Lunarisla


Mengejar Uang

Dulu saya sempat masih bingung mengenai apakah kita boleh bercita-cita menjadi orang kaya. Apa salahnya, kan? Yang penting harta kekayaan itu didapatkan dengan cara yang halal—meskipun mungkin kurang patut. Menjadi kaya tentu pernah, atau bahkan masih, menjadi impian banyak orang. Alasannya macam-macam, ada yang demi membahagiakan keluarga, ada juga yang ingin berbuat dermawan, dan mungkin ada juga yang terang-terangan ingin jadi kaya karena ingin hidup mewah penuh foya-foya. Sebenarnya, kebanyakan orang alasannya ya alasan yang terakhir itu, tapi malu-malu mengungkapkannya ke publik, jadi dibungkuslah dengan alasan sosial atau keagamaan.

Masyarakat mendefinisikan kekayaan dengan sangat sempit dan konkret: uang. Uang berarti daya beli. Di dunia kapitalistik, daya beli bisa diartikan sebagai kekuasaan. Keinginan untuk punya banyak uang sangat berkaitan dengan keinginan untuk berkuasa, suatu kehendak yang kata Nietzsche menjadi salah satu bahan bakar eksistensi seseorang. Masalahnya, tidak semua orang yang ingin punya banyak uang paham dengan bentuk sejati dari uang, bagaimana sejarah kemunculannya, dan apa saja dampak yang terkait dengan eksistensinya.

Ada kawan saya yang saat ini sedang menjadi pegawai honorer di suatu instansi pemerintahan, tapi dia bilang dia tidak ingin berkarir sebagai pegawai negeri. Dia ingin berwirausaha. Dia ingin menjadi orang kaya—kendati orang tuanya saat ini sudah kaya. Alasannya, kata dia, supaya dia bisa menolong orang-orang yang membutuhkan. Klasik. Saya yakin kita semua pernah berpikir seperti itu. Dia adalah salah satu kawan yang sangat dekat. Saya katakan, “Kalau kamu mau jadi kaya dari berwirausaha, kamu tetap harus mengerti seluk beluk makro ekonomi di negara ini. Kalau kamu berniat ingin jadi konglomerat yang menangani aset triliyunan, kamu harus paham sistem ekonomi global.” Mungkin saya berlebihan, tapi poin yang ingin saya sampaikan kepadanya adalah kesadaran akan nilai kekayaan. Boleh jadi kita menganggap suatu bisnis halal karena kita tidak tahu sistem yang bekerja di baliknya. Apakah benar-benar tanpa unsur-unsur yang dilarang agama seperti riba, penindasan, penggelembungan nilai aset, dan—yang utama—pengrusakan alam? MUI sebagai pemberi legitimasi halal-haram pun tidak peduli dengan urusan konglomerasi, mereka malah terkesan mendukungnya.

Saya mengambil perspektif dari segi agama karena pada saat yang bersamaan, kawan saya satu itu juga mengaku sedang mulai “hijrah”. Bagi saya, konglomerasi syari’ah tidak ada bedanya dengan konglomerasi berbasis keserakahan jika kegiatannya dijalankan tanpa pemahaman sistem ekonomi yang mapan. Konsekuensinya, jika Anda memahami bagaimana sistem kapital bekerja, niscaya akan ada pertentangan batin karena sistem tersebut banyak berbuat culas di sana-sini.

Di atas itu semua, uang itu apa, sih? Bagaimana mungkin selembar kertas bisa menjadi penentu hidup mati manusia melebihi kehidupan manusia itu sendiri? Uang bisa menerabas banyak sekat-sekat sosial, sekaligus membentuk sekat-sekat sosial baru yang lebih kokoh. Bagaimana bisa selembar atau beberapa lembar kertas yang sedikit dipercantik menentukan nilai keberhargaan diri Anda?

Semuanya bertumpu pada sistem perbankan. Bank yang menentukan nilai uang. Sedangkan bank itu sendiri terdiri atas orang-orang, bukan robot apalagi dewa. Bank-bank sentral di setiap negara menginduk bank sentral dunia. Pasar modal nantinya akan berkaitan dengan daya eksploitasi sumber daya alam dan pekerja. Uang adalah perpanjangan tangan globalisasi yang paling ganas sekaligus paling halus. Pada dasarnya, jika Anda menganggap uang adalah hal yang sangat penting, berarti Anda tengah secara suka rela menghambakan diri kepada segelintir orang yang menguasai segelintir orang yang menguasai segelintir orang yang menguasai sistem keuangan di negara dan di dunia. Padahal Anda dan mereka bahkan tidak saling kenal.

Bagi saya itu sudah termasuk musyrik. [Hehehehe…]

“Tapi kan, ingin membahagiakan keluarga dan ingin berbuat dermawan itu merupakan hal yang manusiawi. Apakah itu salah?”

Tidak salah, hanya saja, ketika Anda membahagiakan keluarga Anda dengan nilai artifisial dari uang dan membantu orang-orang miskin hanya sekadar dengan memberi mereka banyak uang, justru Anda sedang menjerumuskan mereka ke dalam sistem perbudakan yang saya jelaskan tadi.

Uang memang—terutama di kota-kota—bisa memampukan Anda untuk membeli barang-barang, dan barang-barang itu akan menjadi perantara kebahagiaan Anda dan keluarga, tapi apakah Anda benar baik-baik saja dengan kualitas kebahagiaan yang dipangkas sedemikian rupa? Coba pikir ulang, sejak awal, apakah Anda dan keluarga benar-benar membutuhkan barang-barang itu atau hanya termakan hasutan iklan? Adakah nilai-nilai abstrak yang terampas dengan kehadiran barang-barang tersebut? Jika Anda tidak jeli mempertahankannya, ikatan emosional antar anggota keluarga akan berubah menjadi ikatan materiil. Keluarga hanya akan menjadi terminal transkasi. Mungkin auranya tidak benar-benar ekstrim seperti ATM, tapi sedikit banyak mengarah ke situ.

Begitu juga dengan menolong orang-orang miskin. Apakah uang bisa menolong mereka? Bisa. Tapi sekaligus membuat mereka semakin miskin. Bayangkan simulasi ini: sebuah keluarga miskin yang tidak pernah minum sirup marjan saat berbuka puasa, suatu hari mendapat bantuan tunai berupa uang sekian ratus ribu. Mereka pun menggunakan uang ini untuk membeli barang-barang spesial Ramadhan yang mereka lihat di TV. Tahun depan, ketika keluarga ini bertemu dengan bulan Ramadhan lagi, mereka mungkin jadi butuh—dari yang sebelumnya tidak sama sekali—terhadap barang-barang produksi korporasi besar itu.

Memberi bantuan tunai memang cara yang paling mudah, sekaligus paling efektif untuk membuat Anda merasa sudah berbuat baik. Akan tetapi, kemiskinan yang sebenarnya mungkin saja tetap bertahan. Tidak hilang dengan hadirnya uang sesaat itu. Bisa jadi orang yang Anda tolong malah jadi ketergantungan dengan pertolongan Anda.

Jika kita betul-betul ingin menolong orang miskin, seharusnya kita mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan melalui transformasi cara berpikir, membuat mereka menjadi mandiri dan berkuasa atas diri sendiri. Bentuk konkretnya, pekerjakan mereka sambil berikan akses pendidikan selebar mungkin. Tapi itu jalan yang teramat sulit, dan tak mengundang decak kagum dengan segera.

Adapun untuk membahagiakan keluarga, cukup dengan kehadiran kita secara penuh dalam setiap kesempatan bertemu. Saya tidak mengharamkan membelikan ini-itu untuk keluarga tercinta. Tentu saja hal semacam itu adalah salah satu wujud rasa sayang. Namun, Anda tidak boleh lupa nilai-nilai yang lebih penting dari itu, yakni perhatian dalam bentuk kebersamaan yang setulus-tulusnya.

Jadi, pentingkah uang itu? Ya, tapi lebih penting lagi bagaimana cara mendapatkannya, dan bagaimana cara menggunakannya.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai