Lunarisla


Diam

Belasan tahun kita belajar di sekolah formal, hampir tidak ada yang mengajari kita untuk berdiam diri untuk diam itu sendiri. Kita biasanya disuruh diam saat sedang berdoa atau saat sedang mengheningkan cipta, dan—tentu saja—saat melaksanakan Ujian Akhir yang dianggap sakral itu. Tapi semua itu kan sebenarnya merupakan diam pada tataran teknis, bukan substansi.

Semakin ke sini, manusia dituntut untuk semakin aktif bergerak, semakin cepat. Pernahkah Anda meluangkan waktu beberapa saat untuk sekadar berusaha menyadari dengan sepenuh-penuhnya bahwa—misalnya—ada sekian liter udara yang melewati tenggorokan Anda setiap beberapa detik sekali? Pernahkah Anda membayangkan terkubur di bawah tanah sedalam hampir 2 meter tanpa bisa bergerak sedikit pun? Betapa pun kita jarang memikirkannya, tapi hal tersebut merupakan suatu keniscayaan yang akan kita alami.

Apakah kita pernah diajari untuk tenang dalam menghadapi hal paling pasti dalam hidup ini?

Jika tidak dilatih, kita akan terbiasa terburu-buru dalam segala sesuatu. Terburu-buru menaruh perasaan. Terburu-buru menyimpulkan. Dan mungkin yang paling parah adalah terburu-buru memutuskan hal-hal krusial di dalam hidup ini seperti pendidikan, mata pencaharian, dan ruang berbagi. Kita juga tidak dilatih untuk benar-benar memperbaiki kesalahan di masa lalu. Evaluasi yang dilakukan sering kali hanya bersifat teknis saja, tidak menyentuh akar permasalahan. Bahkan mungkin kebanyakan dari kita tidak pernah dilatih untuk menelusuri jejak keputusan-keputusan yang kita ambil sejak mulai menjadi dewasa. Jangankan itu, mungkin kita juga masih bingung sebenarnya sejak kapan kehidupan mulai memperlakukan kita sebagai orang dewasa? Apa pula kriterianya?

Manusia dipaksa untuk paralel dengan jalannya arus informasi dan teknologi. Cepat dan efisien. Kita dituntut untuk terus memproduksi, mengabaikan rahasia umum bahwa salah satu masalah dasar ekonomi kita adalah produksi yang berlebihan.

Planet ini telah menyediakan begitu banyak, tapi kenapa masih terasa kurang? Bukan Bumi yang terlalu lamban, tapi kita yang terlalu cepat berlari. Dalam proses berlari itu (entah menuju ke mana atau mengejar apa) kita melewatkan banyak sekali hal dan pelajaran berharga. Oleh karena itu, hal yang patut disarankan adalah mengurangi kecepatan. Tidak. Bahkan lebih dari itu: berhenti.

Cobalah berhenti.

Bukan hanya tubuh yang berhenti, tapi juga pikiran. Berhenti membayangkan masa depan. Berhenti merenungi masa lalu yang sudah terkunci. Berhenti melihat ke luar, atau ke dalam. Berhenti berharap. Berhenti menyesal. Berhenti mencari. Berhenti bersembunyi. Berhentilah sejenak.

Apakah ini yang dinamakan meditasi? Entahlah. Meditasi masih meminta Anda untuk mengamati, menjadi pengamat objektif yang tidak terlibat. Seperti menonton film. Ini hal yang perlu dilatih secara rutin agar terbiasa. Anda mungkin tidak punya waktu untuk itu.

Hal yang paling sulit dari berdiam diri adalah fakta bahwa kita masih memiliki kepentingan. Kita tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari kewajiban dan tuntutan yang kita bebankan kepada diri sendiri setiap hari.

Ada kerja yang harus dituntaskan. Ada buku yang harus dikhatamkan. Ada klien yang harus disenangkan. Ada orang tua yang harus dibanggakan. Ada teman yang harus dipedulikan. Dan tentu saja ada diri sendiri yang harus selalu dihibur supaya tetap waras.

Betapa berat beban hidup ini ketika Anda merasa menjadi pemiliknya. Ketika Anda merasa bertanggung jawab secara penuh. Padahal kita lahir ke dunia ini saja bukan keputusan mutlak yang kita buat sendiri.

Ada banyak hal yang sebenarnya betul-betul di luar kendali kita, bukan porsi kita untuk bertindak. Jangan sampai banjirnya informasi membuat kita merasa harus melakukan segala hal.

Jika kita tersandung, lalu jatuh tersungkur, jangan buru-buru bangun. Mungkin memang kita diminta untuk diam sejenak. Mungkin ada hal sangat penting yang kita lewatkan.

 

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai