Aku kepingin cepat mandiri. Bukan mandiri finansial (aja), tapi menurutku yang lebih penting dan seru itu mandiri material. Artinya, meskipun nggak punya uang tetep bisa makan dengan cukup. Pengen punya kebun, beberapa hewan ternak, dan sarang lebah madu. Pengen masak pakai kayu bakar. Pengen irit pakai minyak sayur. Pengen di rumah pake penerangan seadanya kecuali di ruang baca. Kangen banget sama rumah panggung tradisional Sunda yang aku udah agak lupa bentuk detailnya.
Menurutku impian untuk hidup ala desa begini sedang menjadi tren di kalangan anak muda urban yang sudah muak dan sumpek sama kehidupan kota. Tapi aku sering merasa nggak layak. Nggak pantes. Sebagai orang kota, aku udah terlalu banyak memakai sumber daya energi dengan sembrono. Kalau itu dihitung dosa, gede banget. Aku sering ngerasa nggak layak untuk memimpikan hidup yang tenteram setelah semua kealpaan, ketidaksadaran, dan ketidakpedulian yang kulakukan begitu saja selama ini. Aku ngerasa, kayak, Alam mungkin nggak bakal maafin aku.
Beberapa bulan yang lalu, pas masih sering kontak dengan Tondy, pas dia masih sering ngingetin tentang bencana yang bakal datang beruntun di tahun ini, aku suka low key berharap bencana katastrofik itu cepetan terjadi. Aku tahu, ini ulah nafsu. Ini perbuatan tercela. Aku sering membayangkan jadi survivor di dunia post-apocalypse. Tentu saja khayalan kayak gini berasal dari film-film yang pernah aku tonton. Dan tentu saja khayalan semacam ini sangatlah goblok.
Tapi salah satu motivasi terkuat yang bikin aku pengen supaya dunia cepet kiamat aja, ya, itu tadi: pengen kembali ke gaya hidup masa lalu. Meskipun kalo pulau Jawa beneran bakal diacak-acak, nanti, kemungkinan besar peradabannya bakal mundur jauh banget. Jadi nggak bakal terwujud juga tuh impian hidup ala desa karena kembalinya bakal ke zaman berburu dan meramu. Itu di masa transisi. Setelah masa transisi mungkin kondisinya insya Allah lebih baik. Tapi itu berarti harus bisa melalui masa transisi dengan baik.
Aku sampai saat ini masih setuju sama kata-kata Zizek bahwa lebih mudah membayangkan dunia ini berakhir daripada membayangkan kapitalisme berakhir. Makanya, aku mikir, kalau memang harga yang harus dibayar untuk mengakhiri kapitalisme adalah kiamat, ya mangga. Be it. Tentu saja pemikiran sok kayak gini, lagi-lagi, berasal dari nafsu. Hehehe. Susah banget emang.
Aku juga gak yakin sih diriku bakal lolos ke Dunia Baru. Tapi kan nggak boleh memvonis diri sendiri kayak gini, ya. Itu nafsu juga. Berarti kalo mikir nggak bakal lolos, karena itu dari nafsu, mungkin beneran nggak bakal lolos. Gitu, ya? Eh, gimana sih? 😦
Entah sudah sekuat apa batinku buat menghadapi perubahan-perubahan nggak terduga di masa depan. Please banget Gusti, aku tuh pengen sembuh dari penyakit suka membayang-bayangkan masa depan. Aku mau hidup maksimal untuk hari ini, untuk detik ini, untuk kamu. Aku juga pengen lepas dari teror kenyamanan masa lalu yang bikin aku sulit menerima beban eksistensi yang memang sudah tugasku buat menanggungnya.
Ini aku bingung banget mau memelas apa gimana. Katanya pengen mandiri, tapi kok masih ngemis ke Gusti pengen begini-begitu? Usaha sendiri dong! Usaha maksimal. Tapi kan usaha itu bersumber dari hasrat, kan? Padahal hasrat itu ya sumber kesengsaraan, kan? Ah, mbuh lah.
Tinggalkan komentar