Ketika melihat anak kecil, anak-anak, perasaanku campur aduk. Ada senang. Ada takut.
Mungkin karena aku lupa banyak hal yang terjadi di masa kecilku. Jadi rasanya kayak mimpi saja. Rasanya aku tidak pernah jadi anak-anak. Atau mungkin menjadi dewasa memang semenyebalkan itu kali ya?
Tapi sejauh yang kuingat, masa kecilku tidak buruk. Bukan dibandingkan dengan keadaanku sekarang sih. Tapi dibandingkan dengan kondisi masa kecil orang lain.
Di sekolah aku ketemu dengan anak-anak yang kehidupannya sudah berat. Yang kalau aku membayangkan harus menjalani kehidupan kayak mereka, kemungkinan besar aku tidak akan sanggup. Dan kesengsaraan mereka itu akar utamanya adalah–coba tebak… ya, betul–orang tua mereka sendiri. Bikin aku berpikir bahwa, BUSET, jadi orang tua itu susah banget ternyata ya.
Bukannya aku bermimpi jadi orang tua yang perfect atau gimana, tapi nyatanya membesarkan makhluk bernama manusia ini memang susah banget. Mungkin sebab utamanya karena si orang tua sendiri tidak selesai dengan dirinya sendiri. Tapi apa sih yang dimaksud dengan “selesai-dengan-diri-sendiri” itu? Heran ga, sih? Bukannya selesai dengan diri itu artinya mati, ya? Apa berarti harus pernah ngerasain mati dulu baru boleh jadi orang tua?
Memang, sebetulnya, kalau dipikir-pikir, hidup ini tuh cuma soal saling mendidik saja. Tapi, siapa mendidik siapa, itu tidak jelas. Terkadang orang yang seharusnya di posisi mendidik, malah sebetulnya sangat butuh untuk dididik. Juga, ada kalanya seorang guru harus belajar dari muridnya. Tapi daripada bingung, mending kita anggap bahwa semua orang sama saja.
Memang manusia makhluk yang berubah-ubah. Tapi memang semua makhluk itu selalu berubah-ubah, kan?
Namanya juga makhluk.
Tinggalkan komentar