
Setiap seribu tahun sekali, tanpa makhluk lain ketahui, Iblis dan Jibril selalu bertemu di batas horizon. Sebagai kawan lama yang terpisahkan oleh wilayah penugasan, mereka tetap menjaga tali silaturahmi di sela-sela kesibukan masing-masing.
Pada celah sempit perbatasan antara langit dan bumi, perbincangan tanpa perantara pun terlaksana. Jibril selalu memulai dengan satu kata yang sama, sebuah pertanyaan.
“Masih?”
Sambil agak kesal Iblis menjawab, “Menurutmu?”
Lalu keduanya menyulut dua linting ganja yang dibawa Jibril dari surga, menggunakan bara api yang dibawa Iblis dari neraka. Kepulan asap suci memenuhi seluruh dunia.
“Berabad-abad aku mengamati manusia, tak ada satu pun yang setolol kau dalam urusan ini,” ujar Jibril tanpa intonasi.
“Kenapa juga kau membandingkanku dengan makhluk rendahan seperti mereka?” Iblis menimpali. Agak terbawa emosi.
Jibril memicingkan mata.
Iblis gelagapan, “M-maksudku, mereka yang hidup sesingkat itu mana mungkin menyaingi aku yang tak terkekang waktu.”
“Benar juga. Kau kan tak bisa mati. Hoki banget hidupmu, ya.”
“Hoki dari Hongkong!”
Jibril tertawa terbahak-bahak, bara di lintingannya hampir saja jatuh.
“Makanya itu, Bodoh, kenapa dulu kau tidak menolak saja anugerah itu?”
“Anugerah pantatmu! Aku tak mau mendengar itu dari keparat tolol yang mau-maunya ribuan tahun jadi babysitter manusia.”
“Heh! Ini tugas paling mulia, tahu!” Jibril tak terima.
“Nah, begitu tuh, tambah kelihatan blo’on-nya. Cuma kau yang berpikir begitu, Pak. Coba tanya malaikat lain, mana ada yang mau mengemban tugasmu. Kau tidak ingat betapa semuanya merasa lega setelah ketahuan kau yang ditunjuk?”
Giliran Iblis tertawa terbahak-bahak.
Jibril hanya bisa cemberut. Semua sudah sama-sama tahu bahwa di balik embel-embel megah sebuah tugas, biasanya terdapat konsekuensi menyebalkan yang tidak dapat dihindari.
“Duh, Eva lagi apa ya? Apa kutelpon saja nih…?”
“Bacot, Jib!” ujar Iblis seraya menimpuk Jibril dengan segepok batu.
Jibril membiarkan batu itu mengenainya.
“Kau tidak akan pernah paham sakitnya menanggung beban rasa.”
Iblis terkenang masa itu, waktu pertama kali melihatnya, kilas peristiwa yang tak pernah dia sangka akan menjadi siksa.
Sesaat sebelum turun dari Surga dengan rasa kesal yang membuncah kepada Adam, Iblis melihat sosok pendamping yang diciptakan Tuhan. Jeda sepersejuta detik tidak kurang untuk membuat bayangan sosok itu terpatri dengan tegas di dalam benak Iblis. Rasa kesal sirna seketika, berganti gejolak baru yang tak diketahuinya.
Ketika pertama kali mengunjungi Iblis di Bumi, Jibril sempat khawatir karena sohibnya itu tampak seperti orang linglung.
“Kau baik-baik saja? Heh! Kau kenapa? Apa di sini seburuk itu?”
“Itu siapa?” Iblis berkata lirih.
“Apanya yang siapa? Lihat setan kau?”
“Goblok.”
Jibril lega. Kalau masih bisa misuh berarti tidak ada yang parah.
“Setelah aku pergi kan Dia bikin satu orang lagi—”
“Oh, Eva, maksudmu?”
“Eva?”
“Eva. Bojo-nya Adam.”
Iblis menggerutu dalam hati. Harusnya dia sudah tahu fakta sejelas itu, tapi tetap saja rasanya menyesakkan.
Jibril mengerutkan kening. “Kenapa memangnya? Kau naksir, ya? Hahahaha. Mana mung—”
Iblis diam saja. Wajahnya semakin gusar. Melihat itu, Jibril semakin mengerutkan kening. Sesaat kemudian pecah lah tawanya yang paling membahana.
“JADI KAU BENAR-BENAR NAKSIR?!” Jibril berteriak, setengah bertanya, setengah berseru. Bumi gempa 8 SR.
Sayang sekali wajah Iblis yang sudah merah membara tidak bisa lebih merah lagi.
Di pertemuan-pertemuan berikutnya Jibril masih saja kesulitan percaya pada apa yang ia lihat dan ketahui. Awalnya Jibril menganggap semua hanya gurauan saja, tapi begitu kejadian Adam & Eva diusir dari Surga, Jibril tahu bahwa urusan ini cukup serius.
“Kukira kau cuma benci sama Adam.”
“Ya memang. Aku benci dia. Tidak salah.”
“Iya, tapi ternyata kau juga cemburu.” Pffttt. Jibril mati-matian menahan tawa, ia memutuskan untuk bersimpati pada tragedi yang menimpa Iblis.
“Aku tidak masalah diusir dari Surga. Aku tidak masalah ketaatanku selama ini tidak dianggap sama sekali hanya karena sekali menyanggah. Aku tidak masalah digunjing oleh seluruh angkatan kita. Aku tidak peduli semua itu. Tapi kenapa Dia malah bikin kacau benak dan pikiranku?”
“Anak-anak ada yang berpihak padamu, kok. Siapa pun tahu seberapa besar ketekunanmu. Kau tidak perlu berkecil hati.”
“Justru aku berharap hatiku menyusut saja menjadi sekecil mungkin agar perasaan ini juga ikut berkurang.”
Jibril bisa melihat dengan jelas nestapa yang tergambar di wajah Iblis.
“Jadi, sekarang kau mau bagaimana? Dia sudah di Bumi tuh, dan saat ini dia sedang sendirian.”
Iblis tersenyum getir. “Ya, tak kusangka juga mereka diturunkan di tempat yang berbeda.”
“Kau mau menemuinya?”
Lama Iblis menimbang-nimbang. Dia bisa menyamar menjadi apa saja untuk kemudian menemui Eva yang masih merasa terpukul karena baru saja dimarahi oleh Tuhan. Dia bisa menemaninya untuk sementara. Dia bisa melindunginya… tapi dari siapa? Bukankah yang berbahaya adalah dirinya?
“Setidaknya aku akan memastikan dia baik-baik saja dan tidak kelaparan. Bumi tidak seperti Surga. Semuanya harus diusahakan dulu, baru bisa didapatkan. Itu pun belum tentu.”
***
Hari kematian Eva. Rasanya baru sekejap pujaan hatinya itu turun ke Bumi, tiba-tiba sudah naik kembali. Habis sudah kesempatan Iblis untuk sekadar mencuri pandang Eva yang sedang memarahi anak-anaknya. Atau Eva yang sedang memetik buah-buahan dari atas pohon, mengingatkan dia pada kasus di Surga. Atau Eva yang sedang ngambek setelah berdebat dengan suaminya. Semua ekspresi wajah jelmaan keindahan sempurna itu tak akan lagi bisa dilihatnya.
Iblis mendekam di dasar Bumi selama ribuan tahun, mulai meratapi nasibnya yang tak akan bisa segera mati. Apa yang harus ia lakukan untuk mengisi kehampaan yang menjelang?
“Sudahlah, kau fokus saja menyesatkan manusia,” ucap Jibril ketika mereka berkesempatan untuk bertemu lagi.
“Tak perlu kusesatkan pun mereka itu sudah bajingan, Pak. Usahaku tidak pernah signifikan dibandingkan dengan keserakahan yang mereka pelihara sendiri. Anak buahku sering merasa minder.”
Jibril menghela napas panjang.
“Apa kau tidak bisa minta supaya aku diberi mati saja, secepatnya?”
“Mana berani aku.”
“Tidak perlu ngomong ke Dia. Kau bujuk saja si Raphi supaya meniup terompetnya.”
“YEEEE. Itu mah mati semua. Aku juga kena.”
“Atau kau bilang saja sama Izra untuk menemuiku.” Iblis tersadar sesuatu. “Ah, dia selalu sibuk, ya?”
“Jendral-jendralmu memangnya tidak bisa kalau menggabungkan kekuatan mereka dan bersamaan menyerangmu?”
“Aku sudah pernah mencobanya. Nihil. Kekuatan kami tidak bisa menyerang satu sama lain. Memang cuma Raphi dan Izra yang bisa membunuhku.”
Suatu hari Jibril datang membawa sebuah kabar mengejutkan.
“Kau pasti tidak akan percaya.”
“Apapun yang kau bawa tidak akan membuatku terkejut.”
“TUHAN BILANG DIA MAU MENCABUT KUTUKANMU!” Jibril berseru heboh. Tentu saja dia senang jika sahabatnya bisa mendapatkan remisi.
Iblis memicingkan mata. “Apa syaratnya?”
Jibril diam saja.
“Apa syaratnya?”
Jibril masih diam.
“Selama syaratnya tidak konyol aku mau saja.”
“Katanya kau disuruh bersujud di depan kuburan—”
“Lupakan. Itu lebih konyol dari perihal naksir-naksiran yang absurd ini. Cih. Kukira Dia bisa bikin lelucon yang lebih bermutu.”
“Kenapa sih kau keras kepala sekali?”
“Jatuh cinta tidak membuatku lupa harga diri. Jika aku mengakui semua yang kutentang dulu, untuk apa aku bertahan dengan siksaan ini, selama ini, sampai gila rasanya.”
Bagi entitas yang bisa bertahan mencintai selama jutaan abad, sebenarnya tidak mengherankan jika pendiriannya sama kuat.
Bagi mereka yang dilanda cinta tak bertepi, waktu adalah neraka itu sendiri.
Tinggalkan komentar