Lunarisla


Vacation

“Mary!”

Mary menoleh cepat sambil tersenyum lebar. Aku berusaha berlari mengejarnya, meskipun tahu tidak akan pernah bisa menangkapnya.

“Mary!”

Mary berlari lebih cepat. Jejak-jejak kakinya tecetak di atas pasir, sebelum kemudian tersapu ombak.

“MARY!”

Baru setelah aku berteriak tiga kali, Mary pun berhenti berlari. Akhirnya aku bisa menghampirinya, dengan kondisi hampir pingsan karena sekuat tenaga berusaha mengimbangi. Napasku benar-benar mau habis. Dada sebelah kiriku nyeri, satu tanganku memeganginya, sementara tangan yang lain bertumpu pada lutut.

Mary tersenyum melihatku yang hampir menjemput ajal ini. Kalau bukan pacar, sudah kumarahi dia karena membuatku hampir semaput. Tapi, kalau bukan pacar, ngapain juga aku mengejarnya?

Aku perlu 15 menit untuk kembali pada denyut nadi normal. Mary berjongkok menunggu, sambil menatap ke arah matahari terbenam.

Setelah sedikit lebih lega, aku kembali berdiri tegak. Kuulurkan tangan kepada Mary agar dia berdiri juga. Mary menyambut uluran tanganku. Tidak hanya berdiri, Mary sigap menyergapku ke dalam pelukannya. Jantungku yang baru saja santai kembali bergemuruh.

Lalu Mary mencium bibirku. Tanpa permisi, lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku, sehingga lidah kami berdua bersalaman. Kurasa perempuan ini memang senang membuatku bercumbu dengan maut. Jantungku mengamuk tidak karuan.

Setelah puas, Mary melepaskan diri begitu cepat. Aku tidak siap.

Tanpa peduli dengan keadaanku, Mary lanjut berlari, sambil tertawa dan berteriak—seperti sedang kerasukan Tuhan.

Aku sendiri langsung roboh. Kepalaku pusing, pandanganku mulai kabur, dan nyeri di dadaku jauh melebihi yang kurasakan tadi. Sayup suara tawa Mary yang semakin menjauh adalah hal terakhir yang kudengar sebelum akhirnya kesadaranku menguap.

Entah berapa lama aku pingsan.

Bangun-bangun aku sudah di ruang operasi. Aku tak bisa bicara, tak bisa bergerak, dan tak ingat dengan apa-apa kecuali Mary. Tapi tidak ada Mary. Ke mana Mary?

Mary!

Mary!

Mary!

Heee, bajingan. Ke mana kamu, sayang?

Aku pengin menangis, tapi ternyata tak bisa juga. Setan alas.

Dokter-dokter keparat itu mulai membelah rongga dadaku. Sakit sekali. Tunggu, kok ini sakit sekali? Apa aku tidak dibius?

Heee! Heee! Anjing. Kalian lupa membiusku, woy!

Tapi kalau aku tidak dibius, kenapa aku tidak bisa bergerak? Jangan-jangan biusnya tidak total. Jangan-jangan biusnya gagal. Lelucon macam apa ini, Tuhan? Tuhan keparat.

“Bagaimana dengan anakmu?”

“Ah, tak perlu lah membahas dia. Malu aku.”

“Jangan begitu dong. Aku tahu dia keterima di tiga kampus sekaligus.”

“Tak ada apa-apanya dibandingkan anakmu yang sudah doktor.”

Apa-apaan ini. Kenapa mereka malah mulai berbicara?

Hey! Apa kalian tidak akan mengecek anestesiku? Hey! Botak!

“Ayolah, aku hanya penasaran portofolio seperti apa yang dia kirimkan sampai bisa diperebutkan begitu.” Si botak tetap ngotot ingin tahu, rupanya.

“Biasa saja. Hanya tiga film pendek, empat film dokumenter, dan enam naskah yang belum sempat ia filmkan. Sebenarnya ada banyak penampilan teater yang ia sutradarai, aku sudah mendesaknya untuk mengirimkan itu juga, tapi dia menolak. Menurut dia itu tidak nyambung dengan jurusannya.”

“Omong kosong. Anakku waktu itu memasukkan semua sertifikat yang pernah ia dapatkan, tak peduli dari mana asalnya, atau apa jenisnya.”

“Benar sekali. Begitulah anak zaman sekarang. Tidak menurut. Maunya membangkang terus pada orang tua.”

Sempat-sempatnya mereka mengobrol saat sedang membelek dadaku! Dokter gadungan! Untuk sesaat rasa kesalku melampaui rasa sakit yang kurasakan di dada.

Namun, begitu mereka mencopot jantungku dari rongga dada, lalu meletakkannya di atas baki…

“Ini sudah sangat parah. Kau yakin kita bisa memperbaikinya?” Teman si botak mulai menekuri rongga dadaku.

“Ya, coba saja lah. Kita kan hanya bekerja. Masalah berhasil atau tidak, itu urusan yang di atas.”

“Kepala rumah sakit maksudmu?”

“Nah, itu tahu.”

Lalu mereka berdua tertawa.

Bangsat! Aku ingin berontak. Ingin kutempeleng kepala si botak.

Hey, botak keparat! Yang benar kalau kerja!

Tunggu, mataku kan melotot, kenapa mereka tidak menghiraukan mataku yang melotot? Atau sebenarnya mataku menutup? Tapi kok aku bisa melihat mereka? Aku bisa melihat ruangan ini. Aku bisa melihat alat-alat. Aku bisa melihat siapa saja yang sedang mengerubungiku. Aku bahkan bisa melihat Mar—

Mary!

Oh, Tuhan… kau ke mana saja sih?

Mary tersenyum padaku dari ujung bed operasi. Mungkin ini klise, tapi memang betul, senyum orang yang kita sukai bisa membuat kita sejenak melupakan hal apapun yang sedang kita alami. Untuk beberapa saat aku lupa rasa sakit durjana yang sedang dihujamkan oleh para dokter itu. Aku sibuk terkesima melihat senyumnya Mary.

Mary, coba kau yang jadi dokter. Aku tak perlu dibius. Cukup melihat senyumanmu saja.

Aku ingin membalas senyuman Mary. Aku mencoba sekuat tenaga untuk tersenyum, tapi aku tidak tahu apakah aku benar-benar tersenyum atau tidak.

Bagaimana Mary bisa tiba-tiba berada di sini? Bukankah orang asing dilarang masuk? Tapi Mary bukan orang asing bagiku.

Segera setelah aku mempertanyakan keberadaan Mary, dia pun menghilang.

..

.

Aku merasakan kesedihan yang luar biasa, melumpuhkan semua saraf sakitku yang lain. Kehilangan Mary jauh lebih menyakitkan dibandingkan dibedah tanpa anestesi. Silakan, dokter-dokter, bedah saja seluruh tubuhku, aku tak peduli. Kalau perlu, mutilasi aku. Jadikan tubuhku kelinci percobaan. Aku tak peduli. Aku sudah tenggelam dalam rindu kepada Mary.

Aku tak peduli bahwa aku tak bisa mengeluarkan air mata, aku tak peduli bahwa suaraku tak keluar sedikit pun, aku tak peduli bahwa raut wajahku tak berubah, tapi ketahuilah, aku menangis. Seluruh jiwaku menangis. Tangisan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh Tuhan yang sama-sama sedang dilanda rindu.

Aku tak pernah merasa begini dekat dengan Sang Khaliq, dan semuanya terjadi dalam waktu singkat.

Tujuh tahun pengembaraanku, berkeliling dunia, mencari orang-orang tercerahkan, tak sebanding dengan sekelebat pertemuanku dengan Mary yang langsung membuatku rindu. Ribuan judul buku yang kubaca tak senilai dengan ciuman Mary yang membetot seluruh kesadaranku. Ratusan sesi meditasi kalah ampuh oleh satu pelukan Mary.

Tunggu, kenapa mendadak aku mengingat kembali hidupku?

Seluruh proses yang kulalui, dari lahir, tumbuh, menjalani masa remaja hanya bersama ayahku, masuk akademi tentara, drop out dari sana, lalu mengembara, setiap detail perjalananku seakan-akan terpampang sebagai kilas balik. Tapi bukan—hanya—mataku. Semua rasa, semua sensasi aroma, sentuhan, dan juga suara, semuanya kurasakan bersamaan. Sekian dekade aku hidup dimampatkan dalam jangka sepersekian detik.

Aku begitu penuh.

Samar-samar aku mendengar si botak dan temannya mulai panik.

Mamam!

Dengan perhidupan yang hampir tumpah, aku pun undur diri dari ruangan itu. Entah ke mana selanjutnya, aku tak begitu memikirkan. Perasaan yang sangat sulit dilukiskan.

Oh, Madu. Tahu-tahu Mary sudah menungguku. Transisinya ternyata tidak berlangsung begitu lama.

Aku berada di tepi pantai yang sama. Sepertinya inilah rumahku yang sebenar-benarnya.

Mary menoleh menyambutku, tersenyum, bahkan sampai giginya kelihatan. Aku yakin kali ini aku bisa membalas senyumnya. Aku ingin berlari menghambur ke dalam pelukannya, tapi aku sadar bahwa sekarang aku tak perlu lagi buru-buru. Ruang dan waktu sudah menjadi kawan. Aku hanya meneriakkan namanya.

“MARY!” Sepertinya suaraku bergema ke seluruh sudut alam semesta.

“Lama banget sih,” jawab Mary. Dan aku baru ingat, itulah pertama kali aku mendengar suaranya. Merdu melebihi semua lagu.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai