Fezka mencengkeram pundak ayahnya yang hendak melompat dari balkon di atap sebuah gedung.
“Kenapa Ayah mau meninggalkan saya?”
“Kalau begitu, kau mau ikut?”
Fezka melihat gairah membara di mata ayahnya. Seperti ketika dulu dia mengajaknya pergi ke kebun binatang.
“Bagaimana dengan Ibu?” Fezka sebelumnya tidak yakin, tapi akhirnya menyebutkan tentang ibunya.
Raut wajah sang ayah langsung berubah seketika. Tatapan matanya tak lagi mendarat di mata Fezka, melainkan jauh ke belakang, melampaui punggung Fezka, melampaui awan-awan di langit, melampaui segala sesuatu. Untuk sesaat, ia seperti tak ada di sana. Fezka ditinggal sendirian.
“Aku sangat merindukannya,” ujar sang ayah setelah cukup lama menghilang.
Fezka menelan ludah. Ia sebenarnya tidak begitu paham, tapi yang jelas, hubungan ayah dan ibunya mulai menjadi aneh setelah mereka pulang dari berlibur di salah satu pulau terpencil di kawasan timur.
Aneh yang dimaksud di sini adalah perilaku sang ayah yang tidak konsisten. Terkadang memuja sang ibu, tapi di lain waktu sama sekali mengabaikannya. Saat sedang mencuci piring atau menjemur pakaian, Fezka sampai bosan mendengarkan celotehan sang ayah mengenai kecantikan dan keluhuran budi ibunya di masa keduanya baru saja menikah dan punya anak. Dikatakan dengan lantang bahwa sang ibu adalah manusia sempurna, bahkan melebihi para nabi.
Namun, saat sedang menyuapi sang ibu, tak keluar satu patah kata pun dari mulut sang ayah. Jangankan mengajak berbicara, menatapnya pun enggan.
“Kalau kau masih ingin mencari jawaban, teruskan saja. Tapi aku sampai sini. Sudah.”
“Bukan itu. Saya hanya tidak mau kita berpisah selagi masih bisa bersama-sama.”
“Untuk apa? Toh, pada akhirnya manusia memang tercipta untuk saling meninggalkan satu sama lain.”
Ayahnya tahu cara paling ampuh untuk mengoyak luka Fezka, membuatnya tak berkutik.
“Jika tidak bisa hidup bersama-sama, maka pilihan yang tersisa adalah sama-sama mati. Paham kau?”
“Saya tidak bisa meninggalkan murid-murid saya.” Fezka membuat alasan seakan-akan dia benar-benar mempertimbangkan untuk melompat bersama ayahnya.
“Tidak perlu. Hubunganmu dengan mereka hanya sebatas buku-buku, bukan? Buku-buku bisa bertahan lama bila disimpan dengan baik.” Skak mat.
Sementara itu, di bawah sana, orang-orang semakin ramai berkumpul.
Sengatan sinar matahari pun semakin terik, tapi angin yang berhembus terasa begitu dingin. Tak ada sebutir pun peluh yang meleleh di wajah kedua ayah dan anak itu.
“Aku tak pernah mengatur-atur hidupmu dari dulu. Kenapa kau ingin mengaturku sekarang? Bukankah kebebasan selalu menjadi azaz di dalam keluarga kita?”
Fezka hampir terkekeh. Jika saja situasinya sedikit lebih santai, mereka pasti tertawa menanggapi kalimat terakhir sang ayah.
“Bukankah Ayah masih punya banyak hutang sama loper koran itu? Ayah tidak pernah membayar.”
“Kau hubungi loper koran itu sekarang juga. Potong leherku kalau dia bilang aku berhutang padanya.”
Skak mat lagi. Jalan buntu.
Sang ayah memang tidak pernah membayar koran karena si loper sendiri yang menggratiskannya. Dulu dia pernah ditolong saat istrinya hendak melahirkan. Fezka tahu apa yang dia ucapkan hanya basa-basi, sembari mencari cara lain untuk menggagalkan usaha bunuh diri konyol tapi serius ini. Konyol, karena ini sudah merupakan percobaan yang kelima kalinya. Serius, karena sang ayah memang tidak pernah main-main atau hanya cari perhatian. Di percobaan bunuh diri sebelumnya dia bahkan masuk fase koma selama dua minggu karena menenggak racun. Untung saja Fezka masih keburu menggebuk kepalanya ketika itu, sehingga racunnya tidak masuk seluruh dosis ke dalam tubuhnya.
“Ayah yakin mau meninggalkan turnamen badminton yang tak pernah Ayah lewatkan itu?”
“Aku sudah muak, Fez. Setelah sekian lama, aku mulai bisa mengetahui siapa yang akan keluar sebagai juara. Prediksiku sudah terlalu canggih. Menontonnya jadi tidak seru lagi.” Wajah sang ayah tampak sangat frustasi ketika mengucapkannya.
Tiba-tiba ponsel lipat Fezka bergetar. Fezka sekilas melihat siapa yang memanggil. Dahinya mengernyit kesal. “Sebentar, Yah. Boleh saya angkat ini dulu?”
Sang ayah mengangguk dan memberi isyarat dengan tangannya supaya Fezka leluasa menerima telepon itu.
“Ya, selamat siang.//Benar.//Kemarin sudah saya konsultasikan dengan Bu Menteri. Beliau tidak ada masalah.//Tidak. Tidak satu pun.//Butir mana yang Anda maksud?//Omong kosong. Kami sudah melakukan riset selama lima tahun secara serempak di seluruh pelosok negeri. Tim kami punya data. Anda punya apa untuk menentangnya?//Ya. Katakan itu pada atasan Anda.//Baik.//Ya, sama-sama.//Selamat siang.//” Fezka menyudahi panggilan teleponnya. “Dasar politikus bloon!” Fezka memaki pada udara.
“Revisi lagi?” Sang Ayah bertanya.
“Apakah masuk akal merevisi rancangan permen (peraturan menteri) yang sudah digodok selama lima tahun hanya karena kasus tunggal yang belum jelas juga juntrungannya? Dia hanya ingin cari muka saja. Saya sudah kenyang dengan manuver politik seperti ini, Yah.” Fezka mendengus kesal.
“Dia di pos mana sih?”
“Subdit[1].”
“Orang subdit saja kok belagu.”
“I know right! Maksud saya, tim kami sudah sejak awal menggagas rancangan ini, nah, dia baru sebulan ini tiba-tiba nongol kasih audit sana-sini, tapi hampir tidak pernah ke lapangan sekali pun.”
Sang ayah terkekeh. “Kau belum tahu saja orang-orang di parlemen, Fez. Their foolish moves creates a whole new level of ignorance and arrogance. It’s almost transcendental.”
“That’s why, saya nggak mau terlibat sampai di kubangan yang itu, Yah. Amit-amit.”
Sang ayah terkekeh lebih keras.
“Ah, benar juga. Bukannya Ayah masih punya tanggungan draft undang-undang euthanasia yang belum selesai?” Sebuah bola lampu tiba-tiba seperti menyembul di benak Fezka.
Sang ayah langsung salah tingkah.
Gotcha! Fezka bersorak dalam hati.
“Ekhm… urusan itu sudah kuserahkan sama teman dekatku. Aku kan sudah bikin landasan awalnya. Waktu itu kan aku semua yang urus. Sekarang giliran dia. Biar belajar juga dia.”
“Tapi tetap harus Ayah awasi, kan? Saya dengar dia baru kali ini masuk parlemen, masuknya langsung ke pusat pula. Anak baru begitu bakal habis jadi bahan perpeloncoan kalau tidak ada yang siap backing. You know it too well, Yah.”
Sang ayah semakin gusar.
“Saya yakin masih ada sekuens dia yang harus Ayah bimbing. Bukan begitu?” Fezka tersenyum.
“Aku menyesal membesarkanmu jadi anak yang teliti.” Sang ayah menggerutu.
Fezka mengulurkan tangan untuk membantu ayahnya turun dari balkon.
“Kalau aku harus menunggu sampai undang-undang itu efektif, nanti keburu mati kesal aku. Kau tidak tahu sih betapa alotnya pembahasan tentang hal sederhana ini. Meskipun mayoritas sudah oke-oke saja, tapi satu faksi ngeyel itu masih saja berpikir bahwa kematian bukan urusan privat.” Sang ayah lanjut menggerutu.
“Tapi kan lebih enak pakai suntik di rumah sakit, Yah. Bisa sambil baca novel. Kalau lompat begini, terlalu mengundang perhatian. Jangan-jangan Ayah memang pengen jadi beken, ya?”
“Omonganmu, Fez. Perlu kutata sepertinya mulutmu itu.”
Belum sempat Fezka membalas ucapan itu, sang ayah tiba-tiba roboh sambil memegangi dadanya di bagian kiri.
“Yah! Ayah!” Fezka menepuk-nepuk pipi sang ayah yang sedang meringis kesakitan.
Fezka berteriak menyuruh helikopter yang sedari tadi terbang siaga di dekat atap gedung itu untuk segera mendarat.
Napas ayahnya tampak sesak. Rona wajahnya mulai berubah menjadi sedikit berwarna biru.
Sialan. Ini serangan jantung.
Beberapa detik kemudian sang ayah sudah tak sadarkan diri. Fezka buru-buru mengecek denyut nadi di bagian leher. Henti jantung telah terjadi.
Fezka sigap melakukan CPR sambil berteriak pada kru helikopter. “Cepat! Siapkan bed-nya! Saya ikut naik. CPR ini tidak boleh berhenti.”
Ayahnya harus segera dibawa ke IGD.
Orang-orang di bawah gedung sudah merasa lega karena tadi melihat ketua DPR yang hendak bunuh diri itu sudah turun dari balkon dan tidak jadi melompat. Mereka tidak tahu bahwa kematian selalu suka main petak umpet.
[1] Sub direktorat, sub-organisasi dua tingkat di bawah kementerian.
Tinggalkan komentar