Ya. Tidak salah baca: cinta.
Diri saya sendiri lumayan terkejut bahwa saya menulis sesuatu tentang hal satu ini. Bisa-bisanya. Pada aspek tertentu saya sudah benar-benar tidak peduli lagi. Sisa luka yang masih menganga, seperti baru tertoreh kemarin sore, membuat saya antipati dan tidak lagi bisa tergugah oleh kata-kata atau suguhan apapun yang berhubungan dengan cinta. It’s a past for me. Game over.
Semua itu porak poranda sore ini, ketika saya menonton episode terakhir dari suatu serial anime yang saya ikuti musim ini. Saya menangis dan tertawa sambil melantunkan berbagai sumpah serapah. Saya tidak akan banyak membahas tentang anime-nya, atau tentang definisi cinta versi a-z. Percuma.
Efek setelah selesai menonton itu menimbulkan ganjalan besar di benak saya yang cukup untuk menggerakkan sistem motorik saya dan memulai entri ini. Rasanya gatal sekali. Saya tahu perasaan seperti ini tidak akan bertahan lama. Di tengah garis waktu depresif 24/7, perasaan saat ini seperti oase. Ayo minum sejenak.
Momen sore ini berhasil mendaratkan saya kembali pada satu pemahaman dasar yang selama ini saya tolak mentah-mentah karena sudah kadung merasa sakit. “Semua orang butuh cinta.” Sesederhana itu.
Mari tidak membuatnya rumit. Tidak perlu melakukan sintesis berlapis-lapis hanya untuk mengetahui atau mengidentifikasi sesuatu sebagai cinta atau bukan. Tidak juga perlu repot-repot mencari inang atau destinasi dari cinta tersebut. Cukup akui saja, bahwa mencintai adalah satu-satunya napas yang bisa dihirup oleh jiwa manusia.
Bahwa kemudian cinta itu terkontaminasi oleh banyak hal, itu urusan lain. Yang obsesif, yang destruktif, yang posesif, atau sifat-sifat lainnya yang ditentang oleh akal sehat, itu urusan lain. Bahwa cinta bisa melahirkan kebencian… tentu saja bisa, mari akui saja. Bahwa dalam banyak kejadian cinta bisa menyebabkan orang tertindas bahkan mati terbunuh, tak perlu dipungkiri, memang begitu adanya. Dari awal memang seharusnya kita tidak menuntut cinta untuk menjadi baik (atau buruk). Cinta tidak pernah baik ataupun buruk, ia hanya indah.
Diputar-putar bagaimanapun, ia tetap cinta. Yang sesaat, yang berabad-abad, sama-sama cinta. Yang mutual maupun yang bertepuk sebelah tangan, tetap saja cinta. Yang nyata atau yang khayalan, tak mengurangi kadarnya bahwa itu cinta. Jauh atau pun dekat, besar maupun kecil, tulus atau bulus, itu tetap cinta. Ada yang romantik, ada yang platonik, ya cinta. Kepada manusia, kepada benda, kepada cita-cita, tetap saja… cinta.
Manusia hanya bisa mencintai dirinya yang sedang mencintai, tidak pada saat lainnya. Ini poin pentingnya. Di era ketika depresi sudah menjadi seperti tren, banyak sekali orang yang menyuruhmu untuk mencintai diri sendiri, tapi mereka tak menunjukkan caranya. Sekarang saya sudah menganggapnya jelas. Satunya-satunya jalan untuk mencintai diri sendiri adalah dengan cara jatuh cinta. Sampai mati. Semati-matinya.
Mari. Kalau masih belum jelas, akan coba saya uraikan sekali lagi. Yang penting bukanlah alasan, kemungkinan, atau bahkan tujuannya. Buang semua logika, buang semua prasangka, ancang-ancang atau apapun itu. Semua itu hanya bumbu penyedap rasa. Sejak mulai memiliki kesadaran di alam dunia ini, satu-satunya aktifitas yang dilakukan oleh seluruh umat manusia adalah mencintai.
Sederhananya, persis seperti makan. Apa kita pernah mempermasalahkan kenapa seseorang makan? Adakah orang yang tidak makan? Apa pernah kita secara sadar memilih-milih mana aktifitas makan yang karena lapar, karena ingin, atau sekadar formalitas? Tak tehitung jenis makanan yang ada di dunia ini, semua itu untuk satu aktifitas yang disebut makan.
Kenapa Anda makan? Lapar? Pingin? Atau penasaran? Atau kombinasi dari dua atau ketiganya sekaligus? Buang-buang waktu kalau selalu dipikirkan. Makan, ya makan.
Dalam mencintai, yang paling agung bukanlah diri kita sendiri atau pihak yang kita cintai, melainkan ya si cinta itu sendiri. Hah? Apa? Siapa? Halo, ada orang di sana?
Entri ini tidak mengubah apapun. Mungkin besok-besok, atau bahkan satu jam kemudian, saya akan kembali menyumpahi Tuhan karena kejutan-kejutan norak-Nya yang sama sekali tidak lucu. Saya akan tetap tidak terlalu menyukai dunia ini. Tetap ingin mati (who doesn’t, tho). Biasa saja. Biar. Namanya juga cinta.
🐋
Tinggalkan komentar