Lunarisla


Thelia

Thelia,

Aku selalu mengingatmu. Bukan karena mau. Aku tidak berharap kau juga sedang mengingatku, tapi aku berani bertaruh. Beberapa malam yang kita habiskan di pulau itu akan terpatri seumur hidup. Sulit mencari pengalaman yang bisa menandingi nilai momen pada saat itu. Pertama kalinya aku merasa benar-benar menjadi manusia yang utuh, justru di saat segala sesuatu yang kumiliki sedang menghilang. Aku tahu kau juga merasa begitu, dan aku tak perlu bertanya. Senyum dan pancaran matamu saat kita berpisah mengatakan segalanya.

3 Juni 1996

Di tengah cuaca yang tidak menentu, penerbanganku menuju Havana, Kuba akhirnya diberangkatkan setelah mengalami penundaan selama lebih dari 2 jam. Aku setengah mengutuk, setengah bersyukur. Aku sebenarnya benci melakukan perjalanan bisnis memuakkan ini dan harus bertemu klien-klien merepotkan yang tak tahu diri. Seandainya bukan karena iming-iming libur sepekan setelahnya, aku tak akan sudi berangkat. Di jatah libur itulah aku berencana akan minggat ke Minneapolis dan mendekam di rumah bibiku tanpa ada yang bisa mengganggu. Aku sudah muak bernapas menghirup udara Seattle.

Sebenarnya kalau bukan untuk ketemu klien, aku bisa mati girang jika dikirim ke Kuba, Venezuela, atau tetangga-tetangganya. Well, mana ada sih kantor bodoh tapi baik hati yang mau mengirim karyawannya untuk liburan cuma-cuma? Cih, harapan yang sungguh tolol.

Tapi tidak setolol orang di bangku sebelahku yang masih asyik mengoceh di telepon genggamnya dengan suara keras, padahal pesawat sudah mau take-off. Petugas penerbangan sudah memberi peringatan untuk mematikan semua alat komunikasi, tapi cecunguk satu ini memang kulihat sedari tadi saat di ruang tunggu sedang melakukan panggilan telepon. Aku tidak bisa diam. Aku toel bahunya.

“Excuse me, Sir. Can you take off your phone, please? We’re going to take off.” (Wow, aneh juga kalimatku.)

Pria itu hanya menoleh sebentar ke arahku dan kembali sibuk berbicara.

Bajingan.

Aku hendak melapor kepada petugas penerbangan, tapi mereka ada di bagian depan kabin, jauh dari bangku tempatku duduk. Lagipula kami sudah diminta untuk mengencangkan sabuk pengaman.

Kuputuskan akan mengambil paksa telepon genggam pria itu jika dia belum juga berhenti saat pesawat mulai melaju.

Dia tepat berhenti saat pesawat mulai bergerak. Bajingan beruntung. Well, aku juga beruntung sih. Aku memang benci ada orang melanggar peraturan umum, tapi aku lebih tidak suka terlibat cekcok dengan siapapun. Kalau konteksnya bukan keamanan dan keselamatan, aku pun sebenarnya malas bertindak mengurusi orang tolol sepertinya.

Pria itu memelototiku. Seakan-akan berkata bahwa aku tak perlu mengajarinya aturan penerbangan.

Aku melotot balik. Mau apa kau?

Untung saja dia tidak bilang apa-apa.

***

Entah berapa lama aku terlelap, tapi aku terbangun karena guncangan yang cukup hebat. Aku melihat tanda kencangkan sabuk pengaman kembali menyala. Aku segera memasang sabuk pengamanku.

Pria menyebalkan di sampingku tadi tampak panik. Aku mengernyitkan dahi.

Ada apa?

“We are going to crush,” katanya tiba-tiba menyerocos tanpa kuminta.

“We—what?!”

Sebelum pria itu bilang apa-apa lagi, seorang petugas yang sedang berjalan dari depan ke belakang menyuruhku untuk segera mengenakan pelampung yang tersedia di bawah kursi.

Serius nih, pesawatku kecelakaan?! Sial betul.

Aku segera melakukan semua hal yang diinstruksikan petugas. Sepertinya pesawat mengalami kerusakan mesin karena tersambar petir. Apakah itu masuk akal? Mereka bilang pesawat harus mendarat darurat di atas laut.

Semua orang panik. Berisik. Apakah dengan panik begitu bisa menyemalatkan kalian dari kecelakaan? Aku nyinyir dalam hati. Pada situasi seperti ini seharusnya semua orang tenang agar instruksi prosedur pendaratan darurat dari petugas terdengar dengan jelas. Tapi aku naif jika berharap semua orang tetap tenang. Mungkin hanya orang yang sudah mati rasa sepertiku yang bisa terlihat santai saja.

Bukannya aku tidak takut mati sih, hanya saja aku sudah tidak terlalu peduli lagi. Daripada keberanian, ketenanganku ini lebih cocok disebut kepasrahan. Masa bodoh. Aku tidak punya apa-apa yang masih ingin kukejar, dan aku tidak punya apapun yang bisa menahanku untuk ingin tinggal. Siap tidak siap, kematian pasti datang. Kalau waktunya memang hari ini, so be it! Untuk sejenak aku berpikir bahwa diriku sedikit keren karena menjadi anomali di tengah orang-orang normal yang meratap ingin selamat itu. ‘Akhirnya, meskipun di akhir hayat, ada sesuatu yang bisa kubanggakan dari diriku yang kosong ini.’ pikirku.

Tepat di saat aku berpikir begitu, aku melihat seseorang di sisi kiri jendela pesawat yang sebaris denganku. Orang itu melihat ke luar pesawat. Dia diam. Tatapannya sayu, tapi ada sedikit kepuasan yang terpancar. Ia melihat keluar seolah-olah tak ada kaca jendela yang menghalangi. Wajahnya mengekspresikan ketidakpedulian yang sama denganku. Tidak. Dia bahkan lebih tak acuh lagi. Lihat itu, dia bahkan tidak mengenakan pelampung. Gaun merahnya seakan menegaskan bahwa dia siap mati dengan elegan.

Belum selesai aku terpesona oleh orang ini, petugas mengumumkan bahwa mereka akan segera membuka pintu darurat saat itu juga. Padahal kita masih beberapa ratus kaki di atas permukaan air. Ini sih namanya terjun bebas.

Petugas membuka pintu darurat. Udara seketika tersedot keluar. Petugas menginstruksikan untuk segera melompat kepada orang di bangku terdekat dengan pintu, tapi yang diperintah malah bergeming. Apa dia takut melompat dari ketinggian ini? Well, siapa juga yang berani sih.

Saat aku berpikir untuk mengambil kesempatan melompat duluan, aku baru ingat bahwa aku tidak bisa berenang.

Tiba-tiba gadis yang memakai gaun merah itu berdiri dari bangkunya, berjalan dengan tenang menuju pintu darurat, lalu melompat begitu saja. Petugas yang melihat tampak melongo.

“Is she not wearing her live vest?” teriak si petugas, entah bertanya kepada siapa.

“No.” jawabku, berteriak juga untuk menyaingi deru angin dan mesin pesawat. Lalu aku pun melompat keluar pesawat dari ketinggian (mungkin) sekitar 300 kaki.

Terimalah jasadku, wahai Raja Lautan!

***

Aku kira aku akan mati menyusulmu, Thelia, tapi rupanya kehidupan punya lelucon yang tidak akan pernah bisa kita mengerti.

Tepat setelah kita berdua melompat keluar, aku mendengar sebuah ledakan besar. Setelah beberapa detik kemudian jatuh ke badan air, aku baru bisa melihat ke atas dan menyaksikan pesawat itu jatuh menukik sebelum akhirnya meledak lagi tepat ketika masuk ke dalam laut. Kurasa sebagian ledakan terjadi di dalam air.

Aku hanya bisa berdecak menyaksikan ledakan itu. Itu pertama kalinya aku melihat ledakan sungguhan, biasanya hanya dari film-film. Ternyata memang seberisik itu, ya?

Hal selanjutnya yang langsung terpikirkan olehku adalah mencarimu. Pada saat itu aku belum tahu bahwa kau pandai berenang. Jadi awalnya kukira kau tenggelam. Aku sempat terpikir ingin mencarimu ke dalam air, tapi aku langsung teringat lagi bahwa aku tidak bisa berenang.

Pada saat itu aku berpikir, jangan-jangan keputusan yang kuambil saat melompat mengikutimu adalah salah besar karena akan membuat proses kematianku malah menjadi lama dan menyakitkan. Terombang-ambing di lautan antah berantah tanpa bisa apa-apa dan bekal apa-apa. Kemungkinan besar aku akan mati lemas. Bisa juga aku dimakan hiu. Pada saat itu aku agak membencimu karena memberiku inspirasi dadakan untuk melompat. Ternyata, seperti selalu, hidup memiliki lelucon yang tidak akan pernah bisa kita mengerti. Walaupun begitu, tertawa saja. Anggap lucu.

***

Setelah hampir dua hari terombang-ambing di laut lepas (aku memang pasrah saja), ombak akhirnya membawaku ke tepi pantai. Baru kali itu aku merasa bahwa diriku tidak sial-sial amat untuk mati pelan atau dimakan hiu. Yang lebih mengejutkan, samar-samar aku melihat sesosok tubuh dengan pakaian berwarna merah, sedang terdampar juga beberapa meter dari tempatku berada. Tidak salah lagi.

Apa dia masih hidup?

Karena lemas, aku hanya bisa merangkak. Aku merangkak dengan sisa tenaga yang kupunya. Setelah lima menit bersusah payah, akhirnya jelas juga. Ternyata memang gadis itu. Dari naik-turun dadanya sih dia masih hidup. Dia mungkin sedang tertidur.

“Hey! Hey!” aku mengguncang-guncang bahunya. Aku tahu tidak sopan membangunkan orang yang sedang tidur, tapi ini kan kondisi darurat.

Gadis itu membuka matanya dan terkejut melihatku. Lalu dia menyadari bahwa aku memakai pelampung.

“Did you swim all the way here?” tanyaku segera. Sepertinya tidak perlu basa-basi perkenalan segala macam. Kami sudah saling mengerti situasi yang terjadi.

Gadis itu mengangguk.

“How did you—. Did you swim too?”

“No. I—. The tide brought me here.”

Gadis itu tersenyum dan mengalihkan pandangannya dariku, kembali memejamkan mata.

Aku memutuskan tidur juga di sampingnya. Aku baru benar-benar menyadari bahwa aku amat sangat kelalahan, dan pusing.

“I just came. I mean, here. And then I see you, and I remember your dress.”

“I swim and arrive at this beach about three hours after the crush.”

Damn! Coba saja aku bisa berenang.

Aku ingin lanjut bertanya kenapa dia melompat, tapi mataku terlalu mengantuk. Aku pun tertidur dan lupa mengantisipasi masalah lainnya: aku sangat lapar.

***

Perutku yang tertahan tuntutannya karena lelah segera mengakomodir aroma makanan yang menempel di hidung. Aku pun seketika terbangun. Hal selanjutnya adalah aku mendengar percikan bara api.

Aku berusaha duduk meskipun rasanya lemas sekali.

Beberapa meter dariku, kutemukan gadis itu sedang membakar ikan di atas api unggun. Bagaimana dia membuat api itu?

“You wake up? Drink first.” Gadis itu menunjuk ke arahku.

Aku baru sadar di sampingku ada buah kelapa yang sudah terbelah. Aku segera meminum airnya karena memang benar-benar haus. Tak pernah sehaus ini.

Setelah dahagaku sedikit terjawab, barulah kemudian aku kembali bertanya-tanya, bagaimana gadis dengan gaun merah ini mendapatkan buah kelapa dan (terlebih) membelahnya? Aku memang melihat ada beberapa pohon kelapa di pantai ini. Apakah dia memanjatnya?

“Do you like fish?”

Aku menatap beberapa tusuk ikan bakar di sekeliling api unggun.

Bagaimana dia mendapatkan ikan itu? Sebagai orang urban yang hidupnya sudah hampir 100% dimanjakan oleh barang dan jasa peradaban modern, aku merasa jadi orang primitif di alam bebas. Dan gadis ini tampak 100% lebih canggih dariku.

“I came here two days ago. This is uninhabited island.”

“I thought you just came too. Why did you sleep here, close to the seafront?”

“I don’t know. I just want to. It’s good that you could find me while I am here. What if you came here while I am at my tent?”

She. Made. A tent? Apa dia ini sempat jadi anak pramuka?

“I thought there’s no one survived. I hear the blast right after I jump.”

“Well, I jump right after you jump. I thought you were drown. Since you don’t wear any live vest.”

“Is there someone jump after you?”

“I don’t know. But it exploded exactly after I jump. I don’t even hit the water yet.”

Hening beberapa saat. Aku tahu dia memikirkan kemungkinan apakah ada orang lain yang selamat selain kami berdua. Aku pun berpikir demikian.

“You can eat the coconut flesh, it’s good too, or do you want the fish?”

Aku bergerak ke arah api unggun. Dia menyerahkan setusuk ikan bakar. Aku tidak yakin bisa memakannya, tapi karena sedang sangat lapar, aku langsung mengarahkannya ke mulutku—

“DAMN! IT’S HOT!”

—dan segera menariknya kembali.

Gadis itu tertawa melihat kekonyolan yang kulakukan.

Tentu saja masih panas, dasar orang udik! Aku memaki diri sendiri.

“Be careful.” ujarnya setelah selesai tertawa (sekitar 3 menit).

***

Kalau tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan tetap mati meski selamat dari gempuran ombak laut. Aku hampir tidak percaya bahwa kau benar-benar pernah ikut pramuka. Mulai saat itu aku bertekad untuk tidak menganggap remeh gerakan kepanduan.

Kurasa itu pertama kalinya lagi, setelah sekian lama, aku melihat orang tertawa dengan lepas dan jujur. Kau tidak tahu betapa senangnya aku mendengar suara tertawamu, Thelia, itu seakan-akan mengisi kekosongan batin yang sudah kubiarkan kering entah sejak kapan. Perut dan hati terisi, aku tidak ingat kapan terakhir kali merasa sehidup itu, padahal aku baru saja sekarat.

Hari-hari dan malam-malam selanjutnya sangat menyenangkan. Kau mengajariku menjadi manusia kembali, yang tidak kikuk berhadapan dengan alam. Kurasa kita masih harus tanding ulang soal siapa yang paling cepat mengupas kelapa. Waktu itu aku masih pemula, sekarang aku yakin bisa mengalahkanmu.

Kau selalu menyimpan kejutan. Atau mungkin aku yang terlalu naif.

Aku terkecoh. Karena kagum dengan ketangkasanmu dalam bertahan hidup, aku lupa bahwa kau juga menatap dunia dengan tatapan kosong sepertiku. Aku baru menyadarinya kembali ketika melihat luka-luka di sekujur tubuhmu saat kita bertelanjang ria sambil memandangi bulan purnama di malam kelima.

***

Thelia bercerita bahwa waktu kecil dulu, kadang-kadang saat bulan purnama ia mengikuti semacam ritual di kampung halamannya, yakni menceburkan diri ke air laut tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh. Kemudian mereka akan berdoa beberapa saat, lalu kembali ke daratan.

Malam itu bulan purnama tampak lebih cerah. Atau mungkin aku saja yang sudah terlalu lama tinggal di kota yang dipenuhi polusi cahaya, sehingga hampir tidak pernah melihat bulan seterang itu.

Pasir pantai yang berwarna putih seperti menjadi cermin untuk cahaya bulan. Sesekali ombak menimpa pelan, suaranya pun terdengar lebih sopan, hampir seperti berbisik.

“This is the first time I’m being naked in front of anyone.”

Thelia tersenyum. “It’s quite cold. Better wear your clothes again.”

“No. I want to be good at this, like you. What should we call this? ‘Moon bathing’?”

Thelia tertawa. “You always come up with good words.”

“Well, thanks to my job.” aku terkekeh kecil. Sungguh kalimat yang aneh keluar dari aku yang selalu mengeluh 24/7 tentang pekerjaanku.

“It should be nice to have a good job. And a good life.”

***

Malam itu, luka-luka di sekujur tubuhmu berbicara mengiringi cerita yang kau tuturkan.

Thelia, aku belum pernah mendengar cerita mengerikan seperti yang kau alami. Dan aku yakin banyak wanita di dunia ini mengalami hal serupa. Setelah mendengar ceritamu, sebagai laki-laki aku merasa sangat payah. Kesulitan yang kualami seakan-akan hanya tahi kucing dibandingkan dengan masalah dan orang-orang keji yang harus kau hadapi.

Pada saat itu sebenarnya aku ingin sekali memelukmu, tapi aku takut kau mungkin saja salah mengartikannya sebagai hasrat seksual, padahal aku benar-benar ingin memelukmu karena rasa simpati, sebagai sesama manusia. Menyesakkan rasanya hanya bisa melihatmu menangis. Aku bahkan tak berani mengusap air matamu, karena khawatir hal itu akan membangkitkan trauma. Jika mengetahui ceritamu dari awal, aku pasti tidak akan dengan bodohnya ikut-ikutan melepas seluruh pakaianku.

Pada saat itu aku agak benci pada kenyataan bahwa aku terlahir sebagai laki-laki dan mempunyai seonggok penis merepotkan ini.

***

“Well, my life isn’t really that shitty compared to yours, but it’s not a good life either.”

“What happened to you?” Thelia mulai menyeka air matanya.

“Nothing. That’s exactly what’s going on. I do nothing except working to keep my stomach fed. I don’t have any hobby. I don’t have friend nor enemy. I don’t have any goal in life. Most of the time I don’t really consider my self as a functional human being anymore. I’ve lost my interest in almost everything I used to love. I can’t feel a thing. I never really enjoyed my life or this world anymore. I’ve been so tired of hating my self that I become numb. And now I don’t really care about everything. It’s like I am already gone as a person. I am just a mob.”

Thelia menatapku lekat-lekat. “I never imagine to live like that.”

“Same here, Miss. I never imagine such filthy people in your story really exist in real world.” Aku tersenyum kecut.

“Since when you feel that way?”

“Maybe it’s been seven years or so.”

“How was you before that?”

“A lot more stupid. But, at least I am still me. I guess. I don’t really remember. I forgot almost every details in my ‘previous’ life.”

“How that happened?”

“I lose. I lost all my bet in a ruthless game.”

Thelia tampak masih ragu dengan apa yang kumaksud.

“Uh, okay. I’m dumped. It’s not too different story from yours. She cheated on me, and then she left. I know she cheated on me almost a year after we broke up. She told me that she just need time to be alone. So, I spent that one year, thinking and hoping that she still think about me, that I still stand a chance. I am waiting for her like an idiot.”

“Who then told you the truth?”

“She told me herself. Isn’t that amazing?”

“Wow.”

“Yeah, woman can be cruel too.”

“I thought my father was the cruelest person.”

“Nah, world is full of those kind of people, Miss. And love just make it worse.”

“Is God cruel too?”

“The Mighty Cruel.”

Thelia tersenyum tipis. “Your words again.”

“It’s just something we can’t escape.”

“But, I think nature isn’t cruel. We human make ourself too comfortable with everything we made, and then we forget how to connect with what we come from. We exploit nature, but we don’t speak the language. We don’t talk. We don’t listen anymore. We just PUNCH.” Thelia mengepalkan tangannya dan meninju udara.

“Such a saying. Is that for me?”

Thelia terkekeh. “No. It’s for everyone.”

Aku tidak pernah merasa sesantai dan selepas ini. Rasanya bisa kuceritakan apapun kepada orang di sampingku ini. Aku tidak peduli jika tidak ada yang akan datang untuk menyelamatkan kami. Aku tidak peduli jika besok hari kiamat. Momen ini sangat menyenangkan dan akan kuhargai sebaik mungkin.

“Hey?”

Mungkin Thelia mengira aku tertidur.

“Yes?”

“May I hug you?”

***

Aku berharap kau baik-baik saja, Thelia. Di mana pun kau berada, semoga ketegaranmu tetap menyala. Dunia ini boleh kejam, dan orang-orangnya biadab, tapi manusia seperti kita punya cara tersendiri untuk mengetahui bahwa kematian yang baik hanya akan menjemput mereka yang bertaruh seluruh nyawanya.

Perjudian ini belum selesai. Mari lempar dadunya. Mari mati dengan cara yang elegan.

 

Lhasa,

2006

P.S.: kalau kau sudah mati, kuharap bisa sempat nyekar ke kuburanmu. Tunggu, aku tak pernah tahu kau ingin dimakamkan dengan cara apa. Sial. -_-

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai