampak sebagai—misalnya—seorang pebisnis yang punya banyak kekuasaan, tetapi dia menggunakan kekuasaannya itu untuk menggali pengetahuan.

Mana yang lebih baik antara hasrat berkuasa dan hasrat ingin tahu?

Menurutku dua-duanya sama saja. Memang pada umumnya mengejar kekuasaan itu terlihat buruk dan menuntut ilmu itu terlihat baik, tapi sebetulnya, ujung-ujungnya ya kembali lagi pada bagaimana kekuasaan atau ilmu itu digunakan. Idealnya memang orang itu tidak berkuasa atas orang lain—karena ini lah yang disebut penjajahan, dan penjajahan di atas dunia kan harus dihapuskan kalau kata UUD ‘45. Tapi ada begitu banyak sekali orang di dunia ini yang malah bakal kebingungan kalau dirinya tidak dikuasai oleh orang lain. Artinya, orang ini malah bakal menderita kalau tidak dijajah oleh orang lain.

Kemerdekaan itu bukan sesuatu yang 100% enak kok. Ini analoginya mirip dengan bayangan kita dulu, ketika kita masih kanak-kanak, tentang dunia orang dewasa. Dulu kita sering membayangkan betapa enaknya hidup bebas seperti orang dewasa, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang memarahi kalau berbuat salah. Eh, ternyata, kebebasan orang dewasa itu datang dengan konsekuensi yang malah bikin berat. Bebas berarti harus mandiri, harus mau bertanggung jawab, dan harus bisa menyadari kesalahan sendiri tanpa ditunjukkan oleh orang lain. Menjadi dewasa ternyata sangat melelahkan dan mengurangi waktu main dan waktu tidur kita.

Jadi, as bad as it sounds, sebetulnya orang berkuasa itu memang diperlukan.

Bagaimana dengan halnya hasrat ingin tahu? Apakah selalu baik dampaknya? Dalam kasus yang paling ekstrim, sebetulnya rasa ingin tahu itu berbahaya juga. Kalau seseorang tidak siap menerima pengetahuan yang dia inginkan, bisa jadi orang tersebut bakalan sinting. Truth is—most of the time—bitter. Tapi meskipun pengetahuan itu berat dan pahit, kalau kita mampu melewatinya memang bakal worth it banget sih. Menurutku rasa puasnya sedikit lebih advanced lah dari rasa puas yang didapat dari kekuasaan.

Selain berat, kadang proses dalam mencari pengetahuan itu mengorbankan banyak hal. Fisik dan mental. Sumber daya. Waktu. Bahkan bisa juga harus mengorbankan orang lain atau makhluk lain.

Jadi mencari ilmu itu ya tidak 100% baik juga. Kadang bisa blunder juga.

Baik kekuasaan maupun pengetahuan, menurutku keduanya tidak berbatas—terutama kalau batas yang dimaksud adalah batasan manusia. Will to power itu hampir unlimited deh. Mungkin batasnya ya cuma umur. Begitu juga dengan pengetahuan. There is always more to know, ya ‘kan?

Pada akhirnya mental manusia itu bakal jadi seperti wadah bolong. Ia hanya akan mampu menampung sekian banyak pengetahuan atau hasrat berkuasa dalam kurun waktu tertentu. Keduanya akan terus bergerak di dalam wadah bolong itu. Intinya, mereka cuma lewat doang.

Tapi yang manapun itu, hasrat berkuasa ataupun hasrat mencari tahu, dua-duanya tetap seru kok. Soalnya, ya, tidak ada yang lain, ‘kan?

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai