Lunarisla


Kuning

Pacarku namanya Kuning.

Kami mulai pacaran sejak SD, orang-orang tidak akan percaya. Tidak apa-apa. Toh, Kuning tidak peduli dengan orang-orang. Cuma denganku Kuning mau bertegur sapa.

Kami sebenarnya sudah kenal dari kecil, tapi baru bisa ngobrol satu sama lain ketika aku masuk SD. Waktu itu hari pertamaku sekolah. Biasanya anak-anak lain diantar oleh orang tuanya. Tidak denganku. Aku berangkat bersama kakakku yang sudah kelas 5.

Aku sempat masuk TK dulu, tapi cabut setelah semester pertama karena selalu dirundung oleh anak-anak lain hingga aku menangis. Di rumah aku dibilang cengeng oleh ayahku karena menangis. Kakak-kakakku tidak ada yang menangis begitu, bahkan malah mereka yang membuat anak lain menangis. Aku tidak peduli, pokoknya aku tidak mau masuk TK lagi.

Dari situ aku jadi sering bermain sendirian, di rumah atau di taman bermain, sendirian lebih baik. Dari situ aku sering bertemu Kuning. Dia juga selalu bermain sendirian. Tidak benar-benar sendirian sih. Kuning selalu ditemani oleh ibunya (atau kakaknya, kadang-kadang).

Kuning terkenal se-kompleks perumahan. Tidak ada yang tidak tahu Kuning, tapi kok dia tidak punya teman? Dulu aku sempat heran.

Di hari pertamaku berangkat sekolah, saat aku melewati rumahnya di ujung kompleks, Kuning memanggil namaku untuk pertama kalinya.

“Tomy…!” Kuning memanggil namaku sambil tersenyum lebar. Ibunya juga tersenyum kecil dan mengangguk.

Aku agak kaget dan seketika menoleh. Kulihat Kuning sedang makan disuapi oleh ibunya. Kakakku mendorong punggungku supaya berjalan lebih cepat.

Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa senyum Kuning pagi itu, dan serpihan nasi yang menempel di mulutnya.

Keesokan harinya Kuning menyapaku lagi. Besoknya lagi. Dan besoknya. Setiap hari.

Dua tahun kemudian, saat aku naik ke kelas 3 SD dan kakakku masuk SMP, baru aku bisa menanggapi sapaan Kuning dengan serius. Kakakku sekolah di SMP yang berbeda arah berangkatnya sehingga aku berangkat sendiri.

Aku berhenti ketika Kuning menyapaku dan tersenyum balik kepadanya, lalu melambaikan tangan. Pertama-tama aku masih belum berani menyapa balik dan menyebut namanya. Butuh waktu beberapa minggu untuk aku berani balik menyapa dengan menyebut namanya. Kadang jika aku terlambat dan berangkat sambil berlari, aku jadi lebih berani.

Ketika aku kelas 5, Kuning mulai masuk sekolah. Aku sempat pangling melihat Kuning pakai baju seragam. Rambutnya yang biasa terurai dikuncir lucu. Tapi tidak ada yang berubah dari caranya menyapa dan memanggil namaku. Tetap dengan senyum lebar seperti biasanya, hanya saja kali ini wajahnya belepotan oleh bedak, bukan nasi.

“Mau sekolah, ya…?” aku bertanya basa-basi.

“Iya, Kak Tomy…” ibunya yang menjawab.

Karena Kuning mulai sekolah, kadang kami tidak bertemu kalau aku telat berangkat dan Kuning sudah berangkat duluan.

***

Aku adalah anak bungsu. Mungkin pakemnya anak bungsu adalah menjadi anak yang paling dimanja. Tapi tidak akan begitu jika kau punya ayah seorang tentara dan empat kakak laki-laki dengan badan tinggi besar serta aktif olahraga.

Ibuku pernah bercerita bahwa ketika beliau hamil diriku, itu adalah harapan terakhirnya untuk mendapatkan anak perempuan. Ketika yang keluar ternyata lagi-lagi berbatang, ibuku tutup harapan. Pasrah saja.

Dari kecil aku sering sakit-sakitan, oleh karena itu tubuhku kecil dan kurus. Aku susah disuruh makan dan lebih senang menonton TV. Kakak-kakakku selalu main bola dengan anak-anak kompleks, tapi aku tidak tahu di mana asiknya mengejar benda bulat itu. Nonton TV jauh lebih seru, dan bisa terhindar dari cidera atau luka-luka tidak perlu.

Karena aku penyakitan, Ibu mencurahkan perhatian lebih kepadaku. Mungkin beliau merasa sedikit lega karena mengetahui aku tidak gemar berkelahi seperti kakak-kakakku. Tapi Ayah tidak suka.

Ayah benci laki-laki lemah. Menurutnya, laki-laki itu harus tahan banting dan pandai mempertahankan diri (berkelahi). Apapun keadaannya, laki-laki harus pandai bela diri. Oleh karena itu Ayah memaksaku masuk sekolah karate meski aku menangis tidak mau. Semakin aku menangis, semakin Ayah bernafsu menjebloskanku ke sekolah karate.

Ayah berpesan kepada pelatih karate untuk tidak segan-segan dalam melatihku supaya aku menjadi cowok kuat. Ibu sebenarnya keberatan, tapi beliau tak pernah berdaya melawan Ayah. Neraka pun dimulai sejak saat itu.

Saat aku masuk SMA neraka level 2 dimulai. Anak-anak Ayah yang lain menorehkan prestasi sekolah yang gemilang. Ada yang juara olimpiade sains (kakak pertama), ada juga yang juara lomba MTQ (kakak kedua), dan dua orang lagi masing-masing menjadi atlet karate dan atlet renang. Hanya aku yang tak pernah menonjol di bidang apa-apa. Setiap hari aku kenyang mendengar ayahku membanggakan kakak-kakakku dan menyuruhku untuk mengikuti jejak mereka.

Pernah karena saking muaknya mendengar Ayah membanding-bandingkanku dengan anaknya yang lain, aku walk out dari forum makan malam dan keluar dari rumah.

“Kamu itu sudah kurus kerempeng, nggak bisa apa-apa lagi. Mau jadi apa nanti kamu, hah?”

Perasaan kesal yang menumpuk membuatku tidak pikir-pikir berjalan ke arah mana. Sebelum sempat kusadari, aku sudah berdiri di depan pagar rumahnya Kuning. Beberapa menit aku hanya diam.

Saat aku hendak beranjak, muncul ibunya Kuning.

“Nak Tomy?”

“Malam, Tante.”

“Lagi jalan-jalan? Atau memang mau ke sini?”

Aku benar-benar bingung mau jawab apa.

“Mau masuk? Di dalem ada Della tuh lagi main. Tante mau ke warung dulu. Masuk aja, Nak Tomy.” Ibunya Kuning membuka pagar lebar-lebar, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu responku.

Meski canggung, aku melangkah juga ke dalam. Pintu depan terbuka.

Ini bukan pertama kalinya aku masuk ke rumahnya Kuning. Mungkin sudah ratusan atau ribuan kali. Aku sering datang mengambil pesanan kue kering ibuku yang dibuat oleh ibunya Kuning. Tapi ini pertama kalinya aku datang sekadar untuk main.

Seperti yang selalu terjadi…

“Tomy…!” suara Kuning langsung menyambutku begitu dia melihatku masuk.

Aku tersenyum dan melambaikan tangan. “Lagi apa Della?”

“Baabii…” katanya sambil mengacungkan boneka Barbie.

Aku duduk bersila di hadapan Kuning, dan dia melanjutkan drama balada boneka Barbie yang sedang ia sutradarai.

Aku memperhatikan dengan serius cerita yang sedang dituturkan Kuning. Selain karena kata-katanya masih belum 100% dapat kupahami, aku betul-betul menyukainya. Menurutku cerita yang dibuat Kuning sangat bagus. Otentik.

Beberapa saat kemudian ibunya Kuning kembali dari warung.

“Aduh, kenapa nggak duduk di kursi, Nak Tomy?”

“Nggak apa-apa, Tante. Hehehe…”

“Mau minum apa? Teh, mau?” Beliau bertanya sambil berjalan ke dapur.

“Makasih, Tante.”

“Gimana sekolahnya, Nak Tommy?” tanya ibunya Kuning sambil membuat teh.

Aku terdiam untuk beberapa saat. “Capek juga ya, sekolah.”

“Emang kalo nggak sekolah, Nak Tommy pengen ngapain?”

Aku termenung. Benar juga. Kalau suatu hari ayahku kesurupan ruh orang waras dan tiba-tiba memberiku kebebasan untuk melakukan apa yang kumau, memangnya aku mau apa.

“Belum tahu, Tante. Belum kepikiran.”

Aku memperhatikan Kuning yang masih asik menuturkan cerita untuk dirinya sendiri. Wajahnya sungguh serius. Untuk sekejap aku merasa iri kepadanya dalam hal kesungguhan itu.

Ibunya Kuning bergabung bersama kami setelah meletakkan teh di atas meja.

“Della sudah bisa sebut nama-nama planet lho, Kak Tommy.” katanya sambil mengusap kepala Kuning.

“Oh ya? Pinter Della…”

Aku sebenarnya ingin mengusap kepala Kuning juga, tapi… ya, tidak mungkin.

Tiba-tiba Kuning beranjak dan masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali dengan sebuah buku besar, seperti album. Dia membuka buku itu dan meletakkannya di hadapanku. Ternyata itu sebuah ensiklopedia.

Kuning menatapku, seperti menunggu. Aku melirik ibunya Kuning, dan beliau menunjuk ke arah buku itu dengan matanya. Oh, aku mengerti.

“Ini apa?” aku menunjuk gambar planet bercincin.

“Turnus…!”

Aku tersenyum. “Ini?” aku menunjuk planet di samping Saturnus.

“Ranus…!”

“Kalo ini?” aku menunjuk Bumi.

“Bumi…!”

Aku menunjuk semua gambar planet di situ, hinggi tersisa matahari.

“Pinter, Della. Terakhir nih. Kalo ini namanya apa?”

“Kuniiing…!”

Aku terkekeh. Ibunya juga.

“Ma-ta-ha-ri,” aku mengeja.

Kuning melongo.

“Ma-ta-ha-ri,” aku mencoba sekali lagi.

“Kuniiing…!” dia keukeuh.

“Tadi waktu di sekolah juga begitu,” ujar ibunya.

Aku menatap Kuning lekat-lekat. “Warnanya memang kuning. Tapi namanya bukan itu. Coba ikutin aku, yuk. Ma-…”

“Ma!”

“… ta-“

“Ta!”

“… ha-“

“Ha!”

“… -ri.”

“Ri!”

“Matahari.”

“Kuniiiiing…!”

Aku tersenyum. “Ya udah, terserah Della aja deh.”

“Tommyyyyy…!” Tiba-tiba Kuning menerjang dan memelukku.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai