“Kaia?”
“Mel!”
“Bagaimana— tapi kau kan—” Mel tak kuat melanjutkan kalimatnya, ia hanya ternganga.
“Aku tahu. Hahahaha. Hampir semuanya bereaksi sama sepertimu.”
“Menjadi alfa tak berarti apa-apa di dimensi ini.”
Kaia semakin terkekeh. “Betul sekali. Banyak yang lebih parah dariku lho. Bulan lalu aku bertemu alfa gugus Gilian, dia bahkan tak ada ponsel.”
“Tapi kurasa dengan begitu antena dan sinyalnya lebih tokcer darimu. Benar, kan?”
“Enak saja. Gini-gini aku koordinasi setiap hari lho, jangan salah.”
“Berarti kau tahu bahwa aku akan ke sini?”
“Yup.”
“Kau bahkan tahu bahwa pesawatku delay?”
“Itu sih bagian paling mudah. Hahahaha.”
Mel termenung, memikirkan apa-apa saja yang diketahui oleh pemimpinnya itu mengenai kehidupannya yang ini.
“Kusisakan 10% saja sebagai privasimu, Mel.”
“Omong kosong.”
Kaia terkekeh lagi.
“Bagaimana dengan Dohan?”
“Kau mungkin tak menyangkanya juga. Sebetulnya dia yang paling jauh dari perimeter, tetapi justru dia yang paling pertama kutemukan. Dan karena itu pula dia yang sekarang membantuku menjaga radar.”
“Memangnya kau bikin basis di sini?”
“Yup. Spesial buat Nona Mel yang pemberani dan baik hati.”
“Kukira sudah ada gugus lain yang bikin basis di sini.”
“Siapa?”
“Tahun lalu aku samar-samar mendeteksi sinyal dari gugus Tiramat.”
“Oh, Yakub?”
“Siapa?”
“Yakub. Itu nama alfa mereka.”
“Seingatku bukan dia deh.”
“Panjang ceritanya, Mel. Yang jelas, kemungkinan besar karena peristiwa itu juga lah mereka menyingkir dari sini, sehingga akhirnya aku dikirim ke sini untuk menggantikan.”
Mel mengingat-ingat visual samar yang ia tangkap tahun lalu.
“Pantas saja ketika itu resonansinya tidak terlihat rapi, dan setelah itu aku tak pernah melihatnya lagi.”
“Ya, kurasa banyak yang menangkap dampaknya.”
“Berarti kau belum lama di sini?”
“Kalau sekadar lewat sih sudah sejak lama, aku kan paling gemar mengorek hidupmu, hahahaha. Yang lain ceritanya kurang seru.”
“Siapa saja yang sudah ketemu? Atau jangan-jangan aku yang terakhir?”
“Tidak, bukan kau.”
“Iu?”
“Ya. Hahahahaha.”
“Sama saja seperti aku yang terakhir. Di siklus mana pun kita semua tahu bahwa Iu bakal nongol terakhir.”
“Oleh karena itu aku butuh bantuanmu. Cuma kau dan Hat yang punya nyali menghadapi Iu yang belum melek.”
“Dengan kata lain, cuma kami yang bersedia kalkulasi sampai otak terbakar.”
“Hahahahaha. Itu kau paham.”
“Aku tak habis pikir kenapa tak ada satu pun di antara kalian yang punya inisiatif untuk mempelajari arkma supaya bisa membantu kami berdua.”
“Lho, kalian berdua kan sudah lebih dari cukup. Ngapain kita tambah-tambah orang judes?”
“Kurang ajar.”
“Aku paling suka ketemu dengan kau, Mel. Seperti tak ada bedanya antara sebelum dan sesudah melek. Si Hat juga begitu. Pasti ada hubungannya dengan kalkulasi yang menjangkiti otak kalian.”
“Cih. Beraninya bicara kepadaku. Di depan Hat kau tak bernyali kan bacot seperti itu?”
“Ya iya lah. Aku tak sebodoh itu.”
“Sebentar. Aku mau cancel penerbanganku dulu.”
“Kau tak jadi presentasi?”
“Menurutmu?!”
“Kan bisa kita urus dari sana.”
Mel menatap Kaia dengan tatapan yang penuh heran.
“Please, Mel. Jangan cancel penerbanganmu.”
“Apa urusanmu?!”
“Kalau begitu ke kota sebelah saja, tidak perlu terlalu jauh. Oke?”
“Nah, aku sudah pesan taksi. Kita balik ke apartemenku, lalu ketemu Hat.”
Kaia hanya cemberut sepanjang perjalanan menuju apartemen Mel.
“Tak kusangka kami punya alfa seudik dirimu.” Mel menggerutu sambil membuat surat pengunduran diri kilat yang akan segera ia kirim ke perusahaannya.
Tinggalkan komentar