+Kamu Islam bukan, sih?
-Iya.
+Tapi kok suka membahas Tuhan secara bebas, kayak liberal saja?
-Iya.
+Jadi, kamu Islam liberal, ya?
-Bukan.
+Kamu setuju bahwa akal di atas wahyu?
-Tidak ada yang di atas atau di bawah.
+Kamu setuju dengan kebebasan penuh?
-Tidak.
+Kamu setuju kalau negara diatur oleh agama?
-Tidak.
+Jadi kamu tuh sebenarnya apa? Ideologimu apa? Kelompokmu apa?
-Apakah itu penting?
Dialog di atas hanya khayalan. Saya membayangkan ada orang yang cukup tak punya kerjaan dan penasaran tentang diri saya berdasarkan hal-hal yang saya tulis di media sosial. Namun, tidak menutup kemungkinan situasi di atas bisa terjadi betulan. Bisa juga terjadi pada Anda. Bagaimana Anda akan menanggapinya?
Saya beberapa kali mengalami perpindahan haluan berpikir, pernah menempatkan agama sangat tinggi, pernah mengidolakan sains, mengagumi filsafat, menggandrungi sejarah, hingga akhirnya lelah sendiri (di waktu yang terlalu dini), lalu memutuskan untuk tidak memberi label terhadap diri saya dengan apapun. Sekarang saya merasa nyaman dan aman untuk diri saya sendiri. Mungkin bisa dibilang pengecut karena tidak mengambil kubu, tapi saya tidak peduli. Saya sudah sangat muak dengan pengkotak-kotakan yang dibuat oleh manusia ini. Selain nama, semua jenis pemberian label lebih banyak menimbulkan kerugian dibandingkan manfaat.
Memberi label pada diri sendiri akan membatasi Anda dari kemungkinan-kemungkinan di luar label yang Anda sematkan. Misalnya Anda mengklaim diri sebagai orang kiri. Kalau sudah kiri garis keras, pokoknya penguasaan kapital itu salah melulu. Padahal banyak inovasi di dunia ini yang muncul dari keserakahan pribadi, meskipun pada akhirnya inovasi-inovasi itu juga memunculkan masalah baru—yang nantinya akan ditangani oleh solusi-solusi baru dari sistem pasar bebas tersebut. Pada akhirnya klaim seperti itu biasanya hanya muncul di media saja. Di kehidupan sehari-hari, kita akan memilih opsi yang paling mudah saja daripada yang ndakik-ndakik.
Memberi label pada orang lain juga bisa merugikan. Prasangka-prasangka di awal pertemuan bisa menyebabkan Anda menutup diri terhadap kemungkinan terbaik yang bisa saja sedang menanti Anda. Bisa menutup pintu rezeki. Ngeri sekali, kan? Misalnya Anda melihat seorang laki-laki dengan pakaian gamis panjang dan jenggot yang lebat. Apa yang langsung terbayang di benak Anda? Tunggu dulu sampai dia bicara. Setelah dia bicara, apakah kesannya berubah? Tunggu sampai Anda bisa berdiskusi dengannya. Tunggu sampai Anda bekerja sama dalam suatu hal.
Label yang dipakai seseorang tidak selalu sama dengan perilaku dasarnya. Orang yang sejak awal baik dan pengertian, tidak akan begitu saja berubah menjadi kasar dan tak acuh hanya karena menerapkan ideologi baru dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang sudah biasa melecehkan orang lain, mau pakai label apapun tetap akan menjadi orang brengsek. Merekalah yang biasa kita temukan sebagai orang-orang ekstrim yang mencoreng nama suatu ideologi.
Ideologi apapun kan sebenarnya sama saja, sama-sama berasal dari kepala manusia. Kenapa harus menjadi pembeda yang malah mengikis sisi kemanusiaan kita? Itu lah buruknya memberi label. Ideologi letaknya di pikiran, ia tidak selalu langsung terwujud menjadi perbuatan. Sementara setiap perbuatan manusia dipengaruhi oleh sangat banyak faktor yang bisa saja hasilnya berbeda jika ada perubahan pada faktor-faktor tersebut. Ada keterkaitan rumit yang menyebabkan kita tidak boleh menganggap suatu faktor sebagai penyebab tunggal suatu perbuatan, lalu membuat generalisir berbahaya berdasarkan anggapan ini.
Pemikiran di dalam kepala setiap orang adalah racikan khusus. Seseorang mungkin saja 50% islamis, 30% sosialis, dan 20% penyembah grup band dari Asia Timur. Bisa juga 70% kapitalis, 20% environmentalis, sisanya sebenarnya sudah kepingin mati saja. Menilai seseorang hanya dari satu corak pikirannya akan sangat mereduksi khazanah pikiran orang itu. Bisa saja dia punya ide yang sedang kita cari-cari. Ide yang hanya bisa muncul dari komposisi ideologi yang takarannya harus sedemikian rupa.
Apa yang tampak di luar mungkin hanya sekian persen dari seluruh pikiran sadar yang seseorang miliki. Pikiran sadar itu pun hanya sekian persen dari samudera kesadaran yang juga disunsun oleh alam bawah sadar. Alam bawah sadar yang mempengaruhi tindakan-tindakan intuitif yang bisa jadi terletak di persimpangan krusial dalam hidup. Alam bawah sadar yang mengatur pola hidup yang dilakukan sehari-hari. Sistem yang sebenarnya sangat menarik untuk diselami.
Selain itu, pikiran berubah lebih cepat daripada fisik. Hari ini nihilis, besok sore bisa tiba-tiba jatuh cinta lagi dan ingin membangun sekolah untuk anak-anak tuna rungu. Di era gegar informasi, perubahan pikiran seseorang mungkin sama tidak pastinya dengan perubahan cuaca yang terpengaruh perubahan iklim. Tidakkah Anda penasaran bagaimana seseorang dan diri Anda sendiri akan berkembang? Ke arah mana semua dialektika hidup ini akan membawa kita? Semua itu bisa kita nikmati tanpa perlu memberi label secara kaku pada apapun yang kita pikirkan dan kita lakukan. Hidup kan isinya cuma pengalaman demi pengalaman. Ya alami saja, tidak perlu berusaha untuk memastikan diri berada di suatu gerbong resmi. Tujuan kita sama, yakni saling memanfaatkan satu sama lain.
Tinggalkan komentar