Bagi penduduk desa itu, sebelumnya, tidak ada yang lebih mewah dari aki isi ulang yang digunakan oleh Pak Lurah untuk menyalakan televisi generasi pertama, di balai desa, setiap malam Ahad. Dan tentu saja si Televisi itu sendiri. Sebetulnya mereka memang sepaket—televisi dan aki. Semua orang berdesak-desakan di pondok yang sempit itu, menonton apa saja yang muncul di layar. Entah itu berita, pacuan kuda, atau sekadar iklan sabun cuci. Sebenarnya tidak penting juga apa yang ditayangkan, mereka hanya senang melihat gambar bergerak-berak. Mereka akan bersorak serempak ketika ada adegan yang mencengangkan.
Dengan adanya pemutaran televisi setiap malam Ahad, tempat itu jadi ramai. Di mana ada keramaian, di situ ada orang jualan. Maka, acara nonton TV ini tidak sekadar sebagai hiburan, tapi juga salah satu pemutar roda perekonomian warga setempat. Sebenarnya orang-orang tidak terlalu peduli juga dengan si TV, paling hanya beberapa puluh orang saja yang benar-benar memelototkan matanya ke layar hitam putih itu. Sisanya? Ada yang pacaran, ada yang main catur, ada juga yang sekadar merokok sendirian—dan merasa tak lagi sendirian dengan adanya keramaian tersebut.
Anak-anak kecil, yang masih bebas hidupnya, berlari kejar-kejaran. Entah permainan apa yang mereka perankan. Mungkin sedang memeragakan orang-orang dewasa yang dikejar penagih utang, atau bapak-bapak yang kepergok main judi oleh istrinya. Entahlah. Tidak ada yang tahu juga siapa yang mengatur permainan itu. Pokoknya, anak-anak itu, hanya tahu lari saja. Sudah. Cukup.
Tapi terkadang, di tempat ramai itu, transaksi kriminal betulan bisa saja terjadi. Misalnya, antara seorang remaja tanggung dengan seorang pemuda yang baru pulang merantau dari kota. Sembunyi-sembunyi (meskipun di tempat ramai) mereka bertukar barang. Si remaja memberikan duit, si pemuda memberikan sebuah buku bersampul cokelat, mirip dengan sampul buku pelajaran, tapi tentu saja isinya bukan pelajaran. (Lho? Tergantung sih. Mau dianggap sebagai pelajaran, juga boleh.)
Acara rutin ini benar-benar penting buat semua orang. Terlepas dari apapun kepentingan mereka, warga desa sangat mensyukuri inisiatif kades baru itu. Mereka sudah rada bosan dengan pengajian rutin yang diadakan setiap malam Jumat. Ramai-ramai di malam Ahad ini sungguh merupakan suatu alternatif yang menyenangkan. Tentu saja, pada awalnya, ada beberapa tokoh desa yang tidak setuju. Mereka menganggap hal-hal baru berbau teknologi seperti itu sangat berbahaya bagi kehidupan warga desa yang tenteram. Nanti jadi seperti orang kota, kecam para tokoh. Memangnya orang kota itu seperti apa, tanya warga.
“Ya seperti yang di TV itu.”
“Memangnya Abah (panggilan hormat) pernah melihat apa yang ditayangkan di TV itu?”
“Tidak. Tapi saya tahu. Pokoknya tahu. Saya sudah peringatkan lho, ya.”
“Di TV juga ada acara selawatan, Abah.”
“Yang benar?”
“Benar.”
“Kapan itu?”
“Setiap malam Jumat.”
Setelah itu, tak ada lagi penolakan. Bahkan acara pengajian pun akhirnya dipindah lokasinya, dari yang sebelumnya di masjid, jadi di balai desa.
Sebenarnya cukup sulit untuk menggambarkan kemeriahan yang terjadi. Bukan seperti konser musik rock di kota-kota besar yang ramainya itu menggelegar. Keramaian di desa paling-paling hanya menutupi suara jangkrik. Tapi kehangatan yang terjalin berada pada takaran yang pas sehingga membuat siapa saja betah berlama-lama di sana.
Jam 09.00 malam beberapa warga mulai beranjak pulang, ke rumah masing-masing. Jam 10 malam, hanya tersisa beberapa perangkat desa yang bertugas membereskan perangkat TV itu, disimpan di rumah Pak Kades yang terletak tepat di samping balai desa. Dari jam 9 sampai jam 10 itu, akan terlihat warga desa yang pulang beriringan sambil membawa obor. Seperti pawai. Kalau dilihat dari atas menggunakan drone, pasti akan sangat menakjubkan. Titik-titik cahaya obor merayap seperti kunang-kunang yang sedang latihan baris-berbaris. Seperti parade. Sayangnya teknologi semacam drone masih tak terbayangkan oleh mereka.
“Bulan depan bawa lagi ya, Bang.”
“Siap.”
Di rumahnya, di dalam kamar yang juga diisi oleh beberapa orang saudaranya yang sudah terlelap tidur, seorang remaja memegang dengan penuh takzim sebuah buku bersampul warna cokelat. Hasil jerih payahnya menabung uang jajan selama sebulan penuh terbayar sudah. Perlahan-lahan dia buka buku itu, degup jantungnya semakin cepat, napasnya memburu, padahal belum juga terbuka seluruhnya itu buku. Tangan kirinya secara otomatis bergerak ke bagian bawah—atau tengah—tubuhnya. Dibantu oleh remang cahaya lampu teplok, mulai terpampang gambar-gambar yang membuat kepalanya puyeng. Ini sungguh waktu yang krusial. Hanya pada malam hari saja, ketika suasana remang dan semua orang sudah pada tidur, dia bisa curi-curi memelototi buku stensilan. Tidak boleh disia-siakan kesempatan penting ini. Mungkin saja merupakan kesempatan terakhir. Siapa tahu bulan depan pemuda yang merantau ke kota itu tidak balik. Siapa tahu dia mati. Siapa tahu bulan depan dia datang, tapi lupa membawa stoknya. Banyak lah kemungkinan itu.
Dan benar saja.
“Ini yang terakhir. Abang nggak akan ke kota lagi setelah ini.”
“Loh, kenapa, Bang?”
“Abang kerja di sini mulai sekarang.”
Sebenarnya dia juga tidak tahu apa kerja pemuda ini.
“Memangnya Abang kerja apa sebetulnya?”
“Insinyur.”
“Apa itu, Bang?”
“Sudah lah. Nanti juga mengerti.”
Mulai saat itu, si pemuda tidak perlu lagi kerja di kota. Kini tersedia pekerjaan untuknya di desanya sendiri. Semua berkat proyek pemerintah.
Malam itu, tidak seperti biasanya, Pak Kades ditemani oleh Pak Camat. Tidak seperti biasanya juga, sebelum acara nonton TV di mulai, ada cuap-cuap yang cukup panjang dari mereka berdua. Warga tidak terlalu memperhatikan. Tapi kalau yang memperhatikan, maka akan tahu, bahwa sebentar lagi akan dimulai pembangunan instalasi listrik di desa tersebut. Sebelumnya, perangkat desa dan perangkat camat, juga sudah berdiskusi (meminta izin) kepada para sesepuh kampung.
“Nanti azan dan pengajian bisa pakai toa, Bah.”
“Toa?”
“Eh, itu, Bah, spiker. Tahu?”
Hening beberapa saat.
“Tahu. Tahu.” Si Abah manggut-manggut.
“Kalau sedang hujan deras pun, tetap ada suara sampai ke pelosok kampung.”
“Gitu, ya?”
“Saya jamin warga bakal semakin rajin ke masjid.”
Abah memandang Pak Camat dengan tajam.
“Jadi nanti tidak perlu pakai bedug lagi, Bah, kalau capek. Spiker ini, suara Abah bisik-bisik saja, pasti terdengar sama semua warga.”
“Jangan ngawur. Bedug ya bedug. Ada masalah apa Pak Camat sama bedug di masjid kami?”
Pak Camat keringat dingin. Duh, salah ngomong.
Desas-desus beredar dengan cepat. Komentar dari warga macam-macam. Ada yang penasaran, ada yang takut, ada yang takjub.
Kayak aki, tapi nggak habis-habis.
Kok bisa? Memang akinya segede apa?
Ngaco! Beda lah sama aki. Aki mah cuma buat satu TV.
Emang ini bisa buat berapa TV?
Buat nyalain TV sekampung juga bisa.
Yang bener?
Serius, saya. Kemarin waktu Pak Camat ngomong, nggak pada dengar ya?
Tapi kan kita nggak ada yang punya TV.
Nanti dikasih TV satu-satu.
Mereka pun tertawa. Tiga orang buruh tani yang sedang menyiangi ladang itu hampir tidak bisa membayangkan jika di rumah mereka ada TV seperti yang di balai desa. Bakal sangat aneh. Tidak mungkin serius.
Yang lebih tak terbayangkan adalah lampu bohlam. Proyek pemerintah ini juga sebenarnya lebih mengutamakan penyediaan penerangan dibandingkan pengadaan TV. Cukup menakjubkan juga bahwa penemuan seseorang nun jauh di Amerika sana bisa sampai ke pelosok pulau Jawa, ribuan mil jauhnya, dan tak ada yang menganggap itu sebagai suatu bentuk penjajahan.
Lebih terang dari petromak? Masa sih, Ceu?
Iya. Dan nggak perlu dikompa.
Kan pernah muncul juga di TV.
Yang mana?
Yang nyala itu. Yang kedip-kedip.
Oh, itu? Kecil dong itu mah. Mana mungkin lebih terang dari petromak.
Kecil, tapi kan banyak.
Rasa penasaran tiga orang ibu-ibu itu terjawab beberapa bulan kemudian. Ternyata lampu-lampu bohlam itu tidak terlalu beda dengan petromak kalau ditinjau dari segi tingkat terangnya. Cuma, yang bikin warga senang sekali, memang, bahwa lampu bohlam ini tidak perlu dipompa dan tidak perlu diisi ulang pakai minyak tanah. Bisa menghemat minyak supaya hanya untuk kompor masak saja.
Kecamatan memberikan cukup banyak lampu untuk setiap rumah. Minimal tujuh. Satu untuk kamar mandi, satu di dapur, ruang tengah, dan di tiap-tiap kamar, sekarang seisi rumah terang-benderang.
Lampu-lampu di jalanan kampung juga sangat membantu. Kini tidak perlu lagi repot-repot bikin dan bawa obor. Jalan terang benderang, tidak lagi khawatir menginjak ular tanpa sadar. Celeng dan anjing pun jadi enggan lewat. Rupanya hewan tidak secerdas manusia dalam beradaptasi dengan teknologi modern. Kasihan.
Abah pun senang dengan lampu baru di masjid. Awalnya. Dengan adanya cahaya bohlam, Abah mengira orang-orang akan lebih semangat beribadah di masjid. Awalnya memang begitu. Warga cukup antusias melihat kondisi masjid yang seperti baru selesai dirombak. Padahal tidak dilakukan perombakan sama sekali. Hanya diberi lampu neon—yang lebih terang (khusus untuk masjid). Kalau ke masjid malam-malam atau ketika hujan badai, suasana jadi tidak terlalu mencekam lagi.
Toa yang baru dipasang pun rupanya sangat hebat. Abah betul-betul terkesima dengan teknologi pengeras suara ini, meskipun rada kaget juga. Abah kan sudah sepuh. Kalau yang hendak azan anak muda, Abah selalu minta volume-nya dikecilkan. Meskipun berupa panggilan azan, panggilan untuk kebaikan, Abah tetap merasa kurang sopan berteriak-teriak sekencang itu ke seantero kampung. Bagaimana kalau ada orok yang sedang tidur? Bedug itu, meskipun juga berisik, tapi tidak terlalu bikin kaget. Beda dengan Toa yang lumayan memekakkan telinga.
Secara umum Abah bisa sedikit menerima perubahan yang terjadi di kampung. Tapi tidak lama. Entah kapan bermula, sedikit-sedikit orang yang datang ke masjid mulai berkurang. Apalagi kalau sedang hujan badai. Warga lebih memilih berkemul di rumah masing-masing, yang terang, dan hangat, dan tidak perlu basah-basahan. Pernah ada suatu ketika Abah hanya sendirian sembahyang malam di masjid. Baru pertama kali terjadi seperti itu. Masjid memang menjadi terang, tapi sekaligus menjadi lebih dingin. Lebih baik sebelumnya. Meskipun remang-remang, tapi hangat bukan main.
Abah sebenarnya sedih, tapi melihat warga desa yang senang dengan banyak hal baru, Abah tak kuasa untuk protes.
Setelah masuk listrik, masuk juga banyak peralatan atau mesin-mesin baru. Buat apa ada listrik kalau tidak dipakai, ya kan? Kini, banyak hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan pada malam hari, jadi bisa dilakukan. Salah satunya adalah penyortiran hasil panen di gudang milik tengkulak. Biasanya hanya bisa dilakukan siang hari. Dengan terang lampu neon yang menyilaukan, buruh-buruh tani bisa bekerja hingga larut malam. Distribusi bisa lebih cepat (profit meningkat). Sebenarnya Pak Tengkulak tidak memaksa untuk kerja lembur, tapi kalau diberi insentif yang cukup menarik, siapa buruh yang tidak tergiur, coba? Lagipula, ternyata proyek listrik masuk desa ini tidak selamanya gratis. Hanya tiga bulan pertama saja. Ke sananya mesti bayar.
Meskipun begitu, tidak terlalu banyak warga yang mengeluh atau merasa telah ditipu oleh Pak Camat. Pak Camat memang tidak bilang bahwa listrik ini tidak gratis, tapi pada saat menjelaskan waktu itu ‘kan warga tidak ada satu pun yang bertanya. Jadi, ya, mau bagaimana lagi? Toh, dengan masuknya listrik, bermunculan juga banyak pekerjaan baru. Artinya, pemasukan warga rata-rata bertambah. Untuk berbagai kenyamanan yang ditawarkan listrik, mereka tentu saja—pada akhirnya—rela bekerja sedikit lebih lama atau sedikit lebih keras.
Tidak ada pembagian TV gratis, tapi perlahan, setiap rumah mampu membeli TV sendiri. Tak diragukan lagi, acara nonton TV bareng di balai desa yang rutin diadakan tiap malam Ahad pun akhirnya sirna. Bukan hanya TV, nantinya, meskipun butuh waktu yang cukup lama, warga pun akhirnya punya kipas angin, mesin cuci, dan kulkas.
Tapi seorang remaja jadi menderita. Kini, siang ataupun malam, tidak ada kondisi remang-remang yang bisa ia manfaatkan. Sudah si Abang lama tidak memberi suplai, sekarang ditambah, seisi rumah sangat tidak memadai untuk aktifitas pribadinya. Tapi murungnya itu tak berlangsung terlalu lama.
Setelah proyek di desa selesai, si Abang kembali bekerja di kota. Kembali pulang sebulan sekali. Penjelajahan baru pun dimulai.
“Ini namanya HP.”
“HP?”
“Hengpon, panjangannya.”
Lama si remaja menekuri benda paling ajaib yang pernah ia temui sepanjang hidupnya itu.
“Bisa apa ini, Bang?”
Pemuda itu terkekeh. Kamu pasti akan terjengkang saking terkejutnya, Dik, batin si Pemuda. Lalu dia menekan beberapa tombol.
Refleks, remaja itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tapi ia tidak bisa menutupi kupingnya juga, jadi suara dari benda bernama HP itu sangat jelas terdengar olehnya. Jantungnya langsung berdegup sangat kencang. Ini gila. Ia hampir tak berani melanjutkan. Tapi, tak berapa lama, ia pun mengintip dari sela-sela jarinya.
Si Pemuda terbahak-bahak melihat reaksi remaja itu.
“Gimana? Hebat kan?”
“Lebih hebat dari TV. Abang dapat dari mana ini, Bang?”
“Di kota banyak. Tapi mahal.”
“Mahal, Bang?”
“Setahun jajanmu ditabung, baru cukup buat beli yang di bawah ini.”
“Kalau pinjam bisa nggak, Bang?”
“Mau, punya Abang ini?”
“Mau, Bang.”
“Dua kali harga biasa, ya. Pinjamnya pas Abang lagi balik kampung aja. Tiga hari.”
“Serius, Bang?”
“Iya. Nanti Abang isi dulu yang banyak di kota. Bulan depan kita ketemu lagi di sini.”
Di sini yang dimaksud adalah di area tower SUTET. Karena pasar malam Ahad bubar, mereka pun mencari tempat baru untuk melakukan transaksi. Area SUTET adalah yang paling tepat. Ada plang besar bertuliskan DILARANG MASUK. Warga pada umumnya tidak ada yang berani masuk. Selain takut terjadi apa-apa sebab alasan teknologi (takut tersetrum), mereka juga takut karena sebab mistis. Lahan yang dijadikan area SUTET adalah bekas kuburan kuno. Sebenarnya sudah tidak nampak ada makam apa-apa, tapi warga percaya bahwa dulunya tempat itu adalah tempat yang sangat angker dan tidak boleh diusik. Waktu masa pembangunan pun kabarnya ada tiga orang pekerja yang mati di situ.
Tapi, memangnya apa yang orang pikirkan kalau hasrat sudah di ubun-ubun? Apa saja bisa diterjang. Dia bahkan tidak sempat memikirkan di mana akan menggunakan HP itu padahal seisi rumah selalu terang benderang. Apa harus diam-diam mencari kebun yang sedang kosong? Sudahlah, itu urusan nanti, pikirnya. Sekarang yang penting dapat uang.
Orang tua si remaja pun dibuat terheran-heran karena anak ini tiba-tiba ingin mulai giat bekerja. Sebenarnya di desa itu cukup lumrah anak-anak atau remaja bekerja. Kalaupun tidak mendapat upah, mereka bekerja dalam rangka membantu orang tua. Cukup mengejutkan bahwa anak-anak di desa lebih mengerti soal etos kerja ketimbang anak-anak di kota.
Di kampung itu, sebetulnya, orang tua si remaja bisa dibilang cukup kaya dan terpandang. Mereka punya beberapa lahan pertanian, meskipun tidak sebesar milik tengkulak utama. Kalau urusan uang, sebenarnya dia bisa saja langsung meminta kepada ayahnya. Pasti diberi. Tapi, dia tidak akan sanggup menjawab pertanyaan mau diapakan duit itu. Makanya, strategi yang dia ambil adalah meminta kenaikan uang jajan barang 30%, sisanya, untuk menggenapi harga jual si Abang, dia minta dicarikan pekerjaan harian yang upahnya lumayan.
Mulailah ia kerja keras selama sebulan itu demi aktifitas merancap yang lebih canggih. Semua orang memujinya sebagai anak yang rajin. Sedikit saja ia merasa berasalah karena orang-orang tidak tahu apa motif dia yang sebenarnya.
Setelah berpeluh payah, akhirnya hari yang dinanti-nanti pun tiba. Sepulang sekolah, dia segera beranjak menuju tempat pertemuan. Uang sudah disiapkan. Hasrat sudah dikumpulkan, dibendung, sudah hampir jebol, sob. Akan tetapi, meski sedang girang, dia tetap waspada. Jangan sampai ada orang yang melihatnya, tahu, atau mengikutinya. Bisa gawat. Untungnya jalanan menuju area SUTET selalu sepi. Sebenarnya tidak bisa disebut jalan juga sih. Hanya ruyuk.
Sambil tetap mengendap-endap, dia akhirnya sampai di tempat. Oh, sial, ada suara orang. Beberapa orang. Yang jelas bukan suara si Abang. Ke mana si Abang?
Sambil bertanya-tanya, dia mendengarkan percakapan beberapa orang di dalam area SUTET itu.
Ayo, kalo berani naik sini. Ah, cemen!
Cuma segini doang masa takut?
Dia mengenali suara-suara itu. Anak tetangga. Mungkin usia mereka terpaut beberapa tahun di bawahnya. Dia mengintip dari balik pagar pembatas area. Rupanya ada tiga orang anak, dan dia kenal mereka semua. Terutama anak yang masih di bawah itu, yang belum naik.
Anak-anak sinting itu rupanya sedang adu berani memanjat tower SUTET.
Katanya tadi berani.
Kalau mau tasnya balik, ambil sendiri sini.
Kurang ajar. Ini sih namanya penindasan. Tapi remaja itu tetap diam mengamati, tidak berbuat apa-apa.
Si anak yang masih di bawah pun perlahan mendekati tower. Dia tampak ngeri ketika melihat ke atas, tapi tatapannya itu terpaku pada tas miliknya. Mungkin ada benda yang sangat penting di dalam tas itu. Anehnya, anak ini tidak berucap sepatah kata pun. Dia hanya menatap, sambil pelan-pelan memanjat tower besar itu.
Mungkin, ketika sudah sampai di atas sana, dia berniat mendorong dua teman biadabnya itu supaya jatuh. Mungkin. Siapa tahu, kan?
Sayangnya, alih-alih mereka, malah dia yang jatuh.
BUGH! Tubuh itu berdebam cukup kencang. Bagaimana tidak, dia jatuh dari ketinggian setidaknya tiga meter. Parahnya lagi, dia jatuh di atas semen keras, bukan di atas tanah. Ya, sebenarnya tetap fatal sih. Sebab, dia jatuh dalam posisi terlentang, punggung dan kepalanya bagian belakang yang pertama membentur semen.
Dua anak yang masih di atas memekik tertahan.
Untuk pertama kalinya, berita duka dikabarkan melalui Toa masjid.
Kagetnya tidak terkira, semua warga.
Tinggalkan komentar