Ia ingin bunuh diri.
Bukan karena hidup sudah tak punya arti, melainkan karena lelah yang ia rasakan sudah tak terperi.
Bosan. Sesak.
Bosan. Sesak.
Bosan. Sesak.
Hanya dua begundal itu yang datang silih berganti, gigih dan tak kenal lelah.
Menjelang ia melompat dari balkon lantai empat kamar kost-nya, sosok itu datang—membawa sebungkus martabak terang bulan.
Sosok itu adalah seseorang yang ia kenal dari komunitas pecinta burung elang.
Mereka pertama kali bertemu enam bulan lalu, pada acara kopi darat perdana.
Sejak itu, minimal sebulan sekali mereka bertemu—kadang di kafe, di kost-nya, di masjid, atau di gereja. Di mana saja, seketemunya.
Topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh: tentang hidup dan impian, atau bekas impian, tentang kegagalan, rasa pedih, hal-hal lucu pada nasib, kondisi dunia yang semakin tercerabut, dan tentu saja—tentang burung elang.
Semua terasa biasa saja. Sosok itu pun tampak biasa saja.
Namun, kalau dipikir-pikir, tidak demikian juga.
Sosok itu biasa sebagai pribadi, tapi ia ada.
Berbeda dari banyak orang lain yang hebat, tetapi tidak benar-benar hadir—kosong, hanya bungkus gemerlap dengan cap buatan pabrik bernama masyarakat.
Ia baru teringat bahwa malam ini seharusnya jadwal kongkow bulanan mereka.
“Kamu nggak akan bisa hentikan saya. Tekadku sudah bulat,” katanya dengan suara bergetar.
“Nggak apa-apa kalau kamu pengin mati,” jawab sosok itu tenang, “tapi setidaknya temani saya makan martabak dulu.”
Demi solidaritas komunitas pecinta elang, ia pun menunda rencananya untuk lompat.
“Kamu beneran udah mau balik?” tanya sosok itu sambil menjilat jari yang belepotan cokelat dan keju.
Ia hanya tertunduk, menahan gejolak di dada yang tak menentu—dan di perut yang berbunyi tak tahu malu.
“Tuh kan, kamu lapar. Makan dulu, ini.” Sosok itu menyodorkan sepotong martabak.
Ia menerimanya dengan ragu.
“Makan dulu sampai kenyang. Baru mati. Kalau kamu lapar, nanti gimana mau konsen pas jawab pertanyaan malaikat?”
Kakinya, yang semula bergetar hebat, perlahan menjadi lebih tenang.
Asupan glukosa dengan cepat menstabilkan tremor di tubuhnya.
“Kalau kamu memang mau balik, saya nggak bisa larang. Saya nggak berhak memaksamu untuk terus hidup, kalau memang mati adalah satu-satunya solusi. Saya nggak tahu persis apa yang kamu rasakan. Cuma kamu yang tahu. Cuma kamu yang bisa menentukan apa yang terbaik buat hidupmu sendiri.”
Kalimat itu tak terduga.
Batinya terkejut sekaligus terenyuh.
“Saya cuma mau kamu tahu,” lanjut sosok itu, “bahwa saya bakal menemanimu. Sampai tuntas. Saya akan pastikan itu. Setiap detik menjelang akhir hayatmu bakal saya temani—dengan fisik saya ini, juga batin saya ini. Semuanya bersama kamu, di sini, saat ini, hadir di sisimu. Semoga itu bisa mengurangi, barang secuil saja, rasa sepi yang kamu derita.”
“Kenapa?” ia bertanya lirih.
“Kenapa saya nggak nahan kamu? Ya, kalau kamu mati sekarang, sebentar lagi pun saya bakal nyusul. Semua orang juga bakal nyusul. Apa istimewanya bertahan hidup lebih lama, apalagi kalau itu menyakitkan? Ya, kan?”
Ia mengangguk.
Ada denyut kecil di dadanya—denyut yang belum sepenuhnya padam.
Perang batin telah usai.
Dan yang menang, ternyata, adalah martabak manis.
“Boleh minta lagi?”
Sosok itu tersenyum, lalu menyodorkan sepotong martabak kepadanya.
“Tapi kan,” ia berkata pelan, “kita beda server. Nanti bisa ketemu lagi, nggak?”
Tinggalkan komentar